Friday, June 26, 2015

Antara Bogor dan Pontianak

Lalu lintas di kawasan Dramaga tidak terlalu pada hari itu, namun supir yang membawa kami lebih memilih lewat jalan SJB. Hampir sepanjang perjalanan kami ngobrol dengan pak supir yang sepertinya belum pernah ke Kalimantan. Yang dia tahu Kalimantan adalah kawasan tambang, sisanya perkebunan sawit, mungkin, karena hanya itu yang tersebut dari bicaranya. Kami pun bercerita dengan pak supir yang cukup ramah dengan penumpang yang sedang dibawanya. FYI, keramahan adalah satu hal yang cukup langka di bumi kota hujan ini.

Banyak sekali perbedaan antara Bogor dengan kota Khatulistiwa dimana hati kami selalu tertaut, tapi tentu saja ada hal yang sama antara kedua kota ini. Salah satu hal yang sama itu adalah panasnya. Sebelum saat pertama kami menginjakkan kaki di bumi Buitenzorg empat tahun lalu, kami selalu berpikir bahwa Bogor adalah kota hujan yang dingin, selalu dingin. Namun ternyata kami salah, Bogor tidak dingin, lebih tepatnya tidak lagi dingin. Walaupun tidak sepanas di kawasan 0 derajat lintang.

Awal perkuliahan dulu saya pernah membuat status di Facebook, tentang Bogor yang menurut saya terlihat sangat tertata dan rapi. Seorang teman berkomentar bahwa yang saya pikirkan mungkin tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Sekitar setahun kemudian baru saya menyadari bahwa apa yang saya pikirkan ternyata memang salah. Bogor tidaklah serapi yang saya kira. Namun, apapun yang saya katakan tentang bogor dalam tulisan ini tidak akan mengurangi syukur saya bahwa saya pernah kuliah di kota itu. Sebuah keinginan sejak kecil yang baru tercapai menjelang umur 30-an.

Kenapa memangnya dengan Bogor?
Kuliah di jurusan Arsitektur Lanskap, membuat saya cukup banyak bersinggungan dengan bahasan-bahasan tentang tata kota. Satu masalah paling jelas membayangi ramainya kota Bogor adalah kemacetan, seperti yang kami alami dalam perjalanan pulang kampung kami kemarin. Dan seperti ratusan hari sebelumnya yang saya jalani di kota yang tidak lagi syahdu ini. Macet sudah seperti seperti nafas kehidupan Bogor yang tersumbat lendir. Jumlah angkot yang sepertinya sejuta, menjadikan Bogor mendapatkan julukan baru sebagai kota sejuta angkot. Yang menarik adalah, sejuta angkot tersebut seperti tidak pernah kehabisan penumpang. Jadi cukup jelas bahwa masalahnya bukan di jumlah angkot, tapi jumlah manusia dan kondisi infrastruktur yang tampaknya sulit untuk ditingkatkan lagi kualitas dan kuantitasnya.

Bogor memiliki relief permukaan bumi tidak rata, ini berhubungan dengan posisinya yang berada di kaki gunung. Sebagain besar wilayahnya adalah punggungan dan lembah sungai, anda bisa melihat ini jika berkendara dengan motor melewati jalan-jalan utamanya. Relief yang tidak rata ini sebenarnya merupakan kesempatan yang sangat besar bagi pengurus kota ini untuk menjadikan kota mereka kota yang sangat indah. Namun sayangnya, kesempatan ini kurang dimanfaatkan. Pembangunan wilayah yang dekat dilakukan dengan pusat pemerintahan Indonesia ini berlangsung secara sporadis, menghasilkan tata kota yang kurang teratur dan jauh dari indah. Jika tidak ada kebun raya bogor pohon-pohon besar di tepi jalan, entah akan seperti kesan yang akan kita dapat dari kota hujan ini.

Masalah lain yang menurut saya sangat penting adalah tentang rapatnya pemukiman. Memang banyak komplek perumahan yang dibangun dengan jarak antar rumah yang cukup memadai, namun tidak dengan rumah-rumah diluar komplek. Rumah-rumah pemukiman biasa di luar komplek biasanya memiliki akses jalan yang sangat sempit, hanya cukup masuk untuk satu atau dua motor. Kondisi perumahan yang rapat ini menjadikan sirkulasi udara kurang sehat, berpotensi menyediakan tempat untuk tikus tinggal dan berkembang biak, serta meningkatkan potensi penularan penyakit menular dengan lebih cepat.

Itulah sedikit cerita saya tentang Bogor, mohon maaf jika ada yang salah dan menyebabkan ada yang tersinggung. Tulisan diatas sebenarnya belum final, jadi akan disambung lagi lain waktu.

4 comments:

  1. Aku pernah ke Bogor sekali, kemana-mana naik angkot, cuma muter2 disitu-situ aja kotanya heheee. Rumah tanteku disana luas banget krn org Bogor lama, udah nenek2. Masalah perumahan skrg ada dimana-mana, makin hari harga tanah makin tak terjangkau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya jarang banget tu mbak rumah yang luas di bogor, bahkan didaerah kabupaten aja empet2an.... kalau harga tanah, waduh.... nggak terbayang mbak, mudah2n ada rezeki buat beli tanah sendiri... :)

      Delete
  2. Belom pernah ke Bogor.. Tapi kata temen yang sering ke sana, katanya sih Bogor uda ngga sesejuk dulu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bebe, panas banget... kecuali kalau naik ke puncak... disana masih dingin...

      Delete