Saturday, March 22, 2014

Nyamuk-nyamuk

Saat-saat menjelang tidur adalah saat yang paling menyakitkan hati jika Anda mendengar bunyi bising di dekat telinga kita. Dan bagi saya, salah satu bunyi tersebut adalah bunyi sayap nyamuk yang bergetar...nguuuuunnngggg...

Dulu saya termasuk orang yang sangat gampang tidur, percaya atau tidak, saya pernah tertidur tepat di depan bass drum saat teman saya sedang latihan musik. Suara-suara tabuhan drumnya tidak menghalangi saya untuk berangkat ke pulau kapuk.

Tapi sekarang, rasanya agak sulit sekali tidur... apakah karena faktor umur? Hmmm...

Kembali ke nyamuk, kebiasaan saya yang cepat tidur juga tidak terhalangi oleh nyamuk. Meskipun belasan nyamuk menikmati darah saya seperti es cendol, saya tidak bangun dan kegatalan. Orang rumah sampai mengatakan kulit saya seperti kulit badak. Anehnya, bekas tusukan nyamuk di kulit tidak meninggalkan bekas merah-merah seperti kebanyakan orang.

Karena sulit tidur, suara nyamuk menjadi sangat mengganggu. Terkadang, saat badan baru saja tergeletak di kasur saya langsung bangun dan mengejar nyamuk-nyamuk tersebut dengan tangan siap untuk menepuknya. Melompat pun saya lakukan untuk menyambar vampir serangga tersebut. Seperti kita tahu, nyamuk yang kelaparan (belum makan) sangat sulit di tangkap. Kalau perutnya sudah penuh, dia menjadi bodoh. Jadi, biasanya saat terbangun dipagi hari baru mengejar-ngejar mereka untuk membunuhnya. Hampir setiap pagi belasan nyawa melayang di tangkupan kedua telapak tangan saya. Tingkah nyamuk ini sangat beda dengan koruptor di negeri ini... makin penuh perutnya, makin susah di tangkap.

Kebanyakan orang mungkin khawatir di hisap nyamuk karena gatalnya, banyak juga orang yang khawatir dengan penyakit yang mungkin dibawanya. Saya sendiri, selain kedua hal tersebut sangat sakit hati jika mereka berhasil menghisap darah saya. Karena itu saya sering berburu mereka di pagi hari.

Pengalaman terburuk sampai saat ini dengan nyamuk saya alami di sebuah danau yang termasuk wilayah kotamadya Singkawang, danau Serantangan. Nyamuk di kawasan ini sangat berbeda dengan nyamuk yang biasa kita temui di rumah. Ukurannya lebih besar, tusukan jarum hisapnya tidak gatal, tapi sakit. Benar-benar sakit. Tidak hanya sakit dikulit, lebih sakit lagi di hati, karena nyamuk ini seolah pandai mencari celah di pakaian kita untuk masuk dan menusukkan jarumnya. Mereka mencari celah dengan berjalan, pernah melihat nyamuk berjalan seperti semut? Ya, nyamuk ini berjalan seperti semut, tapi sangat perlahan-lahan.

Yang cukup mengejutkan adalah, percaya atau tidak, orang yang biasa pergi ke rawa saya yakin tahu, jarum penghisap darah nyamuk-nyamuk ini bisa menembus celana bahan jeans dan  menghisap darah kita.

Saat itu saya benar-benar merasa tidak berdaya menghadapi vampir-vampir tersebut. Jumlahnya mungkin ribuan, setiap usaha kami untuk membunuhnya seperti tidak berarti sama sekali. Mereka terus menerus datang dan mengerubuti kami, seolah sedang berpesta. Seperti Drosophyla mengerubuti buah. Kami adalah makan malam mereka. Hanya angin yang bisa menghalau mereka, itu pun hanya sesekali. Menjelang subuh baru mereka berhenti, dan pergi. Barulah kami bisa tidur.

Itulah pengalaman terburuk saya dengan nyamuk. Untuk saat ini, rumah kontrakan saya saya lengkapi dengan kain kasa. Meskipun masih saja ada nyamuk yang bisa masuk, jumlahnya jauh berkurang dari sebelumnya. Jadi, menurut saya penggunakan kain kasa untuk menutup ventilasi dan jendela iini sangat efektif untuk mencegah masuknya nyamuk.

Kredit gambar:
http://www.michigan.gov/

0 comments:

Post a Comment