Wednesday, January 1, 2014

Tahun baru di Kota Pontianak

Kota Pontianak, meskipun tidak seramai dan semajemuk Jakarta, tidak banyak objek tujuan wisata, namun memiliki momen-momen besar yang selalu ramai.

Setahu saya ada beberapa momen besar di kota Pontianak, yaitu: bulan puasa Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan tahun baru, serta tahun baru cina atau Imlek dan Cap Go Meh. Acara-acara tersebut selalu ramai karena warga kota Pontianak memang cukup majemuk.

Berhubung ini tahun baru masehi, saya akan sedikit cerita tentang momen ini. Tapi bukan berarti saya ikut merayakan, bagi saya menghormati teman-teman yang merayakan sudah cukup. Dan saya pun sangat menghargai teman-teman yang menghormati saat momen saya datang, tidak perlu memberi saya selamat. :D

Lanjut!

Kota Pontianak, memiliki cara merayakan tahun baru yang fenomenal pada tahun 1990 hingga menjelang tahun 2000. Mungkin sedikit berkurang sejak krisis moneter melibas perekonomian Indonesia.

Tidak hanya dirayakan oleh pemeluk agama yang bersangkutan, tetapi hampir seluruh warga kota Pontianak. Kelihatan sedikit aneh (bagi saya), namun itu lah yang terjadi. Malam tahun baru pada dekade itu adalah momen perayaan yang dirayakan secara luar biasa. Kita bisa melihat tempat-tempat pesta hampir disetiap depan gang yang ada di Pontianak.

Beragam bentuk aksesoris menghiasi bangunan semi permanen tempat pesta tahun baru itu di rayakan. Salah dua aksesoris yang benar-benar saya ingat adalah replika sarang laba-laba yang biasanya dibuat dari tali rapiah. Sarang laba-laba tersebut dibuat dengan cukup rapi, di pasang di bagian depan pondok. Mungkin ingin menimbulkan kesan masa lalu (tahun kemarin) yang harus di tinggalkan, atau... entahlah.

Aksesoris yang lain yaitu kertas kantong sak semen yang dibentuk sedemikian rupa hingga berbentuk batu atau menjadikan pondok tersebut seperti gua.

Didalam pondok-pondok tersebut biasanya terdapat pemutar lagu lengkap dengan soundsystem besar untuk memperdengarkan lagu-lagu favorit si penunggu pondok semalam itu. Suaranya akan di putar hingga pull, hingga dapat terdengar bahkan hingga beberapa puluh meter.

Karaoke, berjoget, tertawa, dan cara-cara lainnya dilakukan untuk merayakan pergantian angka tersebut.

Saya sendiri dulu,awal abad 21 saat masih SMA, cukup sering ikut merayakan tahun baru ini, tapi bukan seperti banyak remaja Pontianak lainnya yang hilir mudik di jalanan kota. Saya lebih suka berkumpul di rumah salah satu teman, membakar jagung atau ayam sambil menunggu detik-detik pergantian tahun tersebut sambil menikmati kembang api yang di bakar oleh orang-orang kaya di kota kami. Mungkin ini salah satu bentuk sedekah mereka kepada orang-orang yang tidak mampu, tidak  memberi makan, sedikit atraksi di langit malam mungkin cukup menghibur.


Setelah atraksi kembang api -biasanya sampai jam satu- kebanyakan teman ngobrol, sedangkan saya, tidur jauh lebih menggoda dari pada begadang.

Pagi tanggal 1 Januari adalah salah satu momen favorit saya, bukan karena tanggal barunya. Tetapi karena pada tanggal ini jalan-jalan kota biasanya sangat sepi, mungkin warga kota banyak yang kelelahan setelah berpesta semalam. Udara kota biasanya sangat bersih, dan bagi yang punya kamera, tanggal pertama setiap tahun ini adalah momen yang pas untuk mengabadikan lanskap jalanan.

Sekarang, saya tidak pernah lagi ikut meramaikan malam pergantian tahun. Kenapa? Karena saya insaf, momen ini bukan untuk saya. Tetapi untuk teman-teman saya yang merayakannya, dan saya menghormati mereka.

0 comments:

Post a Comment