Wednesday, May 27, 2015

Terintimidasi Sirine Kereta Api/Listrik

Hampir empat tahun tinggal di Bogor sepertinya tidak membuat saya familiar dengan bunyi sirine kereta (api atau listrik). Bunyinya terdengar mengintimidasi dan mengundang kengerian bagi saya. Kenapa demikian? Sebabnya adalah sebuah film yang berjudul Tragedi Bintaro.

Sejauh ingatan saya, jalannya cerita dalam film ini sederhana, sangat sederhana. Hanya kehidupan sebuah keluarga kecil seperti keluarga kecil lainnya di Indonesia. Mungkin bisa dikatakan hingga 90% jalan cerita ini adalah kehidupan biasa masyarakat yang tinggal di ibukota. Namun bagian klimaksnya benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam, bagaimana sebuah kelengahan mengubah hidup ratusan orang dalam sekejap.

Bagian paling berkesan bagi saya dari film itu adalah bunyi sirine tanda kereta akan lewat. Apakah terdengar lebay menurut anda? Silahkan berpikir demikian, tapi begitulah adanya. Ada satu bagian diri saya yang begitu terintimidasi saat mendengar suara sirine tersebut, walaupuan saya sudah cukup terbiasa menggunakan layanan KRL, bahkan KRL adalah pilihan utama saya jika ingin mengunjungi ibukota (dari Bogor).

Rasa ngeri dengan lewatnya kereta adalah jika saya sedang berada di pintu perlintasan kereta, pertama kali saya mengalaminya tepat pada hari pertama saya berada di Bogor, saat menggunakan jasa taksi gelap dari Baranangsiang menuju Dramaga. Mobil yang saya dan istri tumpangi lewat jalur yang memotong rel kereta api. Bunyi sirine langsung membuat kami saling berpandangan, yang bikin tegang adalah, mobil yang kami tumpangi menjadi kendaraan terakhir yang lewat sementara pintu perlintasan sedang bergerak turun menutup. Pengalaman yang masih teringat jelas hingga saat ini.

Hingga saat ini saya masih heran melihat orang-orang yang bisa berkatifitas dengan santai di sekitar rel kereta. Sebelum reformasi besar-besaran di PT. KAI, kita masih bisa melihat pasar di sekitar rel kereta. Ular besi raksasa dengan berat berton-ton tersebut seakan tidak berpengaruh sama sekali pada mereka. Kendaraan berat dan besar tersebut seperti ular besar tanpa bisa yang hanya perlu dihindari dengan menggeser sedikit posisi badan.

Alhamdulillah, sekarang manajemen Commuter Line Jabodetabek sudah jauh lebih baik, area stasiun pada saat ini sudah jauh lebih aman, berbagai fasilitasnya sudah di upgrade, banyak security yang berjaga-jaga di setiap stasiun. Bahkan pemukiman liar di sekitar rel kereta sudah di bersihkan dari rumah-rumah liar sehingga menjadi lebih bersih. Akhir kata, semoga reformasi yang terjadi di PT KAI ini bisa menular pada BUMN-BUMN lain di Indonesia sehingga bisa mengingkatkan kualitas layanannya untuk warga negara Indonesia.

0 comments:

Post a Comment