Monday, June 1, 2015

Teror dan Seniman Jalanan

Saat sedang enak-enak makan, tiba-tiba ada seseorang membunyikan senar-senar yang terikat kencang pada sebuah kotak bertangkai sambil bersenandung "Insaflah... wahai manusia, jika dirimu berdosa." Ke pabrik dia berlagu, ke bandara dia bermusik. Suasana hati yang sedang berbunga-bunga bisa layu seketika saat mendengar bunyi-bunyi itu. Kejadian diatas sering saya alami di banyak warung makan Babakan Raya, Dramaga*. Kotak yang dibawa pengamen itu umumnya kita sebut sebagai gitar. Adapun halnya dengan orang yang membunyikan kotak tersebut, saya tidak yakin dia tahu kotak yang sedang dimain-mainkannya itu bernama gitar. Karena hanya bunyi-bunyi tidak jelas, bahkan menurut saya hanya teror yang dibuatnya dari kotak tersebut.

Teror, saya serius dengan kata-kata ini. Terkadang pengamen datang dengan suara yang jauh dari pas-pasan, namun dengan kepercayaan diri yang luar biasa mereka bernyanyi. Bahkan dengan alat musik yang sama jauh dari kata stem yang benar. Kombinasi suara dan bunyi alat musiknya terasa menjadi teror. Emm... mungkin saya juga pernah meneror teman-teman saya atau orang rumah dengan suara saya, tapi setidaknya saya tidak meminta sesuatu kepada mereka atas teror tersebut.

Warung makan bukan satu-satunya tempat pengamen beroperasi, mereka juga beroperasi di dalam angkot, bus kota atau metromini, bahkan dari rumah kerumah. Kalau diangkot, mereka biasanya menggunakan mandoline. Alat musik ini memang sangat sesuai digunakan dalam angkot yang memang ruangannya sempit. Sedangkan di dalam bus, mereka bisa menggunakan gitar. Kalau yang beroperasi secara door to door, mereka biasanya juga menggunakan gitar. Pengamen yang paling kuat adalah yang menggunakan gerobak berisi sound system yang menghasilkan suara membahana, baru di Bogor saya menemukan yang semacam ini. Belum pernah lihat di tempat lain karena memang belum banyak jalan-jalan ke tempat lain.

Bagi saya door to door adalah kategori pengamen yang sangat mengganggu. Kenapa demikian? Karena rasa-rasanya semua orang sudah punya hiburan sendiri dirumah, bisa televisi, komputer, smartphone, karaoke, dvd dan sebagainya... dan sebagainya. Jadi tidak ada yang butuh hiburan dari pengamen, terlepas dari rasa kemanusiaan masing-masing orang. Pengamen-pengamen semacam ini membuat rumah kontrakan saya menjadi panas, kenapa? Karena eh karena... Pintu rumah terpaksa saya tutup, padahal rumahnya kuldesak, pintu masuknya hanya di depan.

Suatu kali saat saya menumpang dirumah kontrakan teman, datang seorang pengamen dengan gitarnya. Tepat saat saya mengeluarkan motor karena akan keluar, dia mulai genjrang-genjreng. Sungguh, bunyi gitarnya membangkitkan rasa takut yang dulu pernah singgah di hati saya.... ketakutaan saat menonton opening Friday the 13th. Segeran saya merogoh kantong untuk memberikan receh kepadanya, agar dia segera berhenti dengan terornya. Dia mengulurkan tangannya  menghadap keatas, wajahnya tertunduk dalam dan terlindung topi yang dikenakannya. Benar-benar the 13th.....

Kalau di warung makan, pengamen bisa jadi memang menghibur, bisa juga menjadi teror. Yang menghibur ini adalah golongan pengamen yang memang bersuara bagus, menurut saya. Permainan gitarnya juga bisa dinikmati, kita pun bisa berlama-lama mendengarnya. Tapi kalau datang pengamen semacam yang suka bikin insyaf tadi... Pucing Pala' Pangeran... :p

Banyak memang pengamen yang pedenya udah level 19, tapi ada satu pengalaman saya bertemu pengamen yang pedenya nggak pakai level lagi. Gaya ngamennya kayak konser, dan alat musik apakah yang dimainkannya sodara-sodara? BIOLA, udah kayak Kenny Ji aja gayanya. Namanya bermusik memang harus PD, tapi kalau nggak tau mainin alat musik terus membuat persembahan di depan umum??? Ngeeeekk... ngoooookkk... ngeeeekkkk.... saya hanya bisa menatap hampa ke udara.... sambil ngorek-ngorek telinga.

Ada juga jenis pengamen yang bernyanyi lirik yang mengintimidasi, jenis ini biasanya bermusik dengan telapak tangannya. Yup, bertepuk. Lirik lagunya seolah berkata, "daripada uang bapak ibu saya ambil dengan paksa, sebaiknya ikhlaskan sedikit kepada saya." Teman saya bahkan pernah mengalami di mintai uang dengan paksa. Saya Alhamdulillah belum pernah mengalami intimidasi semacam itu.

