Tuesday, June 30, 2015

Sore di bawah Langit Khatulistiwa

Mendengar cerita keluarga tentang Pontianak saat masih di Bogor kemarin, saya membayangkan jalan-jalan di kota kelahiran ini semakin penuh. Terbayang ramainya lalu lintas yang memenuhi udara dengan CO2 dan CO, panas dan beracun. Beberapa  tahun lalu saya memang merasakan Pontianak memang semakin padat, kendaraan bermotor semakin ramai hilir mudik. Kadang saya sendiri bingung kenapakah mereka semua harus bergerak dari satu tempat ke tempat lain, lupa dengan diri sendiri yang juga melakukan hal yang sama dengan mereka. Kita semua punya urusan masing-masing!

Tapi sore ini saya berpikir sepertinya bayangan saya tentang Pontianak tidak sesuai dengan kenyataannya. Memang manusia dan kendaraannya semakin ramai, tapi tampaknya kota ini semakin banyak berbenah. Beberapa jalan utama telah dilebarkan, sehingga kepadatan kendaraan kurang terasa. Tapi mungkin juga karena sekarang sedang bulan puasa, orang-orang lebih banyak mencari penganan berbuka di pusat-pusat jajanan kota. Satu yang menarik dari pembenahan kota ini adalah median jalan protokol, semakin hijau dengan tanaman. Walaupun tampaknya penghijauan itu dilakukan tanpa konsep apapun, yang penting hijau (silahkan dikoreksi jika pendapat ini salah).

Teringat dengan kue Putu Piring yang saya gemari seperti saya menggemari Putu Buluh, saya menyusuri sore menuju wilayah Sungai Jawi. Ada banyak sekali pilihan kue dan minuman di kawasan Sungai Jawi, tapi jika saya datang ke sungai jawi untuk mencari kue, itu hanya untuk membeli putu piring. Ternyata perburuan Putu Piring hari ini gagal, entah sudah tutup atau memang tidak buka, gerobak penjual kue tradisional itu tidak tampak di tempat biasanya.

Saat memandang tepi jalan yang juga berada di tepi sungai, saya melihat kearah sungai, air mengalir perlahan menuju arah hulu sungai. Pasang naik! Hal yang tidak pernah saya temukan di Bogor, #yaiayalah. Pontianak berada di dataran dengan tinggi tanahnya tidak lebih dari satu meter dari permukaan laut. Sedikit saja muka air laut naik, anak-anak sungai kapuas akan menerima aliran dari induknya. Tapi Alhamdulillah jarang sekali Pontianak mengalami banjir yang tinggi, kecuali genangan-genangan air di jalan yang memiliki drainase yang buruk.

Mengarahkan motor pulang ke kawasan Untan, saya dapat melihat bulan yang hampir bulat sempurna menempel di langit timur yang masih biru. Maghrib semakin dekat, jalan terasa lebih lapang, mungkin orang-orang sudah dirumah masing-masing menunggu waktu berbuka bersama keluarga.

#cuapcuapsore

8 comments:

  1. Replies
    1. yang kemaren tapi bukan jalan-jalan dek, nyari kue putu piring tu bah... ndak dapat pula...

      Delete
  2. mas, itu bedanya putu piring sama putu buluh apa sih? sama-sama kue putu kan yah???

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 putu io, beda bentuknya, putu buluh kan pakai bambu, kalau putu piring pakai piring, in sya Allah entar liat postingan berikutnya ya... :D

      Delete
  3. Artikel menarik, silahkan disubmit pada situs kami :)

    ReplyDelete
  4. Jadi ingat sungai2 di Riau. Kurang lebih sama lebar & dalam

    ReplyDelete
    Replies
    1. masyarakatnya melayu juga kan mbak... saya belum pernah jalan2 ke riau...

      Delete