Sunday, February 16, 2014

Cerita dari SMP: Cubitan Maut

Banyak orang berpendapat bahwa masa SMA adalah masa-masa paling indah sepanjang hidup. Namun bagi saya, masa smp juga sangat indah. Banyak cerita-cerita lucu yang sangat menggelitik saat mengingatnya pada hari ini. Dari banyak cerita lucu tersebut, yang paling menggelitik adalah cerita tentang hukuman.

Sejak kelas satu smp, kelas yang saya diami punya kenakalan yang cukup akut (mungkin), untungnya kenakalan kami tidak menyebabkan kerugian yang berarti bagi sekolah (mungkin lagi).

Seperti apa kenakalan kelas saya (underline: kelas saya, bukan saya, karena saya anak yang baik, tidak rajin jajan dan tidak rajin menabung, kurang ramah, dan pendiam :)), berikut adalah sedikit gambaran:

Bolos pramuka, bolos pramuka adalah sebuah kesalahan fatal bagi anak kelas satu. Kenapa fatal? Jika kami tidak pramuka, makan sebuah  puting beliung (cubitan berputar) akan berputar di sekitar dada kami dekat -maaf- puting dada kami, ini khusus untuk siswa laki-laki, untuk perempuan, puting beliungnya akan berputar di lengan mereka. Banyak alasan yang bisa disebutkan teman saya saat ditanya kenapa tidak pramuka, namun ada satu alasan paling unik dan berani serta ceroboh yang paling saya ingat. Seorang teman saya mengatakan bahwa dia menghadiri ulang tahun temannya di dekat rumah sehingga dia tidak mengikuti pramuka. Hasilnya, dia disuruh menyanyikan lagu selamat ulang tahun sementara cubitan tersebut menari-nari diatas dadanya. Bahkan satu cubitan singkat cukup membuat memar biru di kulit kami, dan teman saya, dicubit sepanjang dia bernyanyi. Bisa Anda bayangkan betapa sakitnya cubitan tersebut jika bekas memarnya bisa bertahan selama dua minggu???

Saya sendiri rasanya tidak pernah bolos pramuka. Selain bersemangat, takut hukuman, rumah saya juga tidak terlalu jauh dari sekolah. Mungkin saya terhitung sangat aktif. Tapi bukan berarti saya tidak pernah terkena puting beliung tersebut. Pada suatu waktu radang amandel saya kambuh, hal ini menyebabkan tenggorokan saya memproduksi lendir hijau kental secara berlebihan. Karena terasa sangat mengganggu maka secara berkala saya mengeluarkan hijauan tersebut lewat jendela kelas (bangku saya dekat dengan jendela, hanya terpisah dengan satu bangku teman semeja saya). Kesalahan saya adalah membuang hijauan tersebut pada pelajaran guru tersebut, akibatnya:

"Dul, kamu cacingan ya? Kok ngeludah terus ke jendela? Coba kesini!", guru tersebut memanggil dengan ramah. Saya sendiri bingung, apa hubungannya antara dahak dengan cacingan??? Tapi tidak ada yang bisa saya lakukan selain melangkah kedepan dan merasakan cubitan maut dari guru tersebut. Dari peristiwa itulah satu tahu bahwa bekas cubitan tersebut punya masa kadaluarsa dua minggu, seperti roti.

Cerita selanjutnya

0 comments:

Post a Comment