Monday, June 1, 2015

Dung Dung Preet - Fakir Bakat Seni

Sebenarnya saya tidak terlalu paham dengan seni, apatah lagi dengan musik, sejauh pengetahuan saya tidak ada anggota keluarga saya yang menjadi pemusik. Bahkan melihat mereka bermain gitar saja saya tidak pernah. Waktu SMP ada teman yang pandai bermain musik, tapi saya tidak terlalu acuh. Seperti yang saya ceritakan di kisah Dung Dung Prett - Sebuah Band. Seni seperti sesuatu yang asing dalam keluarga kami.

Saat SD, wali kelas saya saat kelas 6 adalah seorang guru kesenian, namun karena menjadi wali kelas, beliau juga mengajar mata pelajaran lain yang sepertinya kurang dikuasainya. Hal itu membuat saya menjadi kurang respek dengan kesenian. Mungkin saya bukan kurang respek sama kesenian, tapi sama gurunya. Waktu SD itu juga, setiap kali ada pelajaran kesenian yang berhubungan dengan musik, siswa hanya disuruh bernyanyi. Itupun tanpa mengenal not. Rasanya, setiap kali disuruh bernyanyi, hanya Garuda Pancasila yang keluar dari mulut saya.

Saat SMP, ada sedikit perkembangan soal kemampuan bernyanyi di depan kelas, mungkin sedikit bervariasi, tapi tetap lagu kebangsaan, dan sedikit lagu populer. Dan tetap buta not. Waktu saya SMP, sepertinya semua remaja senang dengan musik dan punya band favorit masing-masing. Kami senang menghapal lagu dan menulis liriknya di halaman terakhir berbagai buku catatan sekolah. Saat menemukan satu kaset album sebuah band itu seperti menemukan harta karun. Lirik-liriknya segera di catat ke buku. Bahkan saya juga punya buku khusus berisi lirik-lirik lagu populer saat itu. Dan yang paling populer saat SMP itu adalah Stinky, disusul kemudian oleh Sheila on 7. Hmmm... udah tuir juga tu band ya..

Saat kelas satu smp, kelas saya berada di sudut tertinggi sekolah, benar-benar di sudut. Di belakang kelas kami terdapat sebuah ruangan yang selebar ruangan kelas kami tetapi panjangnya hanya sekitar tiga meter. Ruangan tersebut adalah ruangan musik, ada gitar elektrik, bass, drum, sound system dan lain sebagainya. Tapi selama kelas satu itu, kami hanya bisa memandang alat-alat tersebut. Hanya anak kelas tiga yang bisa bermain, mungkin karena mereka memang band sekolah. Saya sendiri tidak ambil pusing dengan alat-alat musik tersebut, karena tidak satupun dari mereka yang bisa saya mainkan. Jangankan gitar listrik, gitar bolongpun rasanya saya belum pernah menyentuhnya.

Beberapa teman sekelas ada yang sudah bisa bermain gitar, kebanyakan mereka punya keluarga yang bisa bermain musik. Terutama saudara tua mereka yang sudah lebih dulu dewasa. Ada satu orang teman sekelas saya yang ternyata memiliki keluarga seorang musikus profesional, dan itu baru saya ketahui saat sudah kelas tiga, namanya Darma. Darma adalah keponakan dari Hendri Lamiri, tahu kan? Violist-nya Arwana Band. Darma baru benar-benar belajar bermain gitar sekitar SMA kelas satu, tapi dalam waktu singkat dia sudah menjadi salah satu "dewa gitar" (skala SMA kami) di sekolah.

Untuk pelajaran kesenian yang lain saat smp, yang paling saya ingat adalah pelajaran menggambar. Saya pernah menggambar Chin Mi, tokoh utama dalam komik Kungfu Boy, tahu kan? Untuk menggambar satu gerakan Chin Mi, saya membutuhkan waktu yang sangat lama, hingga berhari-hari. Sementara teman saya hanya beberapa jam kalau tidak salah. Disitu kadang saya merasa sedih... eh... :p

Gambar lain yang pernah saya buat adalah gambar burung Elang, waktu itu saya mencontoh foto seekor Elang yang ada di TMII, entah dapat darimana gambar itu saya lupa. Banyak juga gambar yang lain yang pernah saya buat, misalnya gambar pemandangan. Kalau tidak salah waktu SMP itu saya agak terkesan dengan gambar gunung salju, karena itu setiap gambar pemandangan yang saya buat ada saljunya di puncak.

Waktu kelas dua smp, kelas saya berada di samping sebuah ruang kesenian, di ruangan itu tersimpan berbagai macam hasil kerajinan tangan siswa dalam berbagai bentuk yang menurut saya ada nilai seninya... eaaaa... Tapi, seperti ruang musik yang ada dibelakang kelas saya waktu kelas satu, ruangan seni tersebut tidak penting buat saya. Hingga kelas tiga, saya masih belum paham dengan arti seni, mungkin sampai saat ini.

2 comments:

  1. Ndak perlu dipahami, da.. dinikmati jee.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi pengen memahaminye din.... pegimane dong... :p

      Delete