Sunday, July 26, 2015

Dentuman Meriam Malam Takbiran di Tepian Sungai Kapuas


Idul Fitri, rasanya tidak ada hari yang lebih meriah dalam satu tahun daripada perayaan yang satu ini. Dan kemeriahan itu akan jauh lebih meriah jika saya rayakan bersama keluarga di kampung halaman yang memiliki budaya perayaan Idul Fitri yang luar biasa, yaitu Pontianak. Mengapa luar biasa? Karena kota ini punya tradisi yang setahu saya hanya di miliki oleh kota ini saja, tradisi tersebut adalah Meriam Karbit.

Setiap menjelang Idul Fitri, puluhan meriam karbit yang dibuat dari kayu dijejerkan di tepian sungai kapuas secara berkelompok. Satu kelompok kira-kira terdiri dari 4-7 meriam, terbuat dari kayu-kayu bulat yang di keruk bagian dalamnya hingga membentuk rongga seperti meriam yang perang. Beberapa malam menjelang Idul Fitri, meriam-meriam tersebut akan dimainkan untuk menyambut dan meramaikan satu dari dua hari raya umat Islam tersebut. Suaranya yang menggelegar dan dinyalakan secara bergantian akan menggetarkan  udara kota Pontianak dan puncaknya adalah pada malam takbiran 1 Syawal.

Setelah lebih dari 25 tahun hidup di kota Pontianak, baru malam takbiran tahun ini saya menyempatkan diri untuk datang dan melihat langsung meriam-meriam yang sedang menembakkan api dan suara-suara yang konon dapat memecahkan kaca-kaca rumah yang berada di pinggiran Sungai Kapuas tersebut.

Bersama dinda saya meninggalkan rumah menuju meeting point yang tidak jauh dari rumah tempat tinggal kami,  bertemu teman saya yang menyebuat dirinya sebagai Raja Singkawang, Agri. Dari sana kami memutuskan untuk menemui Kojay dan Vian -dua teman kami yang lain- untuk bertemu langsung di dekat TKP. Lalu lintas malam itu mengingatkan saya pada kondisi lalu lintas kota bogor yang menurut saya parah, bedanya adalah macet di kota Khatulistiwa ini hanya terjadi sesekali dan yang saya alami malam itu pun hanya di jalan utama yang berada di tengah-tengah kota.

Setelah beberapa menit berkalang karbon monoksida yang keluar dari kendaraan bermotor yang sangat padat dan bergerak merayap menyusuri di jalan, kami memarkirkan kendaraan di dekat salah satu pusat perbelanjaan besar di kota Pontianak. Normalnya motor bisa dibawa hingga ke dekat tepian sungai Kapuas, namun karena padatnya manusia dan kendaraan, motor harus kami parkir agak jauh di tepi jalan raya Tanjungpura. Setelah memarkirkan motor, baru kemudian kami berjalan kaki memasuki gang kecil menuju tepi sungai.

Jalan di tepian Sungai Kapuas dibuat seperti jembatan yang memanjang lurus sejajar tepi sungai, lebarnya hanya sekitar satu hingga satu setengah meter. Kiri dan kanan jalan jembatan tersebut terdapat rumah-rumah penduduk, jika tidak ada rumah, maka dibawahnya adalah air sungai. Pada hari-hari biasa, berjalan di jalan tersebut mungkin tidak masalah, tapi dalam kondisi penuh manusia dan terlebih pada malam hari, kita harus sangat berhati-hati jika tidak ingin jatuh ke dalam sungai. Saya sendiri cukup khawatir karena jalan yang sangat sempit tersebut tidak hanya di lewati manusia, tapi juga kendaraan bermotor milik warga setempat.

Setelah menyusuri beberapa meter badan jalan jembatan tersebut, kami sampai di depan sebuah perahu motor galaherang yang sedang menunggu penumpangnya untuk menyusuri sungai kapuas lewat air menikmati "perang" dentuman meriam malam takbiran itu. Tanpa berpikir panjang, kami langsung naik keatas perahu yang sedang berayun-ayun karena gelombang air sungai yang terbentuk karena ada perahu lain yang sedang lewat.

Dengan jumlah manusia yang menyemut, tidak perlu waktu lama untuk perahu tersebut penuh dengan penumpang. Satu persatu remaja-remaja tanggung dan mahasiswa naik keatas perahu dan membuat perahu berayun lebih kuat, tapi Alhamdulillah tetap aman. Setelah para penumpang mendapatkan tempat duduknya masing-masing, perahu galaherang bergerak perlahan meninggalkan dermaganya membelah air yang tampak hitam sehitam malam. Lampu-lampu menerangi jembatan Kapuas yang membentang satu kilometer di atas sungai. Menaiki galaherang adalah cara yang paling tepat menikmati pemandangan jembatan Kapuas, namun saat itu kami tujuan kami adalah menikmati dentuman meriam dari tengah sungai yang menjadi medan tempur.

