Skip to main content

Cemaru - Badak Sumatera di Kalimantan

Badak yang paling terkenal di Indonesia adalah Badak Bercula satu yang mendiami kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Badak yang juga dikenal sebagai Badak Jawa ini, badak ini sangat disorot dan terpublikasi dengan gencar karena status konservasinya yang sangat kritis. Selain badak jawa, di Indonesia juga terdapat Badak Sumatera. Status konservasi Badak Sumatera pada saat ini menurut ICUN adalah Critically Endangered (terancam punah secara kritis). Namun tahukah anda, bahwa ada satu lagi pulau di Indonesia yang dihuni oleh Badak?

Bornean Rhino
Badak Sumatera Kalimantan (Foto oleh Abdul Hamid Ahmad/BORA)
Kalimantan, adalah salah satu pulau yang juga dihuni oleh Badak. Mungkin banyak yang sudah tahu bahwa badak juga mendiami Kalimantan. Berita ini tersebar setelah adanya penemuan kembali satwa yang dipercaya sudah punah beberapa dekade silam. Badak Kalimantan termasuk spesies yang sama dengan badak Sumatera, namun berbeda subspesies. Badak Sumatera Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) memiliki ukuran yang sedikit lebih kecil daripada Badak Sumatera Sematera (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis).

Badak Sumatera (Sumatran Rhino)

Badak Sumatera adalah salah satu dari empat spesies badak yang ada di dunia, dan diperkirakan sebagai spesies badak yang paling terancam kelestariannya. Badak Sumatera memiliki persebaran mulai dari Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaya, Thailand, Myanmar, hingga India.

Badak Sumatera juga dikenal sebagai Badak Asia Bercula Dua, cula depan lebih besar dari cula di belakangnya. Karakter utama yang membedakan Badak Sumatera dari spesies lainnya adalah adanya rambut coklat kemerahan yang menutupi permukaan tubuhnya. Karena itu, badak Sumatera juga dikenal sebagai Badak Berambut.

Badak Sumatera memakan berbagai jenis spesies tanaman tropis. Umurnya dapat mencapai 25 hingga 35 tahun. Seekor betina mencapai usia dewasa pada umur 6 sampai 7 tahun dan melahirkan seekor anak setiap tiga tahun. Jantan mencapai usia pada usia 8 tahun. Pada umumnya Badak Sumatera hidup soliter dan berkelompok secara temporer untuk kawin dan kemudian berpisah lagi.

Badak Kalimantan (Bornean Rhino)

Bornean Rhino
Puntung - Badak Sumatera Borneo (Foto oleh Jeremy Hence/Mongabay)
Sebagian masyarakat Dayak yang mendiami Pulau Kalimantan menyebut Badak sebagai Cemaru. Menurut Nazir Foead (Direktur WWF-Indonesia) (2013), Badak Sumatera Kalimantan atau Cemaru terakhir kali terlihat di Kalimantan pada tahun 1930-an. Nazir menambahkan bahwa masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan mengatakan terakhir kali melihat badak di buru dan diambil culanya oleh pemburu pada tahun 1970-an (merdeka.com).

Pada tahun 2002, masyarakat sekitar pegunungan Muller mengaku melihat ada badak yang tertabrak truk logging. Badak tersebut sempat di dikuburkan, namun kemuadian tubuhnya tidak lagi ditemukan saat digali keesokan harinya. Tahun 2008, pemerintah negara bagian Sabah, Malaysia menangkap seekor badak Sumatera Kalimantan jantan yang kemudian diberi nama Tam.

Pada tahun 2011, seekor badak kembali tertangkap di Sabah, kali ini seekor betina yang diberi nama Puntung. Kaki kiri badak betina ini tidak memiliki tapak, diperkirakan kakinya terjerat jebakan pemburu pada saat dia masih kecil, karena itulah dia diberi nama "Puntung." Berdasarkan pemeriksaan, tulang terminal kaki kiri depan Puntung hilang. Puntung dan Tam dipasangkan dan diharapkan dapat menghasilkan keturunan. Pada tahun 2014, seekor badak betina kembali tertangkap di Sabah. Berdasarkan pemeriksaan diketahui dua badak betina yang tertangkap tersebut memiliki masalah reproduksi. Masalah tersebut muncul karena tidak terjadinya pembuahan pada sel telur sebagai akibat tidak adanya badak jantan subur di alam liar.

