Saturday, July 4, 2015

Pontianak Masih Berasap

Sesaat rembulan mengintip dari balik awan, kemudian muncul dengan sedikit bagian gelapnya yang tidah terlihat. Udara kota masih berasap seperti kemarin, menjadikan jalan-jalan tampak kemerahan dengan lampu-lampu yang kuning. Setelah lebih dari dua minggu, baru saya merasakan kondisi lalu-lintas yang padat merayap. Namun, satu hal yang sangat berbeda dengan kota tinggal saya empat tahun kemarin, tidak ada satu pun kendaraan umum yang terlihat di jalan protokol kota ini. Kalau anda melihatnya, berarti anda sangat beruntung.

Seharian dirumah setelah malam tadi saya tidak tidur kecuali setelah shalat subuh, akhirnya saya keluar rumah. Malam-malam, menuju salah satu toko swalayan terbesar di kota khatulistiwa ini. Ramai sekali di dalamnya, masih malam 18 Ramadhan, tapi toko ini begitu ramai dengan orang yang berbelanja. Mungkin saya yang agak lupa dengan kebiasaan di kota ini yang mempersiapkan idul fitri dari jauh hari saat ramadhan. Karena itu sangat ramai orang yang berbelanja, terutama bahan-bahan untuk membuat kue dan berbagai macam manisan. Namun agak aneh saya melihat area berisi manisan di dalam swalayan tersebut, lantainya hitam seperti pasar tradisional. Menunjukkan begitu ramainya swalayan ini.

Sebelum saya sampai di Gertak Tige, saya sempat singgah di salah satu swalayan yang sangat mudah saya temukan di Bogor dan Jakarta, yaitu Ind*maret. Empat tahun lalu, tidak ada satu pun toko swalayan ini yang terlihat di kota ini. Sekarang, sepertinya tidak ada jalan utama yang bebas dari swalayan ini. Jika kita bicara tentang Ind*maret, tentu kita akan ingat dengan Alf*mart. Keduanya juga bisa ditemukan berdekatan di Pontianak, walaupun tidak sefrontal seperti di Jawa yang biasanya hampir selalu berduet dan berdekatan. Itulah salah satu perubahan yang paling jelas di kota ini menurut saya. Perubahan lainnya? Sudah saya ceritakan sedikit di postingan sebelum ini.

O iya, ada yang spesial dengan ramadhan kali ini, waktunya bertepatan dengan liburan pelajar sekolah dan mahasiswa. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab jalan-jalan di kota ini tidak terlalu ramai pada siang hari, karena tidak ada kendaraan pelajar dan atau kendaraan pengantar mereka. Jadi, cukup lega.

4 comments:

  1. Sama seperti Pekanbaru. Bulan2 sperti ini smp akhir tahun bakal heboh kabut asap, keadaan darurat, hujan buatan, edebre edebre no body cares, sudah puluhan tahun begitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 korban asap kita mbak, tadi malam di pontianak makin parah, bahkan dalam masjid asapnya nampak jelas... ngeri... tapi begitulah... nggak tahu sampai kapan yang berwenang bisa mikir panjang...

      Delete
  2. Baca ttg asap aja udah bikin aku enggak bisa bernapas, apalagi kalo mengalaminya sendiri, duhh. Salah siapa coba, protes udah percuma kayaknya ya mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. asapnya sekota mbak... pokoknya kalau keluar rumah abu beterbangan di udara, kayak ada gunung yang lagi erupsi dalam jarak beberapa km.... beberapa hari lalu ada mantan pejabat yang di tersangkakan karena membiarkan lahan miliknya terbakar...

      Delete