Dalam beberapa menit, kami telah melewati beberapa kawanan meriam di pinggir sungai. Namun, tidak satupun yang disulut saat kami mendekat. Terbersit khawatir bahwa kami tidak akan mendapatkan moment yang pas untuk melihat dan mengambil gambar saat sebuah meriam disulut api. Alhamdulillah, beberapa menit setelah khawatir itu muncul, sekelompok meriam di dekat kami di sulut dan melepaskan api dan bunyi yang begitu nyaring. Saya sempat mengambil sedikit videonya, namun hanya satu ledakan yang sempat saya ambil sebelum kamera kehilangan arah karena saya panik dan berusaha menutup telinga. Suaranya meriam tersebut membuat saya khawatir telinga dan perekam suara kamera akan rusak, Alhamdulillah rasanya semua aman. Dibawah ini adalah video yang sempat saya ambil.


Saat masih kecil, saya pernah ketakutan pada saat dini hari satu syawal. Suara meriam-meriam dari kayu di tepian sungai kapuas tersebut seperti mengintimidasi, mungkin pikiran tentang perang atau kiamat berkelabat di pikiran saya malam itu (saya sendiri lupa kenapa saya takut). Setelah agak besar baru saya tahu darimana asal dentuman-dentuman keras tersebut. Ternyata bunyi ledakan yang mengerikan itu berasal dari tempat yang berjarak sekitar 7-8 kilometer dari tempat tinggal saya.

Sepanjang perjalanan menyusuri Sungai Kapuas, kami ditemani suara-suara meriam yang berdentum bergantian dari kedua sisi sungai yang berhadap-hadapan. Bunga-bunga api dengan bentuk yang cantik ikut menghiasi langit malam kota Pontianak. Jembatan Kapuas I yang menghubungkan daratan Pontianak sisi selatan dengan Pontianak sisi timur membentang diatas sungai menjadi atraksi yang menarik untuk dilihat dari atas perahu yang kami tumpangi. Pondasi jembatan tersebut dilindungi pagar dengan bagian seperti teras yang dapat di tongkrongi, dan itulah yang dilakukan beberapa orang yang ingin menikmati malam takbiran di sungai Kapuas. Mereka mendatangi teras tersebut dengan perahu kecil bermotor dan naik keatasnya, menikmati malam bersama kembang api dan dentuman meriam.

Perahu galaherang yang kami tumpangi kembali merapat ke tempat yang sama seperti saat kami berangkat sebelumnya. Di atas jembatan telah menunggu puluhan orang untuk naik ke atas perahu dan menikmati perjalanan tur sungai kapuas seperti yang baru saja kami alami. Rombongan kami langsung naik ke atas jembatan dan menuju jejeran meriam yang beraksi malam itu tidak jauh dari dermaga perahu tadi. Puluhan orang memadati jembatan panjang yang hanya selebar tidak lebih dari 1,5 meter itu, namun sepertinya semua orang menikmati kondisi itu dan terlihat tidak khawatir dengan peluang tercebur. Kami ikut masuk ke dalam kumpulan orang yang sedang menanti meriam-meriam tersebut disulut dan berdentum hingga menggetarkan langit kota Pontianak.

Beberapa anak kecil berjalan di atas batang-batang meriam dengan diameter terbesarnya mungkin mencapai setengah meter. Anak-anak kecil tersebut bertugas untuk memasukkan karbit yang akan melepaskan gas asetilen yang mudah terbakar. Moncong meriam tersebut biasanya di tutup dengan kain basah untuk mencegah gas tersebut keluar dari perut meriam.

Beberapa menit kemudian setelah karbit di masukkan, meriam siap untuk disulut. Pengunjung bisa membayar beberapa ribu rupiah untuk merasakan sensasi menyulut meriam-meriam tersebut, sebenarnya salah satu teman saya ingin ikut menyulut, namun sepertinya terlalu banyak orang yang berpikir sama dengannya. Jadi dia urung untuk ikut melakukannya.

Rombongan kami berdiri sekitar 10 meter dari jejeran meriam-meriam tersebut, menunggu atraksi yang menjadi alasan utama kedatangan kami ke tepian sungai kapuas malam itu. Kembang api yang di tembakkan dari dekat dan dari jauh tempat kami berada menemani penantian kami untuk dentuman meriam, hingga tampak beberapa orang memegang obor belakang jejeran meriam yang menghadap ke tengah sungai. Beberapa detik kemudian...
BUM... BUM... BUM... BUM... BUM...

Dari jarak sekitar 10 meter kami merasakan hempasan angin kencang dari arah setelah ledakan moncong meriam itu membuat telinga kami berdenging... Berkali-kali saya menekan tombon shutter di kamera, namun hanya satu atau dua dentuman yang berhasil ditangkap kamera. Karena jarak yang terlalu dekat, saya tidak berani mengambil video. Khawatir mix kamera rusak.

Jam menunjukkan waktu hampir tengah malam, beberapa teman sudah mengajak untuk pulang, namun saya meminta mereka untuk tetap tinggal hingga satu seri dentuman lagi. Dan setelah dentuman yang dinanti itu selesai, kami pulang. Meriam-meriam lain di kejauhan masih berdentum menggetarkan langit Kota Khatulistiwa di Delta Kapuas, kami melangkah pulang menuju parkiran motor di tepi jalan Tanjungpura. Kepadatan lalu lintas sedikit berkurang, takbir hanya sayup-sayup terdengar, jauh lebih kecil dibandingkan dentuman meriam yang sesekali terus terdengar hingga subuh menjelang.

No comments:

Post a Comment