Friday, May 29, 2015

Debut Berkendara di Jalan Tol Jakarta

Hari kamis minggu lalu saya menemani seorang teman -sebut saja Tomy- menjemput keluarganya, yaitu istri dan anaknya di Bandara Soekarno-Hatta. Istrinya adalah teman sekelas saya waktu kuliah S1 dulu, sebut saja Nhepa. Sebenarnya saya sendiri agak was-was dengan perjalanan ini, karena Tomy belum pernah berkendara melewati jalan tol di Jakarta dan Sekitarnya. Malam sebelumnya juga dia sempat ingin membatalkan rental mobil yang sudah di pesan, namun kemudian kami tetap menggunakan mobil tersebut. Jadi berangkatlah kami sekitar jam 11 dari Bogor menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Soekarno-Hata International Airport
Patung Proklamator RI menjelang Pintu Masuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta 
Kami berangkat dari Dramaga Bogor menggunakan mobil rental yang saya pesan semalam sebelumnya, Tomy yang nyetir, karena saya belum pandai. Sepanjang awal perjalanan cukup lancar, walaupun ada sedikit kebingungan saat akan masuk ke jalan tol dari arah jalan baru Bogor. Namun kami berhasil juga masuk ke jalan tol dengan lancar jaya. Sampai di gerbang masuk tol, kami agak bingung apa yang harus dilakukan di gerbang tersebut, apakah harus bayar atau ambil tiket. Selanjutnya kami masuk, ternyata kami diberi tiket masuk.

Di jalan tol bebas hambatan ini ternyata banyak juga yang tidak patuh dengan petunjuk jalan yang menghiasi tepian jalan. Peraturan yang cukup penting di jalan tol adalah jalur paling kiri atau bahu jalan dilarang digunakan kecuali dalam keadaan darurat, sebelah kanan bahu jalan adalah jalur untuk kendaraan berat, kanannya lagi adalah jalur biasa, jalur paling kanan untuk memotong. Jadi semakin kekanan kecepatan kendaraan semakin tinggi. Tapi kenyataannya, kendaraan yang ingin memotong bisa menggunakan jalur yang mana saja.
Saya pikir-pikir, memang rentang rentang lebar jalan dengan rentang kecepatan suatu kendaraan sangat jauh berbeda. Karena itu kendaraan yang sedang buru-buru bisa memotong kendaraan yang sedang memotong, karena itu mereka terpotong-potong... eh...  karena itu memotongnya jadi bisa dari jalur mana saja. Dengan kondisi ini, urutan kecepan jalur kendaraan jadi berubah. Lajur paling kanan untuk memotong, lajur sebelah kirinya untuk memotong, sebelah kirinya lagi untuk kendaraan berat, dan bahu jalan untuk jalur cepat. Yup, jalur paling kiri yang dilarang digunakan kecuali darurat justru digunakan kendaraan dengan kecepatan tinggi.

Walaupun Dilarang, masih banyak pengemudi yang menggunakan bahu jalan
Perjalanan selanjutnya cukup lancar hingga kemudian kami sampai di putaran Jagorawi dekat TMII. Saat sampai di gerbang tol, kami bertanya pada petugas gerbang tol, yang mana jalur untuk ke Soekarno-Hatta. Mbak-mbaknya hanya menjawab lurus saja, di maps android memang jalurnya lurus saja. Beberapa detik kami meninggalkan gerbang, ternyata di depan kami ada tiga jalur. Saya panik, mungkin Tomy juga. Kami berada di antara jalur paling kiri dan yang tengah. Agar tidak berlama-lama mengambil keputusan, saya katakan ambil kanan (jalur yang ditengah).

Mobil melaju kembali, saya merasa mengenal jalan yang kami lewati dan yakin jalan yang kami pilih sudah benar. Namun, saat melihat ke maps di smartphone miliki Tomy, saya melihat kami semakin menjauhi jalur menuju Soekarno-Hatta. Saat melihat rambu petunjuk arah, kami tidak lagi menemukan tulisan Soekarno-Hatta, selanjutnya yang kami ketahui kami sedang mengarah Tol Cikampek. Panik semakin menjadi, saya hanya bisa melihat  ke android Tomy yang baterainya sudah low. Bingung apakah terus saja yang berarti kami akan semakin jauh, atau keluar dari jalan tol dan masuk lagi menuju Jagorawi. Tanpa keputusan kami tetap melaju menjauhi arah yang seharusnya kami jalani. Alhamdulillah, ternyata kami melihat satu tanda memutar, kami mengambil jalur kiri yang mengarahkan ke jalur memutar kejalur sebelah yang berlawanan arah.

Tomy memasukkan mobil gerbang tol, ada satu box mesin kartu di sebelah kanan. Tapi tidak ada kartu yang keluar, mobil dimajukan lagi, tapi tidak ada kertas yang keluar, ternyata kami salah pilih portal. Portal yang dimasuki Tomy adalah portal khusus untuk pemegang e-Toll Card. Alhamdulillah hanya ada satu mobil di belakang kami yang kemudian bergerak mundur untuk memberikan kami jalan. Mobil kemudian diarahkan ke portal yang benar.

Masih sedikit panik, saya menelpon dinda untuk mencari rute yang benar di laptopnya karena android Tomy sudah kehabisan baterai. Dinda menjelaskan bahwa jalur yang harus kami ambil adalah jalur arah Cawang Grogol. Setelah perjalanan beberapa menit, akhirnya kami menemukan jalur tersebut dan rambu penunjuk arah ke  Soekarno-Hatta. Perjalanan selanjutnya relatif lancar dan kami sampai di bandara hampir bersamaan dengan mendaratnya Nhepa dan anaknya.

Perjalanan kembali ke Bogor dari Soekarno-Hatta jauh lebih lancar karena Nhepa sebagai navigator-nya sangat menguasai medan.

Btw, buat rekan-rekan yang baru sekali dua mengunjungi Bandara Sokarno-Hatta, ada baiknya membaca beberapa Tips yang Perlu Anda Tahu di Bandara Soekarno-Hatta, barangkali bisa bermanfaat.

4 comments:

  1. Saya pernah punya pengalaman serupa. Tapi saya bagian yang nemenin. Agak bingung juga waktu mau masuk gerbang tol. Antara ngambil kartu atau bayar langsung, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama kita mas Renggo, saya juga yang nemenin, tapi pakai bonus salah jalan juga... :p

      Delete
  2. :D degel. rupenye gitu ceritenye... :D foto terakhir bikin ketawa, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, bise menghibur.. ndak sia-sia ngedit2 potonye... :D

      Delete