Sunday, December 1, 2013

Saya dan Ketan Hitam

Setiap kita punya memori masa kecil yang berbeda-beda, dan setiap memori itu akan menjadi bentuk dasar dari diri kita setelah dewasa. Memori-memori tersebut dapat membawa kearah positif, tetapi juga bisa ke arah negatif. Pengaruh tersebut tidak hanya secara psikis, tapi juga biologis (hehe, kesannya ilmiah banget ya).

Cerita tentang saya dan rendang. Ibu saya adalah orang Minang, karena itu setiap lebaran kami selalu makan rendang (sejauh yang saya ingat mungkin hanya satu atau dua kali kami tidak makan rendang). Kalau tidak makan rendang seperti tidak lebaran.

Cerita lainnya adalah tentang Putu Bambu. Dulu beberapa kali dalam seminggu penjual putu bambu lewat di depan rumah kami, hanya beberapa kali saya pernah memakannya pada saat masih kecil. Karena kondisi ekonomi yang tidak terlalu kuat, seringnya saya hanya mendengar suara siulan dari dandang si penjual Putu Buluh. Saya tidak berani meminta kepada orang tua. Kejadian ini membuat saya sangat suka dengan kue putu Buluh.

Dari kedua cerita diatas, dapat saya simpulkan adalah bahwa apa yang saya senangi berasal dari memori kesenangan masa kecil yang jarang saya dapatkan. Saat dewasa saya menjadi senang sekali mendapatkan hal yang jarang saya dapatkan waktu kecil.

Berdasarkan kesimpulan tersebut, ada lagi satu makanan yang saya senangi yang mungkin terjadi karena memori masa kecil. Makanan tersebut adalah ketan hitam. Sejak kecil ibu saya senang memasak ketan hitam (mungkin tidak terlalu sering).  Hampir selalu jika ada kesempatan untuk memakannya saya akan memakannya.

Ada tiga jenis makanan yang sangat saya senangi yang melibatkan ketan hitam. Pertama, bubur ketan hitam. Memasak ini tidak terlalu sulit, beras ketan hitam direbus hingga masak, kemudian santan di tambahkan untuk memberikan cita rasa yang bagi saya sangat luar biasa serta gula sesuai selera. Saya bisa makan hingga kenyang, berhenti baru pada saat terasa keblinger. Bahkan, jeda saya makan bubur ketan hitam itu biasanya tidak lebih dari dua jam. Seperti ingin terus menerus memakannya hingga pancinya bersih, saya korek dengan sendok. Sesekali biasanya ibu saya mencampur bubur ketan hitam ini dengan kacang hijau.

Selain masaka dirumah, bubur ketan hitam juga bisa saya dapatkan dari penjual keliling. Biasanya penjual itu menjual bubur ketan hitam, air tahu, mutiara, tahu hijau dan sebagainya. Bingung juga menyebut penjual itu, tapi saya yakin generasi saya tahu dengan penjual keliling yang satu ini.

Jenis makanan kedua, adalah tapai ketan hitam. Saya senang dengan tapai singkong, tapi saya sangat interest kalau ada tapai ketan hitam. Sejauh yang saya ingat,saya sering makan tapai ini dirumah salah satu bibi saya (kakak ibu saya) di jalan Parit Haji Husein atau paman saya (abang ibu saya) di Jeruju. Ibu saya dulu hampir tidak pernah memasaknya, karena tidak tahu caranya. Tapi mungkin karena ibu saya tahu saya sangat suka dengan tapai ini, beliau jadi sering membuatnya dalam beberapa tahun belakangan (pernyataan ini didasarkan perasaan saja).

Biasanya tapi ketan hitam hanya saya dapatkan saat lebaran, cukup banyak rumah yang saya kunjungi menyediakannya. Kalau tidak salah, keluarga-keluarga saya dari sebelah ibu hampir semuanya menyediakannya. Kalau sekarang, jika saya ingin makan ketan hitam ini, saya akan membeli berasnya sekitar satu kilogram dan meminta tolong kepada ibu saya untuk membuatnya. Ibu saya sekarang sudah lumayan lihai untuk membuatnya.

Jenis yang ketiga, apam pinang ketah hitam. Saya tidak ingat kapan pertama kalimemakannya, tapi saya ingat dimana pertama kali membelinya. Kalau tidak salah saya sendiri atau bersama ayah saya membelinya di jalan Ali Anyang dekat simpang jalan Pancasila ke arah Tsanawiyah. Sejak pertama