Tuesday, March 18, 2014

Penipu... Lagi!

Suatu waktu saya pernah liburan ke kota Sambas, Kalimantan Barat. Pulangnya, saya naik bis dan duduk disamping seorang bapak-bapak (sekitar 60 thn) yang sangat ramah. Kami pun terlibat pembicaraan singkat-singkat, maksudnya, satu cerita selesai, lanjut cerita lain kemudian selesai, lanjut lagi cerita lain. Dari beberapa cerita yang beliau bagi kepada saya adalah tentang sms yang memberitahukan bahwa beliau memenangkan hadiah mobil, motor dan rumah (beberapa undian). Cerita tentang sms hadiah ini singkat, "Kalau menurutkan sms hadiah undian tu, dah belasan mobil dengan motor saye!". (Terj: Kalau sms hadiah itu memang benar, sekarang saya sudah punya belasan mobil dan motor).

Bagaimana dengan Anda? Pernah menerima short mesage yang memberitakan Anda berhasil memenangkan undian berhadiah dari perusahaan A, atau B, atau C berupa mobil, motor, rumah atau ala-alat elektronik? Atau pernah menerima sms minta pulsa yang seperti sangat gencar beberapa tahun lalu? Jika Anda sama sekali tidak pernah menerima sms itu, mungkin Anda tinggal di luar negeri. Adakah yang tidak pernah?

Saya sendiri sudah dua kali menjadi target penipuan. Pertama kali adalah saat saya sedang bersemangat sekali untuk belajar menulis, dan penipuan tersebut berkedok pelatihan penulisan via selebaran di masjid. Bayangkan! Mereka menyebarkan kertas penipuan di masjid, benar-benar T e r l a l y u! Tentang ini sudah saya ceritakan disini. Kejadian kedua via telpon, kejadiannya, saya ditelpon dan diberitahu oleh seseorang yang mengaku teman yang saya kenal dan menawarkan lelang barang sitaan bea cukai, kejadian ini juga sudah saya tulis, silahkan baca disini.

Bagaimana dengan penipuan via sms? Tidak perlu saya ceritakan, saya yakin semua orang pernah dikirimi sms penipu-penipu ini. Mama minta pulsa, si Anu kecelakaan, si Anu di tahan polisi, si Anu sedang di anu, si Anu sedang menganu dan anu-anu lainnya.

Keluarga saya juga sering menerima sms penipu, suatu kali Ayah saya menelpon saya karena beliau mendapatkan informasi saya mengalami kecelakaan dan meminta beliau mengirim uang untuk perawatan saya (kami tinggal di kota yang berbeda). Sms penipu itu tidak konsisten, awalnya saya yang dibilang kecelakaan parah, kemudian saya dibilang ditahan polisi karena menjadi penyebab. Naudzubillah! Untungnya Ayah saya langsung menelpon saya dan tidak serta merta menuruti keinginan penipu tersebut.

Nah, hari ini saya membaca cerita tentang kakak dan abang saya yang hampir menjadi korban penipuan. Mereka menerima pemberitahuan tentang panggilah untuk abang saya, panggilan untuk mengikuti tes penerimaan karyawan perusahan minyak negara. Ceritanya bisa Anda baca disini.

Sekarang, saya prihatin (:P) sekali dengan kondisi negara ini. Bukan saja orang-yang duduk di singgasana yang suka  menipu, jelata-jelatanya juga suka menipu, kalau kata orang Pontianak, "Like leader like follower." Tapi semoga kita tidak termasuk salah satu dari mereka itu.

0 comments:

Post a Comment