Friday, April 11, 2014

Hikayat Keran Plastik

Ngontrak, resikonya terima saja dengan apa yang ada. Tergantung kesepakatan dengan empunya rumah. Sudah dua kali ngontrak, rumah yang kedua yang sekarang di tempati bisa dikatakan sangat nyaman. Namun tentu saja tidak ada gading yang tak retak, dan retaknya kenyamanan rumah ini adalah sistem pengairan yang agak "sangsut".

Jadi, dirumah ini ada tiga muara pipa yang tersambung ke keran. Dua keran ada di dalam kamar mandi sekaligus toilet, satu di dinding dan satu lagi tepat diatas bak air.. Satu lagi berada di dapur diatas wastafel tempat mencuci piring.

Yang menjadi masalah adalah, tidak satupun dari lubang pipa tersebut yang bisa dipasang keran dengan kokoh. Ujung pipa di dinding toilet bagian dalamnya telah menempel pipa lain yang menutupi ulir pipa sehingga tidak bipasangi dengan krean baru. Alhasil, pipa tersebut saya tutup dengan potongan tangkai sapu yang dibalut plastik.

Pipa yang diatas bak mandi, ulir kepala pipanya seperti sudah sangat aus sehingga sulit juga dipasang keran. Tetapi tetap saya pasang juga karena tentu sajak kami akan kesulitan air jika kami tutup atau kami biarkan terbuka. Namun entah berapa kali keran tersebut lepas dari tempatnya dan menyebabkan air mengalir dengan deras, untungnya, air kami bukan dari pdam, jika tidak, ngeek. Airnya dari bak penampungan yang dimiliki empunya rumah yang setiap kosong akan diisi oleh beliau.

Nah,hari ini, keran yang diluar kembali bermasalah, padahal baru beberapa bulan lalu saya ganti dengan yang baru. Keran yang sebelumnya terbuat dari plastik, rusak karena patah di bagian pangkal berulirnya. Saya kemudian membeli lagi. Hari ini keran tersebut patah di bagian pemutar pembuka katup keran tersebut. Jadinya harus beli lagi.

Pelajaran dari ini kejadian-kejadian ini adalah, hindari membeli keran air dari plastik.

1 comment:

  1. Nasib ngontrak da... Mudah2an segera punya rumah sendiri yang genah walau sederhana ;) aamiin

    ReplyDelete