Pada tahun 2011, Universitas Mulawarman, BKSDA dan Pemkab Kutai Barat memasang camera trap yang berhasil merekam aktifitas badak Sumatera Kalimantan. Dari beberapa rekaman yang didapatkan, diyakini masing-masing badak tersebut adalah individu-individu yang berbeda. Kabar penemuan ini merupakan berita gembira bagi masyarakat Indonesia yang peduli dengan badak. Penemuan badak ini merupakan harapan bagi dunia konservasi Indonesia. Dengan penemuan ini kita masih dapat berharap untuk melestarikannya.

Akhir kata, semoga kita semua sadar akan pentingnya biodiversitas dan ikut serta dalam upaya pelestariannya. Termasuk pelestarian badak sumatera di kalimantan yang diperkerikan jumlahnya saat ini tidak lebih dari 30 ekor.

Comments

Popular posts from this blog

Jenis-jenis Sepatu untuk Mendaki Gunung

Sepatu adalah salah satu perlengkapan paling vital dalam sebuah pendakian gunung, sebuah pendakian bisa menjadi sebuah perjalanan penuh derita jika anda salah memilih sepatu mendaki. Karena itu, pilihlah sepatu yang tepat untuk pendakian anda.  Tapi seperti apa sepatu yang baik untuk mendaki gunung? Hal ini akan tergantung dari medan yang akan anda lewati, lain padang lain ilalang, lain medan lain sepatu... :) Setelah mengetahui  medan pendakian yang anda lewati, berikut ini adalah beberapa jenis sepatu yang bisa anda pertimbangkan untuk anda gunakan dalam pendakian tersebut.
Sepatu Hiking (Hiking Shoe) Sepatu model potongan rendah dengan sol fleksibel, jenis sepatu ini cocok untuk pendakian harian. Bentuknya serupa dengan sepatu lari atau olahraga. Banyak backpacker ultralight yang menggunakan sepatu jenis ini untuk perjalan jauh, namun jenis sepatu ini mendukung lebih sedikit macam kegiatan. Sepatu ini cocok jika anda bepergian ke tempat yang memiliki jalur yang jelas dan jalur pen…

Horor Kampus IPB Baranangsiang

Kota Bogor memiliki banyak objek wisata yang menarik, salah satunya adalah bangunan kampus IPB Dramaga yang berada di tengah-tengah kota bogor, seberang jalan Kebun Raya Bogor. Sebagian area kampus ini sekarang telah menjadi bangunan yang kita kenal sebagai Mall Botani Square, Alhamdulillah pemerintah kota Bogor bersama pejabat-pejabat di Institut Pertanian Bogor telah menetapkan bangunan Kampus IPB Baranangsiang tersebut sebagai sebuah situs cagar budaya.


Sebagai salah satu bangunan tertua di kota Bogor, kampus IPB Baranangsiang memiliki banyak kisah Urban Legend. Beberapa yang paling terkenal adalah kisah tentang dosen misterius dan elevator tua. Kisah tentang dosen misterius saya dengar dari salah satu teman  sekelas saya di Pascasarjana ARL, beliau mendapatkan cerita itu dari seorang kakak tingkatnya. Jadi saya juga tidak mendapatkan langsung dari yang mengalaminya sendiri.

Menurut cerita teman saya tersebut, pada suatu malam (kuliah malam), suatu ruang kuliah sudah di penuhi oleh…

Es Cendol 88 Pontianak Paling Mantap

Pontianak adalah salah satu kota paling panas di Indonesia, tapi panasnya beda dengan panas di Jakarta atau kota-kota besar di Indonesia lainnya (nb:saya tidak bilang Pontianak itu sebesar Jakarta atau kota lain). Seperti apa perbedaan panasnya? Kalau di Jakarta atau kota besar lainnya, panasnya lebih disebabkan kurangnya ruang terbuka hijau atau tingginya tingkat polusi, seperti sama-sama kita ketahui. Nah, kalau Pontianak, panasnya itu karena kota ini berada pas di garis Khatulistiwa. Bicara soal panas, pasti enak sekali kalau lagi panas-panasnya kita nyeruput es. Bagi warga Pontianak, es apa yang paling enak pas tengah hari yang panas "bedengkang" (red: sangat panas sampai terasa memanggang)?

Kalau saya paling senang dengan es cendol, dan juaranya es cendol di Pontianak adalah Es Cendol 88, pernah dengar? pasti pernah kan? Atau paling tidak pernah lihat di tepi jalan. Dulu waktu masih SMA (2001-2003), saya dan teman-teman saya sangat menyukai es cendol yang satu ini. Seo…