Tuesday, September 30, 2014

30 September, antara memori dan prasangka

30 September, hari yang (dipropagandakan) mengerikan bagi banyak rakyat Indonesia. Sebagai generasi yang mulai sadar sejarah sebelum reformasi, saya ingat setiap malam tanggal 30 september, TVRI akan menayangkan film yang berjudul G30S/PKI. Sebagai generasi yang lahir pada tahun 90-an (maksudnya sebelum tahun 1990), saya tidak tahu tentang apa yang dirasakan oleh umat Indonesia pada tahun 70-an yang mencekam, tahunya hanya dari cerita-cerita sejarah dalam buku-buku yang ada disekolah. Konon katanya, buku-buku itu juga berisi propaganda dari pemerintah orde baru untuk menjaga kelangsungan kekuasaan mereka. Who knows? Mungkin banyak, tapi saya sendiri tidak tahu dan tidak mendalami itu.

Sekarang, setelah reformasi (yang katanya) pemberontakan PKI itu tidak lagi diputar, dengan demikian saya bisa mengatakan bahwa film itu sekarang dianggap sebagai propaganda, jadi jangan terlalu di ambil hati.

Sedikit cerita tentang film itu, apa yang dipertontonkan memang relatif mengerikan buat saya. Ada satu adegan yang menurut saya paling mengerikan, yaitu saat para jenderal di habisi oleh gerombolan pemberontak. Dalam adegan itu, kalau tidak salah diperlihatkan salah satu pemberontak memegang pisau silet, mengancamkan silet tersebut sambil mengatakan "Darah itu merah jenderal." Namun saat ini telah disepakati bahwa adegan-adegan dalam film tersebut adalah rekaan.

Lepas dari semua memori dan prasangkat tentang pemberontakan dan film tersebut, kita harus selalu berdoa agar kejadian tersebut tidak terulang. Terlebih kejadian yang mengikuti pemberontakan tersebut. Menurut sumber yang pernah saya baca, mungkin sekitar 3 juta nyawa melayang akibat tersulutnya amarah rakyat.

Kembali ke masa kini, hari ini, pagi ini.
Bogor pagi ini relatif dingin setelah semalam turun hujan yang hanya "say hello" tanpa mau berpanjang lebar becengkrama dengan kami. Sudah beberapa minggu ini hujan berlaku demikian, mungkin mereka sedang sibuk di tempat lain, sehingga tidak sempat singgah terlalu lama, kami maklum saja, soalnya banyak perubahan terjadi di langit dan mungkin itu membuat mereka agak kerepotan untuk mengatur jadwal. Lagipula manusia juga yang menyebabkan perubahan jadwal tersebut.

Ok, mudah-mudahan kita semua urusan kita lancar pada hari selasa yang cerah dan dingin ini. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin.

0 comments:

Post a Comment