Friday, November 21, 2014

Realistis, Pesimis dan Optimis


Sedang surfing-surfing tanpa tentu rudu, Saya membuka Youtube. Karena tertawa seperti kebutuhan sehari-hari, saya buka video-video lawak seperti OVJ dan ILK. Nah, cerita kali ini terinspirasi dari salah satu video ILK yang menurut saya merupakan edisi yang spesial karena untuk beberapa menit Cak Lontong yang dari namanya saja sudah lucu memparodikan om Mario Teguh. Memang lucu, dan menurut saya dia sangat mahir menirukan gelagat dan cara-cara bicara om Mario. Saya yakin om Mario juga akan tertawa lebar menyaksikannya.

Dari sekian menit bicaranya yang lebih banyak ngelantur, ada satu tema yang ingin saya soroti, yaitu tentang Pesimis, Optimis, dan Realistis. Cak Lontong menjelaskan ketiga hal tersebut dengan perumpamaan  sebuah Pelayaran. Setelah berlayar, kira-kira setengah perjalanan ternyata angin berubah. Menurut Cak Lontong, orang Pesimis akan mengeluhkan perubahan angin tersebut, orang Optimis akan berharap bahwa angin akan berubah kembali ke arah semula, sedangkan orang realistis yang berada diantara optimis dan pesimis, akan menyesuaikanarah layar dan mengikuti kemana arah angin. Demikian menurut Cak Lontong. Tapi, menurut saya penjelasan tersebut sangat kurang tepat jika tidak bisa dikatakan tidak tepat.

Dalam kasus pelayaran diatas, menurut saya penjelasan yang lebih rasional adalah orang pesimis akan berpikir bahwa mereka tidak akan bisa sampai ke tujuan mereka, maka mereka memutuskan untuk pulang ke tempat berangkat mereka dan terus berpikir mereka tidak akan bisa sampai ke tempat tujuan mereka. Sedangkan orang optimis, dia akan berpikir bahwa mereka pasti bisa mencapai tempat tujuan mereka walaupun arah angin berubah, walaupun badai menghadang, walau apapun yang terjadi.

Bagaimana dengan orang yang realistis? Disinilah kesalahan fatal (hiperbola) dari Cak Lontong, Realistis tidak dapat diletakkan pada tempat yang sama dengan Optimis dan Pesimis. Jika kita katakan Optimis dan Pesimis adalah "sikap", maka Realistis kesadaran akan pengetahuan yang mendasari sikap. Dalam konteks waktu, Realistis adalah apa yang kita ketahui pada saat ini, sedangkan optimis dan pesimis adalah prediksi atas masa depan.

Realistis
Realistis adalah kesadaran akan realitas, agar manusia sadar akan realitas inilah maka Allah SWT menganugrahkan keingintahuan pada setiap manusia. Keingintahuan manusia membuatnya selalu mencari pemahaman yang lebih baik tentang dunia ini, sehinggal lahirlah berbagai macam ilmu yang terus berkembang. Yang sebenarnya setiap tujuan tersebut berujung pada suatu muara, pemahaman akan hakikat (filsuf mode on :p ). Kumpulan realitas dalam bentuk ilmu dan pengetahuan ini akan membantu manusia untuk membuat prediksi atas masa depan. Dari prediksi dan perkiraan-perkiraan tersebut maka akan dilahirkan sikap pesimis atau optimis.

Pesimis dan optimis
Sikap pesimi memang dilahirkan dari prediksi dan perkiraan-perkiraan tentang masa depan, tapi tidak hanya itu, ada faktor faktor lainnya. Misalnya kita anggap faktor kepribadian dan pengalaman. Faktor kepribadian terbentuk dari kebiasaan dan lingkungan sehari-hari individu yang terkait, misalnya orang tuanya atau teman-temannya terbiasa mencela dan merendahkan kemampuannya, maka orang tersebut dapat menjadi pesimis. Pada individu yang berada dalam lingkungan penuh semangat dan gairah kebaikan, maka individu terkait bisa menjadi orang yang sangat optimis dalam hidupnya.

