Thursday, January 2, 2014

Antara Karang dan Edelweiss

Sekitar tahun 2005, saya bersama beberapa teman mengikuti sebuah kegiatan yang di selenggarakan salah satu UKM di kampus. Lokasinya cukup  mengesankan, sebuah pulau di tepian Laut Cina Selatan bernama Kabung. Terkait dengan masalah Edelweiss Jawa yang sering menjadi korban manusia-manusia serakah, ada satu bagian dari cerita saya di pulau Kabung yang rasanya kurang lebih sama, serakah!

Awal cerita ini adalah bagian akhir dari kegiatan, acara terakhir adalah perang-perangan dengan misi mengambil bendera milik lawan. Konyolnya, perang-perangan ini dilakukan di tepi pantai yang dipenuhi karang laut. Akibatnya??? Tidak perlu saya jelaskan.

Saya termasuk lambat sadar, dan saya sendiri termasuk tersangka yang telah menginjak-injak karang-karang cantik itu. Tapi cerita belum selesai, saat selesai membasuh badan dengan air tawar saya melihat banyak peserta  membawa potongan-potongan karang ke tempat penginapan. Bukan ingin sok peduli lingkungan, karena saya memang peduli. Bukan saya munafik, karena sejujurnya saya juga ingin melakukan hal yang sama dengan mereka. Tapi saya lebih peduli dengan karang itu dari pada keinginan saya untuk mengambilnya.

Kemudian, saat acara penutupan akan dilaksanakan, saya meminta waktu kepada panitia untuk bicara kepada semua peserta. Baik yang mengambil atau tidak.

Saya sampaikan.
Bahwa karang yang mereka ambil itu bukan sebuah organisme, tapi ribuan individu yang akan segara mati setelah beberapa hari tidak tersentuh air laut. Ribuan nyawa organisme tercerabut hanya untuk memenuhi hasrat beberapa orang (memang demikiankah tabiat kita sebagai manusia?).

Saya sampaikan lagi.
Hari ini kita mengambil potongan karang-karang itu, walaupun sedikit, siapa yang bisa menjamin hanya kita yang mengambil. Mungkin besok akan datang lagi orang ramai dan bisa jadi mereka juga melakukan hal yang sama. Saat kita pulang, keluarga kita, teman dan lain sebagainya melihat yang kita bawa. Terbit keinginannya, mereka datang ke tempat yang ada karang. Seperti kita, mereka juga akan mengambilnya.

Jika semua orang melakukan hal yang sama dengan kita, berapa banyak karang yang akan hancur? Siapa yang bisa menjamin hanya kita yang mengambil? Siapa yang bisa menahan saat banyak orang mengambil, sementara kita sendiri ikut mengambil? Tidak adakah kekhawatiran bahwa ciptaan Allah itu akan musnah? Salah satu teori ekonomi menyebutkan, "sumber daya alam itu terbatas, sementara keinginan manusia tidak terbatas". Manusia seperti itukah kita?

Saya memprotes mereka, saya minta mereka mengembalikan potongan-potongan karang yang mereka ambil. Alhamdulillah, rasanya cukup banyak yang kemudian mengembalikan apa yang mereka ambil.

Malam ini, saya membaca kiriman seseorang dalam sebuah grup yang saya ikuti. Dia mempertanyakan, kenapa kita tidak boleh memetik Edelweiss (Jawa)? Saya rasa cerita saya diatas dapat menjawab pertanyaan itu. Bukan soal mistis, bukan soal pamali dan lain sebagainya. Hanya soal kepedulian kita terhadap lestarinya alam ini. Dan perlu diingat, Edelweiss (Jawa) adalah salah satu flora yang dilindungi Undang-undang Negara Indonesia.

2 comments:

  1. salam lestari kawan,,,
    semoga kita menjadi khalifah yang terus menjga ciptaan -Nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam lestari mbak Ain...
      Aamiin... semoga kita tidak menyia-nyiakan titipan-Nya...

      Delete