Tuesday, January 7, 2014

Bogor Masih Dingin

Sejak dua setengah tahun yang lalu tinggal di kota Bogor, kami menemukan keadaan yang jauh dari pikiran kami yang telah lama terbentuk. Bogor kota hujan, dingin. Demikian orang-orang dulu menyebut kota yang oleh Belanda disebut sebagai Buitenzorg ini.

Bogor panas, itu yang kami simpulkan. Udara panas membuat kami lebih sering diam dirumah saat tidak ada kuliah. Lalu, karena sering mendengar cerita-cerita orang tentang tingkat keamanan yang rendah, pintu rumah kami lebih sering tertutup.

Sejak satu setengah tahun lalu kami pindah kontrakan, kontrakan yang lebih lapang, namun sama tertutupnya. Dinding kiri kanan berbagi dengan tetangga. Tidak ada jendela samping. Bahkan, tidak ada pintu belakang. Tapi model seperti ini rasanya lebih aman untuk kami. Dan kami bersyukur sekali mendapatkan kontrakan ini. Lagipula tidak jauh dari jalan raya.

Pagi ini, istri tercinta membuka pintu kontrakan kami. Udara dingin mengalir, mengisi ruang depan kami. Merayapi kulit dengan dinginnya. Berpikir, ternyata Bogor masih dingin. Memang saat berjalan subuh-subuh saya dapat merasakan dinginnya udara yang terasa tajam. Seperti menempelkan kulit pada besi yang baru diangkat dari air es. Tapi dingin kali ini berbeda, lebih siang, dan saya di dalam rumah. Walaupun sebenarnya kami tidak di kota Bogor, tepatnya di Cibanteng, Ciampea, tapi rasanya lebih umum kalau saya sebut Bogor saja.

Selamat pagi Bogor.

2 comments:

  1. dingin2 enaknya makan yang hangat.. makan ape ye?

    ReplyDelete
    Replies
    1. gimane kalau kite makan......

      yang hangat.... :P

      Delete