Tuesday, September 16, 2014

Stakeholder Discussion

Pagi-pagi kemarin jam 8 udah di kampus, tumben tumbenan. Tapi tumbennya pakai alasan kok, ada acara di Andi Hakim Nasution, acaranya Stakeholder Discussion dengan tema "Dampak Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) Terhadap Sektor Peranian Secara Luas". Saya stakeholder juga, dari akademisi , hehehe.

Karena tidak mau terlambat ikutan diskusinya, kami membatalkan sarapan bubur pak soleh yang sudah lama sekali tidak kami rasakan. Lama pula kami tidak melihat proses peramuan bubur Pak Soleh yang seperti dilakukan dengan SOP yang jelas. Tapi ya sudahlah, namanya belum rezeki.

Acaranya selesai jam 12 lewat, kami langsung ke Masjid di belakang Rektorat. Selesai shalat kami belanja ke Bara, toko Agro apa gitu namanya. Belanja sayur, kacang hijau (karena tidak ada beras ketan hitam), bawang merah dan putih, dll. Setelah belanja, singgah juga di warung jus buah. Warung jus buah ini adalah sebuah fenomena menurut saya, selalu ramai dengan tempat yang sangat sempit, mungkin lain kali kita bahas lebih dalam (seolah-olah). Kemarin kami makan jus buah sirsak, saya ng-fans sekali dengan buah yang satu ini. Bukan saya suka karena dulu waktu masih kecil ada pohonnya yang sangat subur di belakang rumah (mau tau kenapa sangat subur? saya yakin tidak ada yang mau tahu), oke, itu juga salah satu alasannya, soalnya dulu buahnya sering dibuang-dibuang, jadi ada rasa bersalah sama buah sirsak. Tapi ada alasan yang lebih penting dari itu, saya suka jus buah sirsak karena konon katanya buah yang satu ini punya zat anti-kanker yang sangat kuat dan efektif. Wait... saya makan bukan berarti saya juga kena kanker, memang ada kemungkinan juga, who knows, siapa saja bisa kena, jadi untuk berjaga-jaga saja.

Lanjut, pulang kerumah, perut sudah rusuh, sementara didinginkan dengan jus sirsak yang memang dingin. Padahal sesuatu yang terlalu dingin adalah musuh tonsil saya, tapi yah... begitulah, manusia memang sering sekali senang kepada sesuatu, padahal itu buruk baginya, ya, saya juga manusia. Bukan jusnya yang buruk, tapi dinginnya yang tidak baik bagi saya. Namun ada yang lebih kami khawatirkan sore kemarin, air di kamar mandi dan dapur tidak mengalir, setelah menghidupkan mesin di rumah "host" kontrakan kami, airnya tidak juga mengalir... really bad time... alhasil tidak bisa masak. Saya kira karena air sumur telah mengering, jadi mungkin perlu waktu hingga air sudah mengisi lubang sumur lagi. Memang cuaca sedang panas-panasnya dalam beberap minggu ini, kering, berdebu, tanaman-tanaman juga me-layu. Saya teringat kira-kira dua tahun lalu saat udara juga sedang panas-panasnya, kontrakan teman kami yang berada didepan rumah kontrakan kami (hanya selisih satu rumah) kekeringan, maka kami berbagi air. Tapi kali ini, kontrakan teman kami tersebut sudah didiami oleh pemiliknya, jadi kemana kami akan mencari air?

Lupakan masalah mandi, perut kami dalam kondisi penting dan mendesak. Kami putuskan untuk makan diluar. Target kali kemarin adalah Midori... bukan bu guru midori.... midori adalah sebuah rumah makan yang terletak di jalan Bateng disamping toko ikan yang sering dilihat sama mbak Roosna, katanya Dinda.

Ayam goreng saus tiram, capcay, dan dua piring nasi. Yummi!

Selesain makan kami putuskan untuk bersantai sebentar di kampus, dibawah rimbun daun-daun ki hujan yang tampak layu, tapi bukan karena kekeringan seperti tanaman-tanaman di depan kontrakan kami, mereka layu karena memang sudah waktunya. Daun-daun itu seperti punya jam kerja juga. Saat matahari menjelang tenggelam, daun-daun itu layu seperti kekeringan, namun besoknya akan segar kembali hingga akhir hari.

Sedang bersantai, saya melihat handphone, ternyata ada panggilan tak terjawab dari nomor dosbing... wajah saya langsung merunduk layu seperti daun-daun kihujan menjelang petang. Darah seperti bersembunyi dan menjauh dari kulit (ada sedikit dramatisir disini). Suasana hati yang sedang santai dibawah hijaunya kanopi taman pendidikan mendung seketika. Entah terpengaruh atau tidak, badai melanda perut... selanjutnya tidak usah diceritakan... skip.

Kami sampai dirumah, ternyata air tidak mengalir bukan karena sumur kering tapi karena saringan pompa nya rusak atau apalah saya tidak tahu. Pokoknya malam sudah  mengalir lagi. Alhamdulillah.

2 comments:

  1. Hehehe, kenang-kenangan y da... ^^ walaupun judulnye sebenarnye kurang nyambung. hihihi...

    Btw, alhamdulillah airnye ngalir. Kalau ndak, bise ndak mandi n makan malam... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. tulah din, memang kurang nyambung, nyambung dikit jak... acara yang paling penting hari senin kemaren tu memang SD-nye.... :D

      Delete