Kalau membaca cerita diatas, mungkin jelas sekali kesan kalau saya agak pelit untuk ngasih pengamen. Namun, sebenarnya, terkadang saya juga memberikan mereka uang dengan senang hati. Bukan saya riya', menurut saya ini wajar saya, seperti berdagang. Karena saya terhibur dengan nyanyiannya, maka saya keluarkan sedikit rupiah dari dompet. It's just a business! Apalagi kalau pengamen yang berombongan, biasanya mereka sangat menguasai alat musik yang mereka pegang masing-masing. Hampir semua pengamen berkelompok yang pernah saya lihat dan dengar mampu menghibur orang-orang didekatnya. Seperti pengamen yang bermain di underpass depan kampus IPB Baranangsiang di bawah ini.

Seniman Jalanan Underpass IPB Baranangsiang
Jadi kesimpulannya, seperti semua pekerjaan yang dilakukan orang. Ada yang menjalaninya dengan baik, ada juga yang dengan semaunya. Untuk yang baik, saya akan sangat mengapresiasi seni mereka dengan rupiah yang mungkin tidak banyak tapi bisa menunjukkan apresiasi saya pada mereka. Tapi kalau sekedar genjrang-genjreng apalagi gesek-gesek bikin ngilu... Ah sudahlah...
* Kalau cerita tentang Babakan Raya, maka tidak akan lepas dari berbagai makanan spesial buat mahasiswa seperti Bubur Ayam Kuah SotoUdang Bakar RaosLumpia Basah,  dan banyak menu lainnya.

19 comments:

  1. Kalo di metromini ada pengamen yang maksa minta kang, males jadinya. Biasanya kalo suara dan nadanya selaras saya ikhlas tanpa diminta saya kasih.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. maksanya pakai ngancem lagi ya kang.... ngeri memang tinggal di kota besar.... saya juga, rela ngasih lebih kalau nyanyiannya benar2 menghibur....

      Delete
    2. Iya betul ini. Nggak ngancem secara langsung, tapi pake kalimat berbelit-belit yang bikin ngeri. hahaha.

      Delete
    3. biasanya mereka ada kawanannya mas... itu yang bikin gimana gitu...

      Delete
  2. Saya juga suka menemukan pengamen yang maksa. Suka menemukan pengamen yang suaranya bagus dan sopan. Pengamen memang macam-macam ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang maksa itu udah kayak preman aja mbak.... pengamen memang macam-macam, in sya Allah ntar saya bikin klasifikasinya,,, :D

      Delete
  3. Iya ngga ada yang salah dengan pengamen atau seniman jalanan asalkan dia menjalankan dengan sungguh2, bener2 bisa main musik, suaranya enak, pasti orang2 iklas ngasih duitnya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju mbak... saya paling suka yang berombongan itu, pastinya mereka nggak di angkot, ntar kepenuhan sama mereka... biasanya juga mainnya bagus banget...

      Delete
  4. paling sebel kalau aad pengamen yang suka maksa , sudah bete duluan. kalau suaar bagus , pasti ikhlas deh ngasihnya. kalau di warung ada tukang ngamen memang ganggu apalagi suara jelek banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau di warung itu kadang bisa bikin perut kenyang duluan... jadi kalau memang sangat mengganggu kasih 0,5 K cepat2 mbak... biar lekas pergi... :)

      Delete
  5. Kalau saya mah suka pilih2... yg lagunya bagus sama yg orangnya keliatannya baik ga kayak berandalan suka ngasih...tapi kalau yg berandalan mah males ngasihnya juga takut jadi nyumbang buat yg haram2 hihi....

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama mbak, kalau yang gayanya kurang baik bikin kita jengah... saya juga heran, kadang ada peminta-minta yang merokok... itu lebih parah lagi dari pengamen... udah dikasih malah buat ngerusak badan... #nyambunggakya

      Delete
  6. males banget kalau ketemu pengamen yang engga dikasih malah ngotot

    ReplyDelete
  7. Yang modal tepak tepuk itu malak dengan nada aja sih sebenernya..

    ReplyDelete
  8. Saya lebih menghargai pengamen daripada peminta-minta. Setidaknya kalau pengamen dia masih ada usahanya. Ya tapi suka pilih-pilih juga sih kalau mau ngasih, bukannya apa-apa kadang di Bogor suka ada pengamen yang kayaknya sih kayak preman nyamar gitu. Sereeeem, kadang maksa hahaha tapi seringnya didiemin, kadang suka ngedumel sendiri kalo nggak ada yang nggak ngasih, ya maksa bener sih hahaha cuman kalo lagi sendirian di Angkot mending nyari aman dengan ngasih sih.

    yang miris kalo ada anak-anak kecil yang udah ngamen apalagi yang minta-minta, sediiih banget rasanya. Itu orangtuanya kemana ya, apa malah mereka dipaksa buat kayak gitu? :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. kadang yang maksa itu memang bikin ngeri mbak... memang kayak preman gitu...
      kalau yang anak-anak itu mungkin di paksa mbak, yang paling kasian itu yang bayi, saya pernah baca kalau mereka tu di kasi minuman beralkohol biar nggak ribut dan tidur terus...

      Delete
  9. Makasih buat infonya, semoga kita semua selalu ada dalam kebahagiaan...

    ReplyDelete