Tuesday, April 1, 2014

Tindak Kekerasan Remaja

Teater, alternatif kegiatan bermanfaat untuk remaja.
Semalam baru baca berita, dalam 3 bulan terakhir telah terbunuh 17 wanita di kawasan kota Jakarta. Membacanya membuat kepala saya serasa jijik. Pagi ini kembali membaca berita mengejutkan, kali ini dari kota kelahiran saya, Pontianak. Seorang gadis remaja meninggal dengan bekas tusukan di dadanya. Setelah meinggalkan rumah pada sabtu kemarin, hingga hari minggu gadis tersebut tidak juga pulang. AKhirnya senin kemarin tubuhnya ditemukan sudah tidak bernyawa.

Berita-berita tindak kekerasan yang semakin banyak kita dengar di media seolah membuat kita semakin terbiasa dengan berita-berita tersebut. Dan sepertinya, orang-orang juga mulai menganggap tindak kekerasan tersebut biasa. Nyawa tidak lagi berarti, jika tidak senang dengan seseorang, langsung habisi.

Saya jadi teringat dengan kasus dua orang remaja yang beberapa waktu lalu membunuh seorang gadis hanya karena kecemburuan dan sakit hati yang sama sekali tidak berdasar. Foto yang diambil wartawan saat keduanya di bawa ke kantor polisi menunjukkan seolah keduanya tidak ada penyesalan sama sekali. Mungkin ini yang bisa kita sebut sebagai Phsyco. Tidak perlu saya ceritakan lagi kronologinya, karena sudah banyak dibahas. Pun, saya tidak ingin Anda yang membaca ini menjadi terbiasa dengan cerita-cerita tersebut.

Tidak lama setelah kejadian dua orang remaja tadi, media kembali diramaikan dengan berita tindak kekerasan lagi. Kali ini dilakukan oleh sekelompok remaja dengan motiv yang sama, cemburu. Sungguh menyedihkan, bahkan belum menjadi pasangan suami istri mereka sudah berani menganiaya perempuan yang pernah menjadi teman dekat .

Apa yang terjadi dengan generasi muda kita? Apa yang membuat mereka semakin brutal? Bukan pertanyaan yang sulit dijawab, karena jawabannya ada di rumah kita sendiri. Televisi, film-film kekerasan, dan lain sebagainya turut membentuk cara berpikir generasi mudah zaman sekarang. Media-media hiburan telah menjadikan mereka terbiasa dengan kekerasan dan menjadikannya jalan pintas dan sederhana untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya hanya emosi sesaat.

Namun sebenarnya ada faktor yang lebih besar pengaruhnya dari media, yaitu orang tua. Disini saya tidak bicara sebagai orang tua, karena saya sendiri belum menjadi orang tua (in sya Allah, jika Allah mengizinkan ingin segera menjadi orang tua). Kalau menasehati seperti orang tua rasanya kurang elok. Jadi saya bicara sebagai seorang anak. Anak yang mengalami pendidikan dari orang tua. Faktor dari orang tua adalah masalah perhatian dan kasih sayang. Anak-anak yang mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya umumnya akan menjadi orang-orang yang penyayang dan pencinta damai. Hal ini sudah banyak di ungkapkan penelitian-penelitian bidang psikologis.

Perhatian dan kasih sayang orang tua akan mengisi hati anak-anak sehingga tidak ada ruang untuk kekerasan seperti yang menyebar melalui media-media informasi dan hiburan. Perkembangan cara berpikir anak-anak menjadi lebih sehat dan tentu saja akan tercipta keluarga yang harmonis dengan anak-anak yang unggul.

Jadi, semua kembali ke dalam rumah kita sebagai komunitas terkecil yang ada dalam masyarakat. Didiklah anak anda dengan perhatian dan kasih sayang, bukan dengan cacian dan hardikan. Beri mereka contoh yang baik, hindarkan tayangan kekerasan, kurangi menonton tv, perhatikan pergaulan mereka, hindarkan dari kelompok-kelompok remaja yang kurang baik pergaulannya. Habiskan waktu lebih banyak dengan mereka, isi hari-hari mereka dengan sesuatu yang bermanfaat. Ada banyak pilihan kegiatan yang bisa dijalani remaja untuk mengisi waktu luangnya, misalnya alan-jalan bersama keluarga, petualangan, latihan musik, teater, dan lain sebagainya.

Sekali lagi, saya bicara sebagai seorang anak, bukan orang tua yang ingin mengajari orang tua lain yang mungkin jauh lebih berpengalaman. Tulisan ini juga menjadi catatan dan pengingat saya untuk kelak saat Allah telah menganugrahkan kami amanahnya.

0 comments:

Post a Comment