Thursday, May 25, 2017

Tomistoma Survey: Menyusuri Kapuas dan Leboyan

Danau Sentarum, adalah salah satu taman nasional Indonesia yang berlokasi di daerah perhuluan Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Pertama kali saya melihat secara langsung salah satu danau terunik di dunia ini sekitar November 2015. Saat melihat secara langsung tersebut, terbersit cita-cita di benak saya untuk mengunjunginya. Allah Sang Maha Pendengar mengabulkan cita-cita saya tersebut, tidak berapa lama selang dari terbang di atas danau, saya berkesempatan membelah air danau sentarum dari atas speedboat bertenaga 30 pk. Berikut adalah cerita perjalanan tersebut.

bukit tekenang
Pemandangan Danau Sentarum dari Bukit Tekenang
Perjalanan dimulai dari Pontianak dengan anggota terdiri dari Imanul Huda, Hari Prayogo dan Janiarto Paradise. Kami berkumpul di pool Damri Pontianak. Seperti jadwal biasanya, bus berangkat pada pukul 19.00 menuju Sintang. Perjalanan malam hanya menyajikan pemandangan gelapnya tepian jalan yang hanya kadang-kadang berhias lampu rumah masyarakat. Sisanya hanya semak-semak hitam atau perkebunan sawit. Lain dari itu, tidak banyak yang bisa diceritakan.

Keesokan harinya, 4 Januari 2016, Pukul 05.30 kami sampai di Pool Damri Bundaran Tugu Bank Indonesia, Sintang. Taksi yang akan mengantar kami ke tempat tujuan telah datang tidak terlau lama setelah bus sampai. Setelah menumpang shalat di salah satu masjid besar di Sintang perjalanan kami lanjutkan menuju kecamatan Semitau. Untuk menuju Semitau dari Sintang, kami harus melewati Jalan Raya Sintang – Putussibau, jalan yang berkelok-kelok dan naik turun hingga perbatasan dengan Kabupaten Kapuas Hulu berhasil membuat jackpot perut saya. Namun jackpot kali ini rasanya belum setengah dari yang saya alami dalam perjalanan Bogor-Tasikmalaya.
Memasuki wilayah Kapuas Hulu, jalan yang kami lewati dikenal sebagai jalan Lintas Selatan. Mobil berbelok ke kiri di simpang jalan Sejiram. Dari Simpang Sejiram hingga menjelang Semitau, kondisi jalan akses tidak begitu baik. Sebagian besar masih tanah merah bergelombang. Untungnya saya bisa tidur, sehingga jackpot bisa dihindari.

Sampai di Pasar Semitau 08.30 kami langsung sarapan pagi di salah satu warung kopi. Setelah sarapan, saya menyempatkan diri untuk membeli beberapa perlengkapan memancing. Berhubung harga joran yang relatif mahal dan tidak terjangkau oleh saya, saya hanya membeli satu gulung benang dan beberapa buah mata kail serta umpan buatan.
Sekitar pukul 9 perjalanan kemudian dilanjutkan ke menuju kantor seksi Balai Taman Nasional Danau Sentarum (BTNDS). Sampai di Kantor Seksi BTNDS, kami beristirahat untuk membersihkan diri dan bersiap untuk belanja. Di kantor seksi Semitau, anggota tim bertambah dengan kedatangan Jefri Irwanto yang akan berperan sebagai driver speedboat dan asisten lapangan. Bang Jefri adalah staff Balai Taman Nasional Danau Sentarum. Sebagai staff lapangan Balai TNDS, Bang Jef sangat menguasai kondisi medan Danau Sentarum. Pada tahun 2004, Bang Jefri pernah menjadi anggota tim survei Tomistoma yang melibatkan PRCF Indonesia, Balai TNDS dan The National Geographic Society.

