Tuesday, February 2, 2016

Joging 31+ di Bumi Uncak Kapuas

Rabu, 27 Januari 2016, saya resmi melewati masa 31 tahun usia hidup saya. Alhmdulillah masih di beri kesempatan untuk hidup. Pagi sekitar pukul 6 saya hari itu, dengan tekad yang sudah dibulatkan, walaupun kadang ada yang mengelupas dari bola semangat itu, saya tetap berusaha menambalnya agar tetap bulat. Dengan sepatu yang baru dibeli beberapa malam sebelumnya, (eaaa.... namanya sepatu ya seharusnya dipakai), saya melangkah keluar dari rukan yang menjadi tempat tinggal saya selama bertugas di bumi Uncak Kapuas.

Udara masih cukup dingin, suasana jalan masih sangat sepi. Hanya seorang ibu-ibu yang saya lihat berjalan sendiri tanpa alas kaki menuju jalan protokol. Saya sendiri melakukan peregangan di halaman masjid di depan gang. Setelah pemanasan singkat, jalan kaki menuju jalan protokol seperti yang dilakukan ibu-ibu tadi. Sampai di jalan utama tersebut, belok kiri menuju bundaran tugu Pancasila. Tugu Pancasila ini seperti mirip dengan tugu digulis di bundaran Universitas Tanjungpura Pontianak, bedanya, selain lebih kecil, tugu pancasila di Putussibau terdiri dari lima tianga bambu, tentu saja sesuai dengan namanya, Pancasila.

Mulai dari Tugu Pancasila, saya berlari santai dengan kecepatan rendah mengarah ke jembatan Kapuas. Suasana jalan masih tetap sepi. Senang sekali  rasanya, udara jadi benar-benar bersih. Selain kendaraan yang masih sangat sedikit, ruang terbuka hijau di kota yang tenang ini juga masih sangat banyak. Semakin dekat dengan jembatan kapuas hampir di depan sekolah Karya Budi, rasanya badan mulai kehabisan tenaga. Lari pun berganti dengan jalan kaki agak cepat. Akhirnya tanjakan jembatan nampak, senang sekali rasanya.

Ke arah hulu, pemandangan dari atas jembatan cukup dramatis. Hamparan rumput di tikungan sungai menghijau agak keemasan di timpa sinar matahari yang terbit. Kabut tipis menyelimuti permukaan sungai berair coklat. Konon katanya, dulunya sungai kapuas berair jernih, namun semua berubah sejak.... entah sejak kapan.

Menyusuri jembatan yang cukup lengang, terasa menenangkan, kita bisa jauh memandang. Meskipun sungainya tidak bening seperti pada masa lalu, namun tetap menghibur. Namun lagi, sayang disayang, saat saya melihat ke pipa-pipa yang berada di samping jembatan (diluar badan jalan), berbagai macam sampah berserakan. Pemandangan itu langsung mengingatkan saya pada jembatan-jembatan di kota hujan, dimana sungai menjadi tempat sampah yang sangat panjang. Saya sendiri mencoba untuk berprasangka baik dengan berpikir bahwa sampah tersebut mungkin sangkut saat air pasang sangat tinggi. Namun setelah saya perhatikan sekitar, sepertinya tidak mungkin air pasang bisa setinggi tempat dimana sampah-sampah itu berada. Semoga masyarakat sadar bahwa perbuatan itu sangat tidak benar dan semoga pemerintah dapat  menangani masalah sampah yang tentu saja akan merusaka pemandangan di kota Putussibau.

Kembali ke arah rukan tempat saya tinggal saya berjalan kaki, beberapa motor sudah cukup banyak berlalu lalang. Selain motor, ada yang menarik bagi saya pagi itu. Banyak sekali anak sekolah yang bersepeda menuju sekolahnya. Yang lebih menarik lagi adalah anak-anak tersebut tampak sangat religius, yang perempuan hampir semuanya tampak menggunakan jilbab, sedangkan laki-laki  menggunakan peci. Kalau nampak ada yang menggunakan rok pendek atau celana pendek, maka itu adalah siswa sekolah Kristen. Perjalanan dengan berjalan kaki serasa lebih singkat, waktu perjalanan tentu lebih panjang, namun karena tidak terlalu menguras tenaga, rasanya lebih santai. Total perjalanan tersebut memakan waktu sekitar satu jam.

Keesokan harinya saya menjalani trek yang sama dengan strategi yang sama. Berlari menuju jembatan kapuas, pulangnya berjalan kaki. Tapi waktunya lebih awal, sekitar pukul 05.10. Saat menjelang sampai di jembatan, kabut yang agak tebal menyelimuti jembatan. Demikian pula dengan diatas permukaan sungai, kabut putih membuat jarak panjang lebih pendek. Namun demikian, pemandangannya tampak eksotis dan seperti ada kesan magis. Kali ini saya tidak terlalu lama menikmati pemandangan dari atas jembatan, langsung ke sisi sungai di seberang, berputar kemudian langsung kembali lagi ke arah rukan di dekat kantor bupati. Perjalanan pulang kali ini ada lagi yang menarik. Beberapa orang polisi nampak sedang berpatroli, bukan dengan motor atau mobil, mereka menggunakan sepeda. Mungkin teman-teman di tempat lain sudah biasa melihatnya. Saya juga pernah melihat sepeda yang terparkir di samping pos polisi di pontianak. Tapi melihat langsung mereka sedang patroli menggunakan sepeda, baru kali itu saya melihatnya.

Anak-anak sekolah juga mulai ramai di jalan, saya melihat seorang polisi mendatangi seorang pria dewasa sedang membawa anaknya yang berseragam sekolah. Awalnya saya pikir ada masalah dengan pria tersebut, atau polisi tersebut kenal dengannya, itu mungkin saja, tapi yang tidak saya sangka adalah polisi tersebut menyambut anak perempuan berseragam tersebut dan membantu menyeberangkannya melintas jalan. Teduh sekali rasanya melihat itu. Semakin terasa nuansa religius di kota Uncak Kapuas ini.

Sama seperti hari sebelumnya, joging kali ini juga memakan waktu sekitar satu jam. Sampai di kantor dengan tenang untuk beberapa saat, namun harus cepat-cepat untuk mempersiapkan perjalanan dinas luar kota.

Itu cerita saya, apa cerita anda... :)

2 comments:

  1. Waa, rutin ke dah uda joging sekarang da? Keren ye di sana.. Polisinye macam polisi jepang lah ye da? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum rutin din... kemarin cuma sempat dua kali... pulang dari kampung, amandel uda kumat... kena hujan... jadi istirahat dulu...

      Delete