Thursday, February 6, 2014

Dari Makalah, hingga Pengamen

Sulit sekali lepas dari kebiasaan tidur larut dan bangun kesiangan. Kedua hal tersebut seperti api dan asap, yang kedua hampir selalu di ikuti kemunculah yang lain. Setiap pagi selalu berniat untuk tidur awal dan bangun awal, namun setiap malam tidak juga bisa tidur awal.

Pagi ini kembali bangun kesiangan, sumbernya sama, telat tidur. Namun karena janji dengan dosen jam sebelas, jadi tidak terlambat untuk bertemu. Jam 11 kurang 10 menit langsung ke kampus tempat guru pembimbing, sayangnya beliau masih ada tamu.

Satu jam menunggu, jam 12 saya langsung pulang untuk menjemput istri yang sebenarnya juga mau ke kampus. Pulang sekalian menyempatkan shalat dan makan bubur ketan hitam kacang hijau, Alhamdulillah sekedar mengganjal perut.

Kembali ke kampus, bertemu dengan guru.
"Kamu kemana saja?", bapak guru pembimbing bertanya.

"Saya beberapa kali sms pak, tapi kemarin tidak mendapat balasan, Pak", jawab saya, dalam hati saja. Saya tidak berani mengirim sms berkali-kali, karena kalau tidak dibalas, kemungkinan besar guru saya tersebut sedang sangat sibuk.

"Kamu udah seminar kan? Udah mau sidang?", dua pertanyaan kembali ditembakkan ke saya.

"Belum pak!", jawab saya bersamaan dengan sebuah senyum kecut.

"Lama banget kamu!", hanya senyum kecut kembali yang saya tunjukkan untuk menganggapi perkataan guru saya tersebut.

"Ya udah, kapan mau seminar?", pertanyaan yang sangat menyenangkan di telinga saya.

"in sya Allah inginnya dalam dua minggu ke dapan Pak!", jawab saya sambil meyakinkan diri.

"Ini apa?", tanya guru saya sambil melihat ke arah beberapa lembar kertas draft tugas akhir yang saya bawa.

"Ini, bahan tesis Pak, perbaikan, kemarin saya ada memasukkan draft saya pak, ada di koreksi nggak pak?", beberap minggu lalu saya menitipkan draft saya pada seorang pegawai di kantor Bangun Limas. Sepertinya bapak guru saya tidak ingat untuk mengambilnya.

"Nggak ada!" jawab bapak guru singkat. "Kok buat ini dulu, kamu buat makalah dulu ya!".

"Baik pak", jawab saya singkat.

"Jadi senen ya!"

"Makalahnya, Pak?".saya merasa agak linglung.

"Iiya!",

"Baik Pak!".

Saya langsung keluar dari ruangan setelah menyalami guru saya.

Berjalan ke arah kampus pertanian, saya bertemu dengan Dinda yang baru selesai ngeprint draft makalahnya. Saya langsung terus ke Pintu Berlin untuk mengisi pulsa yang sudah beberapa hari habis, sementara Dinda langsung ke atas menemui teman satu bimbingannya. Mereka berencana untuk menemui bimbingan. Segera setelah mengisi pulsa saya langsung bergabung dengan mereka. Ngobrol.Datang seorang teman yang menjadi asisten salah satu guru, Rupanya di dekat ruang TU ada teman yang baru saja selesai sidang, dia juga bergabung. jadilah kami ngobrol berlima.

Bla bal bla. Satu orang anak angkatan di bawah kami lewat, pembicaraan berubah menjadi tentang masyarakat Kerinci. Kami menemukan seorang teman yang bisa di singgahi jika berencana ke Kerinci. Bla, bla, bla.

Setelah adik angkatan dan teman yang baru selesai sidang pergi, seorang dosen keluar dari toilet di dekat tempat kami nongkrong. Pembicaraan berubah dari tugas akhir dan sidang, menjadi kamera. Tentang reverse lens. Saya yang sudah beberapa bulan tidak aktif memotret jadi agak kelabakan juga.

Akhirnya tinggak kami berempat. Saya, dinda dan dua teman kami. Kami berpisah. Satu orang kembali ke tempat kerjanya diatas, sedangkan saya, dinda dan teman sepembimbingnya menuju kantor kampus untuk menemui pembimbing mereka. Saya kemudian menunggu tidak jauh dari ruang pusat fakultas, dan bertemu dengan teman satu angkatan yang katanya baru selesai mengurus FRS, saya sendiri dan dinda belum mengurus. Teman saya tersebut juga baru saja tes kesehatan untuk bekerja di proyek salah satu perusahaan tambang dari Belanda. Lokasi kerjanya di Riau.

Tidak lama kemudian dinda dan temannya datang, dan setelah ngobrol sebentar kami putuskan untuk makan bersama di rumah makan dekat kampus.

Di rumah makan ini, saat sedang makan, datang seorang pengamen. Saya dan kedua teman saya mengeluarkan uang untuk membayar suata pengamen tersebut. Baru beberapa menit kemudian datang seorang dengan kostum putih atas bawah menenteng daypack yang talinya kendor. Langsung meletakkan tiga lembar foto dan selembar kupon kecil berwarna hijau, tertulis di kertas tersebut "Jangan layani jika surat-suratnya tidak lengkap". Tidak perlu banyak bicara, saya kemudian mengeluarkan sebuah uang logam. Kemudian saya letakkan di atas tumpukan foto-foto tadi. Saya berikan kepada Putih-putih tadi, tanpa kata-kata. Teman saya ternyata memberi uang yang cukup banyak.

Lepas dari putih-putih tadi, baru beberapa menit seorang pengamen kembali bernyanyi di dalam ruangan tempat kami makan. Ternyata mahal juga biaya hidup di sini. Salah satu teman saya mengatakan, di kota yang disebelah selatan Merapi lebih banyak.

0 comments:

Post a Comment