Skip to main content

Nebeng: Antara Sedan Mengkilap dan Kotoran Ayam

GIE, adalah salah satu film terbaik yang pernah di buat di Indonesia, setidaknya menurut saya. Film yang sangat menginspirasi generasi muda, film tersebut menghadirkan inspirasi tentang keberanian untuk melawan tirani dan berani menjadi orang terasing karena menjunjung tinggi kebenaran.

Tapi...

Tapi bukan inspirasi tentang keberanian tersebut yang akan dibahas disini, saya ingin bercerita sedikit tentang salah satu adegan dalam film tersebut dimana Gie bersama temannya menumpang sebuah mobil pick up pengangkut sayuran untuk menuju kaki gunung Gede Pangrango.

Kira-kira mungkin begitulah kondisi di kawasan pinggiran yang jauh dari keramaian di masa lalu, tidak ada sarana angkutan transportasi umum, sehingga mereka harus menumpang kendaraan pengangkut sayur. Jauh berbeda dengan sekarang, hampir semua jurusan ke kaki gunung yang terkenal terdapat sarana angkutan umum.

Namun, meskipun sekarang sudah banyak tersedia kendaraan umum, masih banyak juga orang-orang yang menumpang mobil semacam pick up seperti di dalam Gie tersebut. Tentu saja untuk menghemat uang.

Saya sendiri pernah juga mencoba untuk mendapatkan tumpangan gratis dengan memberhentikan truk. Pertama kali tersebut adalah saat saya baru turun dari pendakian gunung di daerah Singkawang untuk mengikuti salah satu proses pengkaderan pencinta alam di kampus. Sayangnya, setelah beberapa kali mencoba, tidak satu pun truk yang bersedia berhenti dan memberikan kami tumpangan. Mungkin tampang kami kurang memprihatinkan. Akhirnya kami mengalah, tidak ada pilihan lain selain melambaikan tangan pada bis umum.

Kali berikutnya, saya bersama seorang teman saya sesama anggota organisasi penggiat alam bebas di kampus. Setelah selesai dengan kegiatan pengawasan di lapangan, untuk menghemat uang kami  mencoba menjajal peruntungan. Kami sepakati untuk bergantian melambaikan tangan di tepi jalan sambil berharap ada mobil yang bersedia berhenti dan memberikan tumpangan.

Tidak hanya truk, bahkan sedan dan mobil-mobil mewah hitam mengkilap lainnya kebagian lambaian tangan saya.

Alhamdulillah...

Berkali-kali mencoba akhirnya...

Tetap tidak ada mobil yang berhenti, jangankan sedan hitam licin mengkilap, pick up kecil dengan muatan yang tidak terlalu banyak (menurut saya) pun tidak mau berhenti. Hanya lambaian tangan juga yang kami dapatkan.

Tapi kami tidak menyerah, saya sendiri tetap melambaikan tangan, hingga sebuah sebuah mobil lewat dengan perlahan di depan kami, agak ragu... dan... dia kembali melaju... #hedeh...

Namun karena saya tidak juga menyerah, akhirnya ada juga truk yang bersedia berhenti sejenak untuk menaikkan kami berdua. Alhamdulillah... "ke Batu Payung pak". Kami langsung naik setelah menyampaikan tempat tujuan kami. Dengan senyum puas kami duduk di dalam bak terbuka truk ukuran besar tersebut.

Jarak yang ditempuh sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi sedang juga kalau harus berjalan kaki, sekitar 10 Km. Dan dengan menumpang truk tersebut kami bisa menghemat uang, walaupun tidak banyak tapi sangat berarti buat kami... para Petualang Kere. Dan kami pun sampai di tempat tujuan kami dengan cepat, selamat dan hemat :D

Kasus nebeng diatas masih terulang lagi di kesempatan lain lagi. Kali berikutnya masih di sekitar kawasan yang sama, Singkawang. Hampir serupa dengan percobaan pertama yang gagal, kali ini kami mencoba lagi setelah mendaki gunung Pasi. Satu rombongan kami hanya berjumlah tiga orang. Untuk kali ini saya sebagai pengawas saja, tidak ikut mencoba menghentikan mobil, semua tergantung kreatifitas peserta kegiatan yang hanya satu orang (saya dan satu orang lainnya sebagai mentor).

Tak disangka, keberuntungan sedang berpihak ke Yuli yang menjadi pelaksana kegiatan. Sebuah berita yang baik, namun ada berita buruknya. Mobil yang dihentikannya adalah sebuah truk pengangkut pupuk kotoran ayam. Sekali lagi, Kotoran Ayam. Karung-karung kotoran ayam bertumpuk setinggi satu setengah meter di dalam bak terbuka truk. Kami duduk diantara bak dan kepala truk. Sementara carrier kami bertumpuk diatas karung-karung dengan aroma "parfum" yang sangat "menghibur" hidung tersebut.

