Saturday, April 12, 2014

Kunjungan Pertama ke Selimpai Paloh (2-selesai)


Malam, kami bingung juga dengan apa yang akan kami lakukan, karena memang tidak ada perencanaan yang matang tentang agenda kami. Hanya satu yang pasti ingin kami lakukan, yaitu melihat penyu yang naik ke daratan dan bertelur. Jadilah malam itu hanya ngobrol-ngobrol di pantai menunggu malam semakin larut.

Antara jam 7 hingga jam 9 ( tepatnya lupa, ini juga kalau tidak salah), seorang laki-laki datang dari arah dermaga. Dengan sedikit bertanya kami tahu bahwa dia adalah petugas yang akan mengumpulkan teluar penyu di pantai tersebut.

Terlalu letih dengan perjalanan, akhirnya tetap diam di tempat berharap penyu mendarat di dekat tempat kami. Namun hingga menjelang tengah malam tidak seekor pun penyu menyapa kami.

Akhirnya kami putuskan untuk berjalan ke arah tanjung sambil berharap ada seekor penyu yang mendarat. Dan hingga kami sampai di tanjung, hanya bekas lintasan penyu yang bisa kami lihat sebanyak dua jalur. Bekas pendaratan penyu memang unik dan mudah dikenali. Tapi, hanya bekas, tidak ada penyu.

Saya sempat tertidur di tanjung, sementara teman-teman yang lain mungkin masih ngobrol-ngobrol. Sekitar jam 2 saya dibangunkan dan kami berjalan kembali menuju ke arah shelter BKSDA tempat perawatan tukik. Dengan sisa-sisa tenaga yang terkuras setelah perjalanan seharian, dan rasa ngantuk yang begitu berat, saya berjalan terhuyung-huyung, ingin rasanya langsung tidur saja di pantai tersebut. Namun  hasrat untuk bertemu dengan penyu mengalahkan letih dan ngantuk, jadilah saya tetap berjalan.

Sampai di pantai dekat shelter, tetap tidak ada penyu yang terlihat. Menjelang pagi, laki-laki yang kami temui semalam kembali ke arah dermaga. Darinya kami ketahui tidak banyak penyu yang mendarat malam itu, mungkin hanya dua ekor. Memang pada bulan-bulan keberangkatan kami memang bukan musim pendaratan penyu yang ramai.

Pagi, persediaan air semakin menipis. Tidak ada lagi makanan, badan semakin letih. Meskipun pemandangan Selimpai di pagi hari sangat-sangat indah, rasanya tidak cukup untuk mengobati haus dan lapar yang kini mendera.

Kami sepakati untuk menelpon pemilik perahu yang petang kemarin mengantar kami, tidak ada perahu yang bisa menjemput kami hingga siang hari nanti sesuai perjanjian kemarin... what? Ya, kami harus legowo, karena memang perjanjiannya kami akan dijemput siang hari ini.

Jadilah kami zombie di Pantai Selimpai, tanpa air, tanpa makanan, hanya pemandangan.

Sedikit hiburan, Rio mengeluarkan perlengkapan memancingnya. Bermodal tali dan sedikit umpan cacing yang dibawanya dari Sekura (inilah yang membuatnya agak lama kemarin),kami menuju dermaga. Saya sendiri yang juga senang memancing ikut kegiatan ini.

Cukup lama menunggu, akhirnya ada ikan yang menyenggol umpan saya, sementara Rio sudah beberapa kali menaikkna ikannya (saya bingung, apa yang membedakan umpan saya dengan umpan Rio? Ternyata ikan-ikan di sungai ini cukup diskriminatif). Sayangnya tarikan pertama gagal, setelah mendapat sedikit wejangan dari Rio, saya pun kemudian berhasil menaikkan ikan pertama saya, kedua, ketiga, selesai. Alahmdulillah.

Tiga ekor ikan Kitang menjadi korban sarapan yang sekaligus makan siang kami. Ikan dengan bentuk agak discus dengan ketebalan sedikit lebih tebal dari ikan sepat. Untuk berenam... tetap.. Alhamdulillah. Ada sedikit pengganjal perut kami, walaupun lapar tetap bersemayam di perut kami.

Dari pagi hingga tengah hari kami jadi anak pantai, nongkrong sambil ngbrol, tanpa air, tanpa makanan, seperti puasa.

Menjelang pukul 2, akhirnya perahu datang, tapi perahu yang berbeda, lebih kecil. Memang ini tidak sesuai dengan perjanjian pembayaran kami kemarin yang membayar lebih untuk perahu yang lebih besar. Tapi siapa yang perduli, toh kemarin juga kami bayar mahal karena memang tidak ada lagi orang yang mau menyebrangkan kami.

Dan kami satu perasatu naik ke atas perahu yang kemudian bergerak perlahan meninggalkan dermaga. Membelah air sungai Paloh... Kami semua merindu... Air... :D

Ya pastinya kami juga akan merindukan Pantai Selimpai yang indah permai. :D

2 comments:

  1. keindahan ternyata tidak bisa mengobati rasa lapar, ye da...

    ReplyDelete
    Replies
    1. seindah apepun pemandangan... perut tetap perlu diisi din... :D

      Delete