Monday, October 12, 2015

Awak Datang, Kamek Asap

Selama sekitar dua bulan kemarin, mungkin tiga bulan, musim kemarau yang relatif panjang dan "menyiksa" melanda kota Pontianak. Tidak hanya Pontianak, beberapa kota di Sumatera juga mengalami siksaan. Masalahnya bukan pada musim kemarau, karena memang musim kemarau selalu datang dan tidak terhindarkan. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh manusia untuk mencegah datangnya kemarau. Seperti halnya tidak ada yang bisa dilakukan manusia untuk mencegah datangnya musim hujan. Musim kemarau selalu bergantian dengan musim hujan seperti datangnya kesedihan dan kegembiraan. #seolahpujangga

Jadi masalahnya adalah... asap! Berbeda kemarau yang tidak bisa ditolak, asap sebenarnya bisa dicegah. Tapi, seperti tahun-tahun sebelumnya, asap datang lagi, datang lagi, dan datang lagi. Seperti keledai yang bisa jatuh berulang kali ke dalam lubang yang sama, sepertinya  memang itulah tabiat kita. Tapi saya tidak ingin membahas siapa yang salah. Saya juga baru menulisnya sekarang karena saya tidak ingin membahasnya saat banyak kepala sedang panas, pun semua pelaku pembakaran lahan punya seribu lapis (baca: alasan) untuk menyanggah perbuatan mereka.

Meskipun kota Pontianak sudah seperti sebuah tempat penyalaian raksasa dimana manusia di siram dengan air asin yang telah jauh masuk ke dalam sungai kapuas hingga menguasai perusahaan daerah air minum di kota yang panas ini. Semua orang hanya bisa pasrah dan mengutuk dengan sembunyi-sembunyi, atau mengutuk dengan sesopan mungkin agar tidak ada yang tersinggung sementara hak hidupnya atas udara dan air bersih telah terjajah "modal". Sehingga anda yang datang dari luar kota akan disambut dengan asap, Awak datang kamek asap!

Sekarang, pinggirkan dulu sakit hati kita atas hak yang terampas, tapi jangan lupakan sakit paru-paru yang melanda, segera ke dokter jika ada gangguan kesehatan yang mengkhawatirkan. Mari kita bersiap dan menyiapkan strategi untuk mencegah munculnya asap di  tahun depan.

0 comments:

Post a Comment