Monday, February 17, 2014

Cerita dari SMP: Tempat Duduk

Masih cerita di kelas satu, pertama kali saya masuk sekolah di SMP, saya langsung mengambil tempat duduk agak di belakang. Setelah meletakkan tas saya kemudian keluar sebentar (lupa untuk apa keluarnya). Saat saya kembali lagi, di bangku tempat saya meletakkan tas telah duduk seorang siswa lain. Kemudian saya melihat tas saya berpindah cukup jauh dari tempat awalnya, agak kedepan.

Saya memandang siswa yang mengambil tempat saya tersebut, dia tersenyum janggal dengan usaha untuk tampak ramah. Disebelahnya duduk seorang siswa lainnya yang sepertinya adalah temannya juga, karena mereka terlihat cukup akrab. Ternyata mereka memang datang dari sekolah dasar yang sama. Oke, mereka berdua, saya sendiri, dan saya tidak ingin cari keributan, selain itu, ini hanya kelas sementara sewaktu MOS, jadi saya terima saja.

Beberapa menit sebelum jam sekolah di mulai, datang seorang siswa lain. Mungkin karena tempat duduk saya lumayan dekat dengan pintu dan bangku sebelah saya terlihat kosong, maka dia mendatangi meja saya dan menanyakan apakah dia bisa duduk disitu? Saya jawab tentu saja. Dan sejak itu hingga beberapa minggu kemudian, siswa-siswa lain di kelas baru tersebut mengatakan kalau wajah kami mirip. Tentu saja dia sedikiti lebih ganteng, tapi saya lebih banyak... hehehe.

Setelah seminggu MOS, hari sabtu ada pengumuman bahwa kami akan menempati kelas baru di lantai paling atas sekolah kami. Karena sangat excited dengan kelas baru tersebut kami membahas dimana posisi tempat duduk kami nanti, kami pun menyepakati bahwa tempat duduk kami harus dekat dengan jendela agar bisa melihat pemandangan dari ketinggian kelas tersebut. Tapi, siapa yang akan duduk tepat di samping jendela dari kami berdua? Kami buat kesepakatan lagi, siapa yang datang lebih awal dari kami berdua, dialah yang duduk tepat di samping jendela.

Menjelang pulang hari sabtu tersebut saya kehilangan sebuah buku catatan hingg membuat saya begitu kalut. Sedang saya kalut tersebut teman sebangku yang baru seminggu kenal tersebut ingin memastikan perjanjian tadi. Sayangnya, dengan sok kalut saya mengatakan kepadanya terserah kemauannya. Padahal saya tetap ingin perjanjian tetap dilaksanakan, siapa yang datang duluan.

Hari senin, saya masih berpikir untuk mendapatkan tempat duduk yang dekat jendela tersebut, karena itu saya datang sangat awal, jam 6 lewat beberapa menit. Saya dapat melihat matahari masih sangat rendah di cakrawala sebelah timur, dan saya adalah siswa pertama yang datang ke kelas di lantai tertinggi dan paling ujung tersebut. Semakin mendekati jam 7, semakin ramai siswa yang datang. Hingga kemudian datanglah teman baru kenal seminggu saya.

Melihat saya duduk di samping jendela, dia tidak terima. Menurut dia, sabtu kemarin saya mengatakan bahwa siapa yang duduk di samping jendela adalah terserah kepadanya. Jadi perjanjian kami tidak berlaku, saat itulah saya menyesali sedikit perkataan saya yang sok panik, ya, sok panik, bukan benar-benar panik. Padahal saya tinggal mengiyakan perjanjian kami tetap berlaku. Akhirnya tidak ada yang bisa saya katakan lagi, teman saya duduk di antara saya dan luang jendela.

Entah kenapa, saat ini saya merasa bersyukur tidak duduk di samping jendela tersebut.

2 comments:

  1. ngape pula bersyukur ndak duduk di samping jendela, da? Ade kejadian lg ke? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ndak tau gak dx, mungkin karne ape pun yang terjadi, itulah yang terbaik... :D

      Delete