Wednesday, February 12, 2014

Melupakan kesedihan?

Setiap orang punya cara berbeda dalam menanggapi kesediahan yang sedang dialami. Kebanyakan orang (mungkin) menanggapinya dengan lari dari kesedihan tersebut, termasuk saya. Berusaha melupakannya, menjadikan kisah tersebut hanya sebagian kecil bagian yang tidak seharusnya membuat kita memenjarakan pikiran kita sendiri.

Namun, sayangnya, lari hanya membuat kita merasa di kejar, sembunyi hanya membuat kita merasa di cari. Kembali, seperti yang rasakan,  setiap kali cerita itu di putar kembali dalam otak, putarannya seperti  bor yang kembali membuat lubang di hati, dimana air mata kembali mengalir.

Kenyataanya, lari berarti kita berkejaran dengan apa yang kita hindari. Jadi bagaimana agar tidak terjebak? Hadapi, menghadapinya berarti menuju kearah yang berlawan dengan kesedihan tersebut. Hingga pada satu titik, kesedihan tersebut akan menghantam kita. Saat itulah kita menguji kekuatan hati. Jatuh terjerembab, atau menguasai diri dan menjadi lebih kuat.

What doesn't kill you, make you strong.

Beberapa hari yang lalu saya menulis tentang buah hati kami. Setelah menulis cerita tersebut saya memutuskan untuk menghadapi kisah sedih saya. Setelah berbulan-bulan berlari dan bersembunyi dari kenyataan bahwa buah hati kami tersebut telah mendahului kami, menunggu kami. Saya berdoa, semoga kami pantas untuk ditunggui olehnya yang sekarang berteman dengan Ridwan.

Saya menghadapi kenyataan dengan sebuah keputusan, bahwa keberadaannya pernah mengisi hari-hari kami dengan senyum dan ketiadaannya tidak menghilangkannya senyum di wajah kami. Kami akan mengingatnya dengan Senyum.

Alhamdulillah, saya merasa lebih kuat. Saat memori kembali memutar mata bor kesedihan dan melubangi dinding dinding hati, senyum segera menguapkan air mata sebelum mereka sempat membanjiri relung-relung di wajah.

0 comments:

Post a Comment