Thursday, November 20, 2014

Kreatifitas di Tengah Tekanan Kota Besar

Beberapa tahun tinggal di Bogor (sebenarnya di Kabupaten Bogor) rasanya sudah cukup untuk sekedar tahu dengan kondisi sosial masyarakatnya, walaupun hanya bagian permukaan saja. Permukaan maksudnya bagian yang bisa langsung terlihat tanpa menggali lebih dalam. Satu dari banyak gejala (masalah) sosial di Bogor yang cukup menarik perhatian saya adalah tentang kreatifitas masyarakat untuk mencari beberapa rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kreatifitas masyarakat dalam mendulang rupiah di kota hujan ini bagi saya sangat asing, tidak pernah saya melihatnya di kota asal saya Pontianak, namun mungkin tidak akan sulit menemukan kreatifitas-kreatifitas yang akan saya ceritakan di kota-kota besar lain di Indonseia.

Kreatifitas-kreatifitas tersebut muncul dari banyak masalah-masalah yang menurut saya sebenarnya dibiarkan oleh pemerintah. Masalah yang seharusnya relatif mudah untuk dicegah, namun mungkin mereka berpikir "Bukan Urusan saya." Saat ini, berbagai permasalahan yang melahirkan kesempatan dan kreatifitas tersebut seolah telah menjadi bagian keseharian masyarakat yang sudah sangat biasa. Bahkan mungkin sudah tidak lagi dianggap sebagai masalah.

Selanjutnya, mungkin pembaca yang budiman mulai penasaran apakah yang saya maksud dengan kreatifitas masyarakat diatas. Baiklah saya sampaikan satu-persatu, namun perlu saya informasikan bahwa cerita ini utamanya berlokasi di Bogor sekitar kampus pertanian terbesar di Indonesia.

- Pak Ogah
Kita tidak sedang membicarakan Pak Ogahnya si Unyil, Pak Oga disini adalah orang-orang yang bekerja membantu memperlancar arus lalu lintas di jalan atau membantu pejalan kaki menyebrangi jalan. Untuk bantuan mereka, Pak Ogah mendapat imbalan secara sukarela dari orang-orang yang dibantunya. 
Pak Ogah sebenarnya muncul karena terdapat masalah pada sistem transportasi, namun terkadang mereka yang memunculkan masalahnya. Lain padang lain ilalang, demikian pula kelakuan Pak Ogah, di Bogor tempat dekat tempat saya tinggal sepertinya cukup membantu, namun di tempat lain misalnya Jakarta, sepertinya mereka malah menimbulkan masalah.

- Pengemis
Pengemis sepertinya sudah menjadi masalah nasional, hampir di semua kota besar di Indonesia memiliki masalah dengan pengemis. Pengemis ada yang beroperasi secara mandiri, ada juga yang secara terkoordinasi alias ada koordinatornya. Yang cukup memprihatinkan adalah banyaknya anak-anak kecil (mungkin 8-12 tahun) yang mengemis. Mereka biasanya berpakaian seperti anak pesantren membawa kantong berisi map yang entah apa isi dari map itu.

- Penjaga WC
Tidak jelas apakah mereka yang membersihkan WC yang mereka jaga atau tidak, tapi menurut saya sepertinya mereka adalah penjaga WC yang illegal, hanya ingin mengutip uang kebersihan yang seharusnya tidak ada. Kenapa seharusnya tidak ada, karena seharusnya mereka sudah dibayar oleh pemilik gedung atau fasilitas umum. Di Bogor, kita bisa melihat penjaga-penjaga WC ini di stasiun kereta, pusat perbelanjaan, dan kebun raya.

- Pengamen
Pengamen memiliki banyak varian, dari yang diamnya lebih baik dari pada nyanyiannya hingga  yang suaranya seperti artis , dari yang hanya menggunakan tepukan tangannya hingga menggunakan gitar dan gendang (berkelompok), bahkan ada yang membawa gerobak berisi soundsystem, dari lak-laki tulen, perempuan tulen hingga perempuan jadi-jadian.
Dua jenis yang tidak ingin Anda temui adalah pengamen yang hanya menggunakan tepukan tangannya sebagai penggiring nyanyiannya yang seolah mengamcam dan pengamen perempuan jadi-jadian.

Sebenarnya masih banyak bentuk kreatifitas lainnya, in sya Allah akan saya lanjutkan lagi. Sekarang inspirasinya mulai tersendat.

0 comments:

Post a Comment