Saturday, October 4, 2014

Shalat Id di Lapangan Sempur


Takbir mulai menggema di langit Cibanteng, rasanya kali ini ramai sekali dan lebih bersemangat di banding sebelumnya. Saya sendiri sudah shalat Idul Adha tadi pagi, baru kali ini rasanya kami ikut shalat Id mengikuti Muhammadiyah. Sedikit cerita dari lapangan tempat shalat Id tadi.

Waktu shalat yang di pending selama 15 menit untuk menunggu jamaah yang masih berdatangan, bahkan sampai ada yang masbuk (itu takbirnya gimana ya?). Sejauh ingatan saya shalat Id di Pontianak, tidak pernah sekalipun ada istilah waktu shalat di undur, demikian pula saat saya shalat beberapa kali di kampus IPB. Jadi baru kali ini saya mengalami pengunduran waktu shalat. Dengan keterbatasan pengetahuan saya tentang ilmu agama, bagi saya pengunduran tersebut tidak menjadi masalah. Hanya menjadi bahan pikiran, kenapa hal itu bisa terjadi.

Berdasarkan analisis yang mendangkal yang telah saya lakukan, menurut saya hal yang menjadi penyebab utama pengunduran ini adalah waktu shalat id yang berbeda. Memang bisa juga kita katakan ini disebabkan oleh kemacetan yang merupakan hal yang sangat sangat biasa di Bogor, tapi bagaimanapun waktu shalat id biasanya jalanan akan lebih lapang, karena orang-orang yang ramai dijalan hanya ingin shalat. Berbeda dengan hari ini, jalan tidak hanya diramaikan oleh orang yang akan shalat, tetapi juga oleh anak-anak sekolah dan orang-orang kantoran yang tidak libur pada hari ini karena pemerintah memutuskan kalau idul Adha jatuh pada esok hari, jadilah jalanan penuh dengan orang-orang yang memiliki tujuan berbeda.

Kejanggalan yang kedua adalah, banyak orang-orang yang meninggalkan tempat duduknya sementara ceramah masih berlangsung. Ini bukan karena saya merasa "sok alim", tapi karena menurut saya perintah shalat id sangat jelas, tidak hanya untuk shalat, tapi juga untuk mendengarkan ceramah dari khatib. Jadi setelah shalat, tetaplah duduk di posisi semula untuk mendengarkan ceramah, kecuali jika memang ada urusan yang berhubungan dengan "dua pintu". Namun itupun seharusnya kita kembali lagi ke posisi semula setelah selesai dengan urusan "dua pintu". Di lapangan tadi banyak yang memindahkan diri ke tepi lapangan yang banyak pohon dan duduk di pagar pot tanaman. Bahkan berdasarkan keterangan dari dinda, banyak yang berbelanja mainan untuk anaknya.

Hanya itu kejanggalan yang saya temukan secara langsung, mohon maaf jika cerita ini menyinggung sebagian orang, tapi mudah-mudahan bisa menjadi pembelajaran, terutama bagi saya sendiri, dan rekan-rekan yang akan shalat id besok.

0 comments:

Post a Comment