Saturday, July 12, 2014

Negeri para Oportunis

Ciampe..ciampea...pea..pea..pea...

Suara supir berteriak-teriak  memberikan pengumuman kepada semua orang yang lewat di jalan Sindang Barang, tidak jauh dari terminal Laladon. Sangat sering saya lewat di tumpukan angkot yang selalu ramai tersebut, memenuhi jalan raya yang seharusnya bukan menjadi tempat ngetem mereka. Tapi apa daya, semua sudah terbiasa. Para supir terbiasa menunggu di tepi jalan raya dan bertumpuk, para calon penumpang terbiasa  memilih naik di tepi jalan daripada menunggu di dalam terminal yang tidak jelas manajemennya (setahu saya, bisa jadi salah), dan aparat pemerintah terbiasa dengan kekacauan itu.

Siapapun yang tinggal di sekitar jalur itu, atau sering menggunakan jalur itu harus terbiasa dengan kekacauan tersebut. Tapi mungkin bukan hanya di jalur itu saja, tetapi di semua jalur di Jabodetabek. Tapi sudahlah.

Terlepas dari masalah banyaknya kendaraan yang juga dialami oleh kota-kota satelit dari DKI, ada satu hal khusus yang membedakan kemacetan yang setiap hari di jalan dekat terminal laladon tersebut, yaitu posisi terminal yang terlalu dekat dengan terminal Bubulak. Posisi yang terlalu dekat membuat penumpukan angkot yang luar biasa di jalur tersebut tentang ini silahkan baca di situs lain.

Langsung ke intinya, ini adalah masalah pendapatan daerah, sebagaimana kita maklumi, terminal adalah sumber pendapatan daerah yang cukup besar. Tidak ada kesepatakan antara Pemkot Bogor sebagai pemilik Terminal Bubulak dengan Pemkab Bogor sebagai pemilik Terminal Laladon tentang bagaimana memperbaiki sistem transportasi yang melibatkan kedua terminal tersebut. Jadi tidak perlu panjang lebar dengan penjelasan yang njelimet karena saya sendiri kurang paham dengan masalah-masalah bawaan dari persoalan ini, menurut saya solusinya hanya akan muncul jika kedua pihak bersedia untuk duduk bersama. Itu, menurut saya. Dan saya juga tidak punya solusi konkret, disini saya hanya ingin menulis tentang masalah itu.

Mengapa saya ingin menulis ini? Karena bagi saya masalah ini sangat berkesan dan membekas, kenapa sangat berkesan? Karena saya berasal dari kota yang bernama Pontianak yang mungkin banyak orang mengira kota tersebut masih dikelilingi hutan. Dulu (seingat saya), jalan-jalan di Pontianak tidak terlalu ramai, motor masih bisa bergerak dengan kecepatan rata-rata 40-50 km/jam. Tapi setelah beberapa lama tinggal di Bogor, saya menyadari bahwa kecepatan rata-rata motor mungkin hanya 10-20 km/jam. Walaupun Anda menggunakan Ninja 250 cc, kecepatan Anda paling hanya mencapai rata-rata 30 km/jam, pada jam sibuk.

Kemudian, kesan lainnya adalah, ternyata Bogor tidak hanya pantas dijuluki kota hujan, tapi juga kota Seribu Angkot. Hampir mustahil Anda berada di jalan raya dan tidak melihat angkot, . Jadi jika Anda berencana tinggal di Bogor jangan khawatir jika Anda tidak punya kendaraan pribadi karena "selalu ada angkot di jalan". Meskipun seringkali harus ikut terjebak di dalam angkot yang sedang terjebak macet. Setidaknya Anda tidak sedang memegang stir mobil seperti yang setiap hari dilakukan supir angkot.

Cerita tentang angkot, angkot di Bogor memiliki kemampuan yang sangat luar biasa menurut saya. Kalau di Pontianak (tanah kelahiran saya), hanya motor bisa merangsek k trotoar pejalan kaki, di Bogor, angkot pun bisa, dan hanya tiang listrik atau tiang telpon yang bisa menghentikan mereka (#lebaydikit). Tapi ini serius, angkot bisa memotong jalan kendaraan di depannya dengan menyalip dari sebelah kiri lewat trotoar atau turun dari badan jalan. Ini adalah pemandangan yang sangat lumrah sepertinya di Bogor.

Jika angkot saja bisa sampai naik trotoar, apatah lagi dengna motor (saya pernah juga sih... :)

Begitulah, rasanya sulit untuk bergerak dengan cepat di kota ini jika kita tidak ikut-ikutan oportunis. Dan mungkin secara tidak sadar, sikap oportunis inilah yang dibawa oleh orang-orang di senayan yang dulunya adalah rakyat juga.

0 comments:

Post a Comment