"Ok, santai, santai, sebentar kok, hanya sampai simpang Sagatani nanti", mencoba menghibur diri didalam hati. Ternyata hiburan itu hanya berhasil menghibur hati dalam waktu singkat. Karena tiba-tiba truk berbelok ke dalam sebuah gang. "Kami diculik!". #sedikitdramatisasi

Tidak lama kemudian sang supir menyampaikan bahwa truk akan masuk sebentar ke dalam gang untuk mengambil sedikit muatan. "What?", bak udah sepenuh itu masih mau ditambah lagi? Tidak ada yang bisa kami lakukan selain pasrah. Kami ikut ke dalam gang yang ternyata adalah jalan masuk  menuju sebuah peternakan ayam ras. Karung-karung induk "parfum" kembali ditambahkan kedalam bak dimana kami menumpang. Cukup lama kami menunggu proses pemuatan tersebut, serasa sedang menunggu proses pembuatan pasport jaman dulu. Saya sendiri sempat jalan-jalan sedikit dan melihat-lihat di dalam peternakan tersebut.

Mungkin sekitar sejam kami menunggu, akhirnya mesin truk dihidupkan, dan kami kembali ke singgasana diatas feses unggas. Sungguh... sungguh...

Tapi biar bagaimana pun kami berhasil menghemat sedikit uang kami. Walaupun... walaupun... Ah sudahlah...

Comments

  1. Heheheh ekstrim nih, tapi ya lumayan uang nya sedikit agak irit :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... emang ekstrim buat hidung mas... entah bagaimana fikiran penumpang bus yang kemudian kami naiki setelah turun dari truk tersebut...
      terimakasih kunjungannya ya...

      Delete
  2. Hahaha... Cari tumpangan malah dapat kotoran ayam. Baunya pasti semerbak.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Horor Kampus IPB Baranangsiang

Kota Bogor memiliki banyak objek wisata yang menarik, salah satunya adalah bangunan kampus IPB Dramaga yang berada di tengah-tengah kota bogor, seberang jalan Kebun Raya Bogor. Sebagian area kampus ini sekarang telah menjadi bangunan yang kita kenal sebagai Mall Botani Square, Alhamdulillah pemerintah kota Bogor bersama pejabat-pejabat di Institut Pertanian Bogor telah menetapkan bangunan Kampus IPB Baranangsiang tersebut sebagai sebuah situs cagar budaya.


Sebagai salah satu bangunan tertua di kota Bogor, kampus IPB Baranangsiang memiliki banyak kisah Urban Legend. Beberapa yang paling terkenal adalah kisah tentang dosen misterius dan elevator tua. Kisah tentang dosen misterius saya dengar dari salah satu teman  sekelas saya di Pascasarjana ARL, beliau mendapatkan cerita itu dari seorang kakak tingkatnya. Jadi saya juga tidak mendapatkan langsung dari yang mengalaminya sendiri.

Menurut cerita teman saya tersebut, pada suatu malam (kuliah malam), suatu ruang kuliah sudah di penuhi oleh…

Jenis-jenis Sepatu untuk Mendaki Gunung

Sepatu adalah salah satu perlengkapan paling vital dalam sebuah pendakian gunung, sebuah pendakian bisa menjadi sebuah perjalanan penuh derita jika anda salah memilih sepatu mendaki. Karena itu, pilihlah sepatu yang tepat untuk pendakian anda.  Tapi seperti apa sepatu yang baik untuk mendaki gunung? Hal ini akan tergantung dari medan yang akan anda lewati, lain padang lain ilalang, lain medan lain sepatu... :) Setelah mengetahui  medan pendakian yang anda lewati, berikut ini adalah beberapa jenis sepatu yang bisa anda pertimbangkan untuk anda gunakan dalam pendakian tersebut.
Sepatu Hiking (Hiking Shoe) Sepatu model potongan rendah dengan sol fleksibel, jenis sepatu ini cocok untuk pendakian harian. Bentuknya serupa dengan sepatu lari atau olahraga. Banyak backpacker ultralight yang menggunakan sepatu jenis ini untuk perjalan jauh, namun jenis sepatu ini mendukung lebih sedikit macam kegiatan. Sepatu ini cocok jika anda bepergian ke tempat yang memiliki jalur yang jelas dan jalur pen…

Jenis-jenis Kompor Lapangan Pendakian Gunung

Kurang rasanya kalau camping atau naik gunung nggak makan, apalagi nggak ngopi, Eits, ini pendapat yang sesat, naik gunung ya harus makan, baru ngopi. Tapi tentu saja kita harus punya alat masaknya, dan yang penting adalah kompor lapangan. Bagi yang udah sering naik gunung pasti tahu, tapi yang nubi-nubi sejenis saya ini mungkin kurang paham. Karena itu, saya ingin berbagi apa yang baru saja saya rangkum dari pencarian di berbagai sumber tentang jenis-jenis kompor lapangan.

Baca juga:
4 Hal Menyenangkan dari Camping
Camping Membuang Jenuh


Setelah saya baca-baca, ternyata banyak sekali jenis kompor lapangan, namun secara garis besar untuk membahasnya, kita dapat pengelompokan kompor lapangan berdasarkan jenis bahan bakarnya. Nah berdasarkan jenis bahan bakarnya ini, ada tiga jenis kompor lapangan, yaitu yang berbahan bakar gas, cair dan padat.
Kompor Lapangan Berbahan Bakar Padat Jenis kompor ini lebih umum dikenal sebagai kompor parafin, kompor jenis ini umum dipakai oleh personil tenta…