Saturday, April 12, 2014

Nebeng: Antara Sedan Mengkilap dan Kotoran Ayam

GIE, adalah salah satu film terbaik yang pernah di buat di Indonesia, setidaknya menurut saya. Film yang sangat menginspirasi generasi muda, film tersebut menghadirkan inspirasi tentang keberanian untuk melawan tirani dan berani menjadi orang terasing karena menjunjung tinggi kebenaran.

Tapi...

Tapi bukan inspirasi tentang keberanian tersebut yang akan dibahas disini, saya ingin bercerita sedikit tentang salah satu adegan dalam film tersebut dimana Gie bersama temannya menumpang sebuah mobil pick up pengangkut sayuran untuk menuju kaki gunung Gede Pangrango.

Kira-kira mungkin begitulah kondisi di kawasan pinggiran yang jauh dari keramaian di masa lalu, tidak ada sarana angkutan transportasi umum, sehingga mereka harus menumpang kendaraan pengangkut sayur. Jauh berbeda dengan sekarang, hampir semua jurusan ke kaki gunung yang terkenal terdapat sarana angkutan umum.

Namun, meskipun sekarang sudah banyak tersedia kendaraan umum, masih banyak juga orang-orang yang menumpang mobil semacam pick up seperti di dalam Gie tersebut. Tentu saja untuk menghemat uang.

Saya sendiri pernah juga mencoba untuk mendapatkan tumpangan gratis dengan memberhentikan truk. Pertama kali tersebut adalah saat saya baru turun dari pendakian gunung di daerah Singkawang untuk mengikuti salah satu proses pengkaderan pencinta alam di kampus. Sayangnya, setelah beberapa kali mencoba, tidak satu pun truk yang bersedia berhenti dan memberikan kami tumpangan. Mungkin tampang kami kurang memprihatinkan. Akhirnya kami mengalah, tidak ada pilihan lain selain melambaikan tangan pada bis umum.

Kali berikutnya, saya bersama seorang teman saya sesama anggota organisasi penggiat alam bebas di kampus. Setelah selesai dengan kegiatan pengawasan di lapangan, untuk menghemat uang kami  mencoba menjajal peruntungan. Kami sepakati untuk bergantian melambaikan tangan di tepi jalan sambil berharap ada mobil yang bersedia berhenti dan memberikan tumpangan.

Tidak hanya truk, bahkan sedan dan mobil-mobil mewah hitam mengkilap lainnya kebagian lambaian tangan saya.

Alhamdulillah...

Berkali-kali mencoba akhirnya...

Tetap tidak ada mobil yang berhenti, jangankan sedan hitam licin mengkilap, pick up kecil dengan muatan yang tidak terlalu banyak (menurut saya) pun tidak mau berhenti. Hanya lambaian tangan juga yang kami dapatkan.

Tapi kami tidak menyerah, saya sendiri tetap melambaikan tangan, hingga sebuah sebuah mobil lewat dengan perlahan di depan kami, agak ragu... dan... dia kembali melaju... #hedeh...

Namun karena saya tidak juga menyerah, akhirnya ada juga truk yang bersedia berhenti sejenak untuk menaikkan kami berdua. Alhamdulillah... "ke Batu Payung pak". Kami langsung naik setelah menyampaikan tempat tujuan kami. Dengan senyum puas kami duduk di dalam bak terbuka truk ukuran besar tersebut.

Jarak yang ditempuh sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi sedang juga kalau harus berjalan kaki, sekitar 10 Km. Dan dengan menumpang truk tersebut kami bisa menghemat uang, walaupun tidak banyak tapi sangat berarti buat kami... para Petualang Kere. Dan kami pun sampai di tempat tujuan kami dengan cepat, selamat dan hemat :D

Kasus nebeng diatas masih terulang lagi di kesempatan lain lagi. Kali berikutnya masih di sekitar kawasan yang sama, Singkawang. Hampir serupa dengan percobaan pertama yang gagal, kali ini kami mencoba lagi setelah mendaki gunung Pasi. Satu rombongan kami hanya berjumlah tiga orang. Untuk kali ini saya sebagai pengawas saja, tidak ikut mencoba menghentikan mobil, semua tergantung kreatifitas peserta kegiatan yang hanya satu orang (saya dan satu orang lainnya sebagai mentor).

Tak disangka, keberuntungan sedang berpihak ke Yuli yang menjadi pelaksana kegiatan. Sebuah berita yang baik, namun ada berita buruknya. Mobil yang dihentikannya adalah sebuah truk pengangkut pupuk kotoran ayam. Sekali lagi, Kotoran Ayam. Karung-karung kotoran ayam bertumpuk setinggi satu setengah meter di dalam bak terbuka truk. Kami duduk diantara bak dan kepala truk. Sementara carrier kami bertumpuk diatas karung-karung dengan aroma "parfum" yang sangat "menghibur" hidung tersebut.

"Ok, santai, santai, sebentar kok, hanya sampai simpang Sagatani nanti", mencoba menghibur diri didalam hati. Ternyata hiburan itu hanya berhasil menghibur hati dalam waktu singkat. Karena tiba-tiba truk berbelok ke dalam sebuah gang. "Kami diculik!". #sedikitdramatisasi

Tidak lama kemudian sang supir menyampaikan bahwa truk akan masuk sebentar ke dalam gang untuk mengambil sedikit muatan. "What?", bak udah sepenuh itu masih mau ditambah lagi? Tidak ada yang bisa kami lakukan selain pasrah. Kami ikut ke dalam gang yang ternyata adalah jalan masuk  menuju sebuah peternakan ayam ras. Karung-karung induk "parfum" kembali ditambahkan kedalam bak dimana kami menumpang. Cukup lama kami menunggu proses pemuatan tersebut, serasa sedang menunggu proses pembuatan pasport jaman dulu. Saya sendiri sempat jalan-jalan sedikit dan melihat-lihat di dalam peternakan tersebut.

Mungkin sekitar sejam kami menunggu, akhirnya mesin truk dihidupkan, dan kami kembali ke singgasana diatas feses unggas. Sungguh... sungguh...

Tapi biar bagaimana pun kami berhasil menghemat sedikit uang kami. Walaupun... walaupun... Ah sudahlah...

3 comments:

  1. Heheheh ekstrim nih, tapi ya lumayan uang nya sedikit agak irit :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... emang ekstrim buat hidung mas... entah bagaimana fikiran penumpang bus yang kemudian kami naiki setelah turun dari truk tersebut...
      terimakasih kunjungannya ya...

      Delete
  2. Hahaha... Cari tumpangan malah dapat kotoran ayam. Baunya pasti semerbak.

    ReplyDelete