Pukul 10.30, matahari semakin tinggi, kami berangkat menuju Pasar Semitau menggunakan speedboat untuk belanja persediaan makanan dan berbagai keperluan lainnya seperti baterai untuk penerangan dan obat-obatan. Kegiatan belanja memakan waktu hingga satu setengah jam. Matahari telah berada di puncak langit, kami makan siang di rumah makan Yanti. Pemilik rumah makan ini tampak sangat kenal dengan bang Jeff. Selesai makan dan barang-barang di kemas ke dalam speedboat, kami menuju salah satu masjid di tepian sungai kapuas untuk shalat zuhur.

semitau
Pemandangan Sungai Kapuas dari Ibukota Kecamatan Semitau
Setelah memastikan barang-barang telah dimuat ke dalam speedboat, sekitar pukul 13.30 mesin speedboat dinyalakan. Membelah permukaan Sungai Kapuas, speedboat yang ditumpangi empat orang anggota tim survei berangkat menuju Resort BTNDS Semangit di Desa Leboyan. Perjalanan melintasi Sungai Kapuas membuat saya merasa sangat exited. Jejeran pohon bungur dengan bunga merah muda keunguan menghiasi pinggiran sungai. Dosen saya di IPB pernah bercerita tentang pohon-pohon bungur di kota Pontianak. Dahulu pohon-pohon berbunga cantik tersebut adalah spesies asli dan dominan yang tumbuh di pinggiran pinggirang sungai Kapuas. Seiring dengan perkembangan kota dan dibangunnya kawasan pinggiran sungai menjadi kawasan pemukiman dan perdagangan, bungur semakin jarang ditemui. Namun, di hulu Kapuas, bungur menjadi sabuk hijau kawasan riparian sungai. Bunga-bunga merah muda keunguannya memberikan kontras yang cantik diantara hijaunya daun - daun.

Selain cantiknya bunga bungur, pinggiran sungai Kapuas yang kami lewati juga dihiasi putihnya bulu burung bangau. Mereka tampak hinggap di atas keramba, diatas pohon, atau diatas batang-batang kayu mati yang terdampar di pinggiran sungai. Sebagian langsung terbang berombongan saat kami melintas, sebagian lainnya hanya menatap kearah kami. Bagi saya yang tinggal di Pontianak, jauh dari bentang alam yang masih alami, melihat rombongan bangau putih adalah pengalaman yang luar biasa.
burung bangau
Rombongan Bangau di Tepian Sungai Kapuas (Oleh Imanul Huda)
Masyarakat pinggiran sungai Kapuas umumnya berprofesi sebagai nelayan, selain menangkap ikan, sebagian mereka membudidayakan ikan dengan keramba. Beberapa jenis ikan yang dibudidayakan oleh masyarakat pinggiran sungai Kapuas misalnya ikan toman,  jelawat, dan belida.

Memasuki kawasan TNDS, saya mulai bisa melihat pohon-pohon kayu yang bagian bawahnya terendam air. Pemandangan ini adalah pemandangan khas danau sentarum, pohon-pohon tersebut terendam pada musim hujan selama sembilan bulan setiap tahunnya. Pada musim kemarau selama kurang lebih tiga bulan, Danau Sentarum mengering hingga hanya menyisakan air pada aliran sungai-sungai yang yang lebih dalam. Kawasan danau menjadi sangat rentan terhadap kebakaran, tercatat telah beberapa kali Danau Sentarum mengalami kebakaran. Sampai saat ini kita masih bisa melihat sisa-sisa kebakaran yang terjadi beberapa tahun lalu berupa batang-batang pohon kering menghitam di sebagian area Danau Sentarum.

kebakaran hutan
Batang-batang Kayu Sisa Terbakar akibat Kebakaran hutan di Danau Sentarum
Perjalanan Semitau – Semangit Desa Leboyan membutuhkan waktu sekitar dua jam, tim sampai di Sampai di Resort TNDS Semangit pukul 15.30. Meskipun sepanjang perjalanan hanya duduk, tetap saja lelah mendera. Namun, sajian pemandangan dan lingkungan alami Danau Sentarum segera menjadi alat pelepas lelah. Kantor Resort Semangit TNDS berada dalam kawasan Danau Sentarum, dibangun di pinggiran sungai Leboyan diatas tanah yang senantiasa terendam air untuk beberapa bulan.

Sore itu, sambil waktu kami habiskan untuk menikmati pemandangan Bukit Semujan di arah selatan yang memamerkan tebing-tebingnya yang memanjang dari timur ke barat. Sementara langit semakin merah di barat, burung-burung ramai bernyanyi di pohon-pohon tinggi dibelakang kantor resor yang berwarna  hijau lumut kera. Rombongan Bekantan ikut meramaikan suasana sore itu dengan suara-suaranya yang nyaring, melompat dari satu dahan ke dahan lain. Cukup dekat untuk dilihat, namun telalu jauh untuk lensa kamera saya yang standar pabrikan, hanya menampakkan daun dan batang pohon yang semakin redup bersama tenggelamnya matahari.

bukit semujan
Bukit Semujan dari Kantor Resort Semangit, TNDS
Sebagaimana umumnya kegiatan lapangan di Indonesia bagian Kalimantan Barat, makan malam kami relatif sederhana. Berlauk mie instant dan sedikit potongan rendah serta ikan teri, kami makan dalam suasana khidmat. Antara terang dan remang lampu yang menggunakan mesin generator yang baru dihidupkan. Suara janggkrik semakin remai, sebagian warga dusun Semangit beristirahat di rumah masing-masing, sebagian kecil lainnya masih beraktifitas di atas keramba yang berisi ribuan ikan toman peliharaan mereka.
semangit
Desa Semangit dari Kantor Resort Semangit, TNDS
Pukul 19.00, kami mulai bersiap untuk spoting Senyulong di Sungai Leboyan. Persiapan memakan waktu 40 menit, pukul 19.40 kami berangkat menuju hulu sungai Leboyan setelah menjemput Pak Zulkarnain.  Pak Zulkarnain adalah warga Dusun Semangit yang menjadi salah satu staff kontrak Balai TNDS untuk menjadi tenaga lapangan di Resort Semangit. Pengetahuannya tentang kondisi lingkungan sekitar Leboyan menjadi alasan utama bang Jefri mengajak Pak Zulkarnain. Diatas speedboat, pak Zul juga menjadi navigator untuk bang Jefri, selain karena gelapnya sungai, navigator juga sangat dibutuhkan agar speedboat terhindar dari tabrakan dengan batang kayu besar yang tidak nampak oleh pengemudi.

Dari Semangit, kami langsung bergerak menyusuri sungai Leboyan ke arah hulu memasuki Desa Tempurau. Sungai yang berkelok-kelok menjadikan perjalanan ini menarik, walaupun tepian sungai hanya menampakkan pohon-pohon yang hitam. Sesekali saya dapat melihat burung hantu yang bertengger di atas kayu-kayu keramba masyarakat. Menjelang perbatasan Desa Tempurau dengan Desa Melembah , kecepatan speedboat diturunkan hingga kami berhenti di tepian sungai yang berbatas dengan area sawah. Desa Melembah berada di bagian hulu Sungai Leboyan dan berbatasan dengan desa Tempurau. Jika Desa Tempuran berada dalam wilayah TNDS, maka Desa Melembah berada di luar kawasan TNDS yang berbatasan langsung dengan kawasan.

Rute survei dimulai dari perbatasan Desa Tempurau dan Desa Melembah, lebar sungai pada area perbatasan ini lebih kurang 30 meter. Dari titik perbatasan desa, speed bergerak mengikuti aliran sungai tanpa menghidupkan mesin. Survei dilakukan dengan mengikuti aliran sungai dengan mesin speedboat yang tidak dinyalakan. Kecepatan arus sungai relatif tinggi, namun dibandingkan dengan perjalanan berangkat tentu jauh berbeda. Dengan mengikuti kecepatan arus sungai tersebut, saya harus berjuang keras melawan ngantuk. Meskipun mengantuk, saya tetap berusaha untuk tetap terjaga sambil terus mencari dengan mengarahkan sorot senter ke tepian sungai seperti yang dilakukan anggota tim yang lain. Hingga sampai ke desa Tempurau, tidak ada penampakan Buaya Senyulong yang kami dapati. Sambil berharap akan ada perjumpaan besok malam, mesin speedboat kembali dinyalakan dan kami melaju ke arah Semangit.

Sampai di kantor resor Semangit, kami segera mengambil tempat masing-masing untuk meluruskan badan. Diatas kasur yang lumayan empuk, kesadaran segera menguap meninggalkan suara burung dan serangga malam di atas air merah yang nampak hitam di malam kelam.
Bersambung.

2 comments:

  1. Masyaallah... burung bangaunye banyaaak. Semoge survey selanjutnye lancar ye da

    ReplyDelete