Apakah optimis selalu baik dan pesimis selalu buruk?
Mungkin banyak dari kita berpikir bahwa kita harus selalu berpikir optimis dan menghindari sikap pesimis. Menurut saya ini kurang tepat, semua hal punya tempat dan ukuran masing-masing. Kita tidak bisa menerapkan satu konsep atau solusi pada semua hal dan masalah yang kita hadapi. Maksudnya, ada waktunya kita harus optimis, dan ada waktunya kita harus pesimis. Pertanyaannya adalah, "Kapan kita akan bersikap optimis atau pesimis?"

Kembali ke atas, keputusan untuk bersikap optimis atau pesimis muncul dari prediksi dan perkiraan yang lahir dari kesadaran realitas (realistis). Disinilah pentingnya ilmu pengetahuan, karena inilah mengapa orang berilmu itu sangat dihargai pada zaman modern ini. Karena orang berilmu itu bisa kita katakan dapat memprediksi masa depan berdasarkan pemahamannya akan realitas. Kurangnya pemahaman akan realitas bisa membuat si Optimis gagal dan merugi, dan membuat si Pesimis kehilangan kesempatan emasnya.

Kembali ke contoh dalam satu pelayaran
Satu orang memiliki kepribadian yang selalu optimis, dia selalu yakin apa yang akan dilakukannya pasti berhasil. Dia kemudian memutuskan untuk berlayar menuju suatu tempat di seberang lautan, dia memang bsia menggunakan kompas, namun navigasi bukan hanya kompas, tetapi juga peta. Dan si Optimis ini tidak mengerti bagaimana membaca peta. Dia juga tidak memiliki kemampuan untuk membaca tanda alam dan memprediksi angin dan badai. Akhirnya, dia bisa saja karam bersama kapalnya di laut lepas.

Selanjutnya, satu orang dengan kepribadian yang selalu pesimis, dia selalu berpikir tidak ada sesuatu hal di dunia ini yang bisa dikerjakannya dengan benar. Suatu saat di mengetahui dia memiliki kesempatan menjadi kaya dengan mengarungi lautan untuk sampai disuatu tempat yang banyak sumber dayanya, namun karena tidak tahu bagaimana cara berlayar, tidak tahu cara membaca tanda alam maka dia selalu takut untuk mengarungi laut. Dalam pikirannya, laut itu sangat ganas dengan gelombang tinggi dan badai yang selalu mengintai. Walaupun musim angin sedang sangat baik, tapi karena dia tidak tahu dan pesimis maka dia tidak pernah berlayar. Hingga akhirnya dia tetap di tempatnya semula sepanjang hidupnya.

Demikianlah ilustrasi tentang orang optimis dan pesimis itu. Selanjutnya, dapat saya simpulkan bahwa sikap optimis dan pesimis harus memiliki dasar berupa kesadaran akan realita yang kita sebut realistis. Kesadaran akan realita akan membantu kita untuk mendapatkan keuntungan dari pilihan untuk bersikap optimis dan menghindari kerugian kehilangan kesempatan karena pesimis.

Saya menyadari ini hanya pendapat saya, saya yakin  ada yang kurang tepat baik dalam makna maupun kosakata, karena itu silahkan koreksi jika Anda mengetahui kesalahan tersebut. Saya akan sangat menghargainya, karena ilmu tak terbatas, tapi pemahaman manusia terbatas. Dan, mari berbagi pemahaman untuk memahami dunia ini dengan lebih baik.

2 comments:

  1. Kalau Kamu sendiri termasuk yang suka optimia, pesimis atau melihat realita..? hehhehe.. Btw, aku juga suka sama Cak Lontong, menghibur dan lucu dengan logat medoknya itu, ehhehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu saya termasuk orang yang selalu optimis mbak, seringnya terlalu optimis, sekarang saya mencoba untuk menjadi seperti yang saya tulis diatas, mencoba memahami realita lebih baik... baru melakukan segala sesuatunya dengan optimis...
      terimakasih sudah mau singgah dan meninggalkan komentar mbak... :)

      Delete