Friday, February 12, 2016

Ngetrack ke Riam Pelabuh Kuduk, Nanga Sangan, Kapuas Hulu


Ada banyak olahraga di dunia ini yang menurut saya keren, namun biasanya olahraga tersebut butuh biaya yang agak besar. Dua olahraga yang menurut saya sangat menarik adalah diving dan mountainbike, namun rasanya saat ini kantong belum mampu untuk mendukung kedua olahraga tersebut. Setelah cukup lama mondar-mandir surfing di internet, pilihan saya kembali ke olahraga yang sedari kecil menjadi olahraga favorit saya, lari alias jogging.
Baca juga:
Tracking dan Berinteraksi dengan Alam Bebas
Jogging, Walking dan Hunting di Kampus Biodiversitas
Jogging 31+ di Bumi Uncak Kapuas

Seorang dosen saya pernah bertanya kepada saya tentang olah raga apa yang sering saya lakukan. Sederhana saja jawaban saya, Jogging. Dan beliau berkomentar, itulah olahraga yang paling murah, tapi tetap menyehatkan. Namun murah tidak berarti gratis, karena tetap ada yang harus dibeli, yaitu sepatu. Untuk mendukung olah raga lari itu saya membeli satu sepatu running. Tentang sepatu lari ini akan saya ceritakan lain waktu, untuk sekarang saya ingin bercerita tentang hiking saya minggu lalu.

Membaca-baca artikel tentang trailrunning membangkitkan semangat saya untuk kembali ngetrack di alam bebas. Karena itu, saat sedang berada di desa minggu lalu, saya sempatkan untuk ngetrack ke hutan. Walaupun kondisi tubuh masih kurang fit sejak seminggu sebelumnya, saya kuatkan untuk ngtrack di wilayah perbukitan desa Nanga Sangan tempat saya berkegiatan. Kira-kira begini ceritanya.

Sejak menjelang tengah malam hujan deras mengguyur wilayah Kapuas Hulu, khususnya wilayah Desa Nanga Sangan tempat saya menginap. Saat menjelang tengah malam, suara petir yang menggelegar memaksa saya untuk sadar dari tidur. Suaranya seperti meriam raksasa yang disulut. Ternyata hujan tersebut tidak reda hingga pagi hari. Janji dengan Bapak Kepala Adat  (Bang Yan) untuk mendaki setelah sarapan pagi tidak dilanggar, karena hingga hampir pukul delapan saya belum sarapan, dan mandi. Pagi itu saya tetap tidur karena sepertinya cuaca tidak memungkinkan kami untuk berangkat, dan gaya gravitasi di sekitar kasur memang sedang tinggi-tingginya. Saya yakin gaya gravitasi tersebut dipengaruhi oleh tingginya curah hujan pagi itu.

Sepertinya Bang Yan sangat bersemangat sekali untuk menemani saya mengunjungi air terjun di kawasan perbukitan desa. Sekitar pukul 8 bang Yan datang dan menyampaikan bahwa beliau siap untuk menemani saya ngetrack walaupun gerimis masih saja turun. Menjelang pukul 9, hujan tanggung antara gerimis dan lebat masih enggan meninggalkan langit Nanga Sangan, keputusan sudah bulat, kami tetap berangkat. Saya, bang Yan dan pak Yaman yang sangat mengenal kawasan.

Karena hujan masih setia menemani kami, saya tidak berani mengeluarkan kamera untuk mengambil gambar. Dan medan awal yang kami lewati juga kurang eyecatching, jadi saya berjalan melewati jalur yang masyarakat sebut sebagai jalan tani. Jalan tanah merah selebar sekitar tiga meter yang sangat kohesif dengan telapak sepatu. Jalan tani adalah jalan yang dibangun sebagai proyek pemerintah dan seharusnya digunakan sebagai jalur transportasi pengangkutan hasil pertanian masyarakat yang berada di sekitar kaki bukit. Namun, karena kondisinya yang memang kurang memadai, jalan tersebut ditinggal masyarakat dan dipenuhi oleh semak-semak. Kami hanya sebentar melintasi jalan tersebut hingga kami melewati jalan setapak yang lebih sering digunakan masyarakat untuk menuju kawasan persawahan.
Baca juga:
Jenis-jenis Sepatu untuk Mendaki Gunung
10 Perlengkapan Utam Berkegiatan di Alam Bebas

Melewati jalan setapak ini, saya diperlihatkan kabel bekas instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang beroperasi dua tahun lalu di Nanga Sangan selama enam bulan. Yup, selama enam bulan masyarakat menikmati listrik dan setelah itu setiap malam kembali diterangi generator atau lilin. Karena kurangnya bekal masyarakat dalam hal perawatan dan adanya kesalahan teknis dalam pembangunannya, proyek tersebut tidak memberi manfaat yang panjang untuk masyarakat.

Tinggalkan kabel listrik, langkah kami berlanjut menapaki jalan yang terkadang becek dan memaksa kaki melangkah hingga ketepi jalan yang bersemak. Dua atau tiga kali kami harus menyebrangi sungai yang tidak terlalu dalam, namun memaksa saya untuk membuka sepatu agar tidak basah. Setelah sempat reda beberapa saat, gerimis mengundang kembali menyapa. Kamera masih senyap dalam tas selempang yang saya kenakan, hingga pada suatu tempat, pemandangan jeram kecil yang saya lihat membuat saya menyampingkan resiko kamera di belai air. Beberapa kali shoot tidak menghasilkan foto yang memuaskan karena air mengenai filter lensa, akhirnya saya masukkan kembali kamera ke tempatnya.


Beberapa menit meninggalkan jeram kecil tadi, kami sampai di kawasan persawahan masyarakat. Menurut bang Yan dan Pak Yaman, sawah yang kami lewati ini sudah dipanen padinya. Namun, berbeda dengan sawah seperti di Jawa, padi di Sangan ini bisa dipanen hingga tiga kali sebelum di tanam kembali.  Karena memang bulir padi masih bisa keluar dari tanamannya.

Dari kawasan persawahan ini kami dapat melihat rumah pengelolaan irigasi masyarakat. Terdapat dam kecil di dekat rumah tersebut yang mengatur aliran air. Namun, sayangnya saluran irigasi yang dibangun tersebut tampak sudah tidak terpakai juga. Dari dekat pintu irigasi tersebut kami mencari tanaman Bucephalandra yang menurut pak Yaman, dulunya banyak di sekitar tempat tersebut, namun tidak ada yang kami temui. Kami kemudian menyeberangi sungai berbatu besar, agak sulit awalnya, tapi bisa.

Diseberang sungai kami menemukan buah yang saya lupa namanya. Bentuknya seperti pepaya yang pendek,berwarna kuning. Daging buahnya seperti pepaya mengkal dengan rasa yang sangat asam, saya hanya menjamah permukaannya yang dibelah dan menyentuhkannya ke lidah. Memang masam, tapi rasanya tidak semasam belimbing wuluh. Saat sedang asik dengan buah yang masam tersebut, hujan deras kembali menyapa, kami putuskan kembali ke pintu air yang beratap yang barusan kami lewati. Hanya cukup untuk kami bertiga berdiri, daripada harus berlari ke pondok masyarakat di sawah dan basah, berdiri pun tidak masalah.

Sambil menunggu hujan reda, saya mengeluarkan biskuit dari dalam tas, namun tanpa sadar saya menjatuhkan topi rimba yang saya letakkan di atas tas dan basahlah dia di dalam saluran irigasi. Nampak sepele, padahal topi itu sangat penting saat kita sedang berkegiatan di alam bebas, terutama untuk berfoto... eh.

Sekitar tengah hari pukul 12 hujan agak reda, kami melanjutkan perjalanan. Jalur yang dilewati mulai menanjak 60 hingga 70 derajat. Langkah kaki saya menjadi sangat berat, istirahat menjadi sangat sering. Walaupun nafas rasanya masih sanggup, tapi saya khawatir jantung yang tidak kuat. Untungnya jalur yang benar-benar menanjak tersebut tidak terlalu panjang. Setelah lepas dari tanjakan, jalan masih sedikit naik turun, namun tidak terlalu ekstrim, bahkan nyaman untuk dilewati.

Beberapa pohon besar tumbang di beberapa titik, salah satunya menimpa jalan setapak yang kami lewati. Pohon tumbang tersebut membuat jalan menjadi agak kabur, untungnya Bang Yan dan Pak Yaman masih ingat dengan jalurnya, sehingga tidak terlalu sulit untuk menemukan jalurnya lagi. Salah satu hal yang sangat menarik bagi saya saat melintas jalan setapak ini adalah banyak sekali anggrek yang tumbuh. Termasuk di sekitar pohon yang ditebang tadi, bagian atasnya yang rimbun dengan anggrek ikut jatuh ke permukaan tanah.

Perjalanan berlanjut, selang sekitar setengah jam kami sampai di rumah tempat turbin PLTMH yang kami tuju. Kondisinya bangunannya masih tampak kuat, namun isinya sudah tidak karuan. Ini bisa dimaklumi karena sudah dua tahun rumah mesin pembangkit listrik ini tidak dirawat. Pembangkit listrik ini hanya berjalan selama enam bulan, hujan yang begitu deras telah menghancurkan mesinnya. Tidak jauh dari rumah turbin tersebut, ada sambungan pipa yang terbengkas.  Hanya sejenak kami singgah, perjalanan kami lanjutkan lagi, karena bagian utamanya harus di daki lagi. Kami berjalan di samping paralon dengan diameter sekitar 40 cm, kadang harus melipir ke tepi jeram, kadang berjalan meniti kayu diantara batu-batu besar.




Yang sangat unik bagi saya dari Riam Pelabuh Kuduk ini adalah airnya merah atau air gambut. Dari beberapa sungai yang pernah saya kunjungi di Kalimantan Barat, baru di tempat ini ada sungai arus deras berair gambut. Merah dari air gambut ini menambah menarik pemandangan di riam ini, arena air yang mengalir menunjukkan perpaduan antara gelembung air petih yang terjadi karena derasnya air dan warna merah dari airnya, seperti bisa anda lihat dalam gambar-gambar di bawah ini.










Puncak dari jeram adalah sebuah bendungan yang tidak terlalu besar namun cukup lebar, ternyata bendungan tersebut tidak terlalu jauh. Bendungan tersebut dibangun untuk mengalirkan air ke dalam pipa paralon yang berujung di rumah turbin. Di bagian puncak riam ini saya melihat berbagai jenis Nepenthes yang sangat menarik bagi saya, ada juga beberapa jenis tumbuhan dengan penampilan menarik yang potensial untuk dijadikan tanaman hias. Disisi hulu dari bendungan, air merah jadi tampak hitam karena dalamnya, menurut bang Yan dan Pak Yaman, di sungai tersebut banyak terdapat ikan lele hutan atau disebut sebagai Kelik. In sya Allah kali lain ke riam ini, saya akan usahakan untuk membawa pancing.



Puas melihat pemandangan dan mengambil beberapa gambar, kami turun melalui jalur yang sama dengan waktu yang lebih singkat. Sempat berhenti di kaki riam untuk mengambil beberapa gambar. Kemudian kami pulang dan sampai di kembali di desa sekitar pukul 17.

2 comments: