Sunday, February 16, 2014

Cerita SMP: Semangkok Bakso Voli

Pernah dengar bakso raksasa yang ukurannya sebesar bola voli? Bakso tersebut memang ada, tapi sayangnya saya agak lupa namanya, silahkan search di google kalau mau tahu lebih jauh. Yang ingin saya ceritakan sekarang adalah tentang bakso dan bola voli. Begini ceritanya!

Di posting sebelumnya saya bercerita tentang kelas saya yang sangat ribut hingga membuat wali kelas kami marah besar hingga menampar salah satu teman kami. Nah, wali kelas kami tersebut memiliki seorang anak yang pada saat itu masih SD -sebut saja namanya Bujang. Wali kelas kami tersebut memang hampir setiap hari membawa Bujang ke sekolah kami sepulang si Bujang sekolah, mungkin karena tidak ada yang menjaganya di rumah.

Suatu hari, seperti biasa, Bujang ikut ibunya ke sekolah kami. Karena lapar dia meminta kepada ibunya semangkok bakso dari kantin yang ada di sekolah kami. Maka, ibunya pun membelikannya. Bukannya makan di kantin, dia memakan baksonya di bawah tiang bendera di lapangan olah raga kelas kami, entah di bawakan atau membawa sendiri.

Pada saat itu kelas kami sedang dalam pelajaran olah raga, ada yang bermain bola basket, ada yang bermain bola voli dan bola-bola lainnya. Karena si Bujang makan di hampir di tengah lapangan, tentu saja posisinya sangat dekat dengan teman-teman saya yang sedang bermain bola. Bakso tak dapat diraih, voli tak dapat di tolak. Sebuah bola voli mendarat tepat diatas mangkok bakso si Bujang. Tepat di atas mangkok, sama sekali tidak bergerak atau memantul. Kejadian seperti ini mungkin terjadi dengan kemungkinan semilyar banding satu.

Bola voli itu  terdiam diatas mangkok dan diikuti dengan diamnya semua yang melihat, dan tentu saja si Bujang yang baru saja menyadari  baksonye baru saja tertutupi sebuah benda berbentuk bola berwarna putih. Tepat sebelum derai air mata mengalir di pipi Bujang, teman-teman saya yang tadinya sedang bermain bola voli tadi langsung menyingkir ke tepi lapangan, duduk, seolah tidak terjadi apa-apa. Jerit tangis Bujang menggemparkan sekolah (sedikit dramatisasi), ibunya langsung datang dan membawanya ke kantor. Alhamdulillah, tidak ada yang dimarahi, apalagi di tampar. Mungkin ibunya Bujang menyadari bahwa bukan volinya yang salah jatuh, tapi mangkok baksonya yang salah tempat.

Kami pun melanjutkan permainan kami.

Cerita selanjutnya

3 comments:

  1. dan baksonya bikin ngiler... *terbit air liur*

    ReplyDelete
    Replies
    1. samelah dx, waktu nyari gambarnye tadi sungguh perjuangan yang berat... :)=

      Delete