Monday, February 17, 2014

Four Musketeers

Saya duduk di deretan bangku paling dekat dengan jendela, nomor dua dari bangku paling belakang, paling sudut. Mungkin sudah fitrahnya siswa-siswa yang duduk di bangku belakang tidak punya kecerdasan yang menonjol, dan itulah kami berempat. Empat orang dengan posisi duduk paling sudut seantero kelas. Saya, Mr. M, M.Ir, dan Mr. Matt.

Tidak terlalu nakal, tidak terlalu pintar, tidak terlalu menonjol, tidak terlalu alim, dan tidak terlalu lainnya, ringkasnya, kami rata-rata.

Si Mr. M adalah anak orang yang cukup berada, salah satu pejabat di dinas pendidikan, saya tahu karena orang tua saya juga bekerja di lingkungan dinas pendidikan, sebagai guru sd, bukan pejabat. Namun Mr. M bukan orang yang sombong, jadi dia bisa berteman dengan siapa saja, termasuk kami.

Di kelas, dia terkenal dengan slogannya, Cieeeeeeyeh.... Saat di jadikan objek gurauan dan lain sebagainya, dia sering menyebut... Cieeeeeeyeh, semenjak saat itu, Mr. M disebut sebagai Mr. Cieeeeeyeh oleh teman-teman sekelas.

Saya sendiri berasal dari keluarga yang biasa saja, bukan keluarga pejabat, bukan keluarga kaya, yang sedang-sedang saja. Dan teman saya yang dua lagi, saya tidak tau asal usulnya dari mana. Tapi lama-kelamaan tahu juga, Mr. Matt asalanya dari kampung buah, sedangkan M.ir berasala dari seberang sungai.

Tanpa kami sadari kami menjadi seperti satu gank siswa beranggotakn empat orang. Empat orang siswa yang agak culun dan kurang gaul, tapi kami tidak punya masalah dengan itu. Kami cukup kompak, selalu bersama kemana saja dan mentertawakan apa saja di kelas. Mungkin karena terlalu asik berteman dan tertawa inilah sehingga nilai kami tidak terlalu menyenangkan di mata orang tua #ngeles.

Tapi prasangka tersebut memang melanda salah satu dari kami. Setelah beberapa hari masuk sekolah setelah liburan cawu*, Mr. M tiba-tiba berubah menjadi sangat tidak ramah. Saya sendiri tidak terlalu memperhatikan, dan saya memang seringkali beraktifitas sendirian sementara mereka sering sekali bertiga (bukan karena saya autis).

Suatu pagi setelah jam istirahat saya kembali ke kelas, kondisi meja dan kursi kami agak berantakan. Saya pun kemudian bertanya apa yang terjadi. Rupanya Mr. M baru saja terlibat pertengkaran yang cukup hebat dengan M.Ir. Namun tidak ada yang terpukul karena tangannya Mr. M tidak dapat menjangkau M. Ir. Badannya tertahan meja sementara tangannya mengibas berusaha memukul. Pagi itu susana disekitar kami menjadi dingin, bagaimana tidak, M. Ir dan Mr. M duduk di meja yang sama. Saya dan Mr. Matt duduk didepan mereka berdua.

Istirahat kedua, saya pergi kekantin karena lapar, sendiri. Karena itu saya ketinggalan berita lagi. Saat saya kekantin sendirian, Mr. M pergi ke lapangan upacara/ olahraga di depan sekolah. Entah karena iseng ingin mengganggu atau karena peduli dengan teman, M.Ir dan Mr. Matt mengikuti Mr. M kelapangan. Saat Mr.M duduk, dibawah pohon Ketapang di halaman sekolah, kedua teman saya tadi juga duduk, tidak jauh dari teman yang sendiri tadi.

"Pluk", satu buah ketapang yang keras menabrak lantai semen lapangan di dekat Mr. M. Mr.M memandang ke arah dua orang penguntitnya. "Pluk", satu lagi buah ketapang yang keras itu menabarak sesuatu, tapi bukan semen. Buah itu menabrak kepala Mr.M. Dengan segera dia mendatangi kedua "temannya" tadi. Dua orang penguntit tadi hanya kebingungan, kenapa Mr.M tiba-tiba mendatangi mereka dan kembali menyemprot mereka dengan kata-kata penuh emosi. Dituduh melempar buah ketapanag, mereka berdua langsung menyangkal dengan tegas. Mr.M lalu beranjak meninggalkan mereka berdua dengan dongkol. Dua orang teman saya tadi memang tidak melakukan apa-apa selain duduk dan tertawa. Jadi, dari siapa yang melempar buah ketapang itu? Jawaban dari pertanyaan ini membuat kami terpingkal-pingkal di kelas.

Bagi yang punya buah ketapang atau sering berada di bawah pohon ketapang pasti tahu darimana asalnya buah yang menghantam teman saya itu.

Saya harap tidak ada yang tersinggung dengan cerita ini. Hanya guyonan dan lucu-lucuan sambil mengenang masa lalu. :D

*dulu waktu sekolah menggunakan sistem caturwulan, evaluasi belajar dilakukan setiap empat bulan

0 comments:

Post a Comment