Wednesday, July 8, 2015

Lemari, Buku dan Rayap

Lebih dari setahun kami meninggalkan kamar kami, seperti baru kemarin kami pergi. Lapisan debu juga tidak tampak berarti di permukaan barang-barang kami, kecuali gitar. Lemari buku juga tampak baik-baik saja dengan deretan buku saya dan istri di dalamnya. Lemari itu seharusnya sudah di cek ulang dan diamankan dari rayap yang sebelumnya sudah pernah merusak buku saya, Ranah 3 Warna. Tapi karena satu dan lain hal, perawatan lemari itu urung dilaksanakan. Namun, kondisi lemari yang baik-baik itu kami sadari hanyalah wallpaper setelah kemarin kami memutuskan untuk mengecek kondisi buku-buku koleksi kami.

Mulai dari rak paling atas, buku dikeluarkan dari lemari dan langsung dicek kondisinya satu-persatu. Giliran rak kedua dari atas, sama seperti rak diatasnya. Namun pemeriksaan tersebut serta merta berhenti saat saya membuka salah satu koleksi bacaan saya Rantau 1 Muara, salah satu koleksi favorit yang cukup lama saya menunggunya terbit dari seri sebelumnya. Tampak luar, buku itu tampak masih sangat bagus, namun saat membuka bagian dalamnya. Silahkan liat gambar dibawah ini.
Buku Rantau 1 Muara dimakan Rayap
Rayap dengan warna putih krem berukuran relatif besar hilir mudik didalam rongga tersebut, kesal sekali melihatnya. Mereka sudah membuat rongga yang sangat besar di dalam buku tersebut.

 Bukut tersebut kemudian saya jemur di bawah terik matahari kota Pontianak. Tentang lemarinya, kami sepakat untuk mengeluarkan semua isi buku dan mengeceknya satu persatu untuk menghindari kemungkinan adanya rayap-rayap tersebut di buku lainnya. Alhamdulillah, aman. Tapi ada hal yang harus kami lakukan dengan lemari buku tersebut. Kami sepakat untuk membersihkannya dan melapisi permukaannya dengan solar untuk menghidari serangan rayap.

Tidak butuh waktu lama untuk melapisi triplek lemari tersebut dengan solar, walaupun matahari sudah tinggi di langit Khatulistiwa dan dalam keadaan berpuasa, bahan bakar mesin diesel itu selesai dikuaskan ke permukaan dalam lemari buku. Lemari yang sudah beraroma seperti ruang kelas saya waktu sd tersebut saya bawa kedalam kamar. Dinda kemudian menyusun kembali buku-buku kami yang membuat kamar kami seperti kapal pecah tersebut ke dalam lemari. Namun, baru rak atas yang penuh terisi buku yang tersusun rapi, bubuk kayu mengucur ke bagian rak yang palin bawah dari lemari tersebut. Melihat kondisi lantainya, mau tidak mau kami sepakat untuk mengganti lantainya dengan triplek baru.

Hasil kerja Rayap
Palu, gergaji dan potongan triplek sisa yang masih dipakai sudah tersedia, paku juga sudah dibeli dari toko bangunan. Saya langsung membongkar bagian lantai rak lemari tersebut.

Ternyata bagian dinding bagian belakang lemari tersebut sudah berlubang-lubang juga, lebih parah lagi saat saya membuka dinding bagian sampingnya. Beberapa rayap yang mirip dengan yang bersarang di dalam buku hilir mudik di multiplek tebal yang sudah beralur karena dimakan oleh si rayap. Melihat kondisi dindingnya yang sudah sangat parah, kami tidak ingin ambil resiko dengan menempatkan buku kami kembali ke dalam lemari buku tersebut. Daripada harus mengalami kerugian yang lebih besar, lebih baik membeli lemari baru. Jadi, tamatlah riwayat lemari buku yang ternya sudah berusia hampir 30 tahun tersebut. Tinggal menunggu waktu saja hingga kayunya menjadi abu.

Lemari korban Rayap
Btw, kota Pontianak masih didera abu dan asal pembakaran lahan seperti yang saya ceritakan kemarin di... Jadi mungkin eksekusinya masih menunggu waktu.

2 comments:

  1. Waaa ganas banget rayapnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ngeri mbak, jadi pelajaran berharga buat saya untuk menjaga buku dengan lebih baik.... :)

      Delete