Tuesday, July 14, 2015

Panas Bedengkang, Kemudian Hujan

Dua orang laki-laki berkalang lumpur di parit depan komplek perumahan dosen kampus terbesar di kota Khatulistiwa. Dua tanggok (jaring ikan dengan tangkai pendek) berada di masing-masing tangan mereka. Ikan-ikan menggeliat gelisah dalam lumpur menunggu tanggukan para penangkap ikan yang sedang memunguti teman-teman mereka yang sudah lebih dulu masuk ke dalam tanggok.

Di seberang jalan dari parit tadi, parit lainnya telah lebih dulu kering. Tanahnya telah retak-retak seperti sawah yang sudah berbulan-bulan tidak mendapatkan air. Ada pikiran saya untuk mengambil gambar parit yang sudah kering tersebut, untuk saya sandingkan dengan gambar lain dari parit yang sama untuk menunjukkan betapa keringnya musim kemarau kali ini.

Namun, Alhamdulillah, tidak mengapa rencana saya untuk mengambil gambar tersebut batal, karena hujan akhirnya turun dengan deras, walaupun tidak terlalu lama, tapi cukuplah untuk mendinginkan udara kota Khatulistiwa yang membara hingga 35 derajat celcius selama beberapa minggu kemarin. Alhamdulillah bisa melembabkan anggrek ekor tikus dosen saya yang nampak mengering dan kisut karena udara yang begitu kering panas.

Mudah-mudahan hujan ini juga bisa sedikit, sedikit saja, mereduksi asap pembakaran lahan yang mengganggu pernapasan. O iya, FYI, di koran kemarin (kalau tidak salah) saya membaca bahwa kebanyakan titik api yang menjadi sumber asap di kota tercinta ini berada di dalam kawasan perkebunan monokultur.

Ya, begitulah, sore ini udara terasa sejuk dan segar, angin dan hujan menggeser panas, abu dan asap... mudah-mudahan segarnya tahan agak lama.

2 comments:

  1. Lagi di Pontianak ya gan? Emang disana panas banget ya? Kalo gitu semangat ya puasanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. panasnya pake banget gan... info cuaca menyatakan ada radiasi uv yang relatif tinggi, bahaya, tapi in sya Allah puasanya tetap semangat... :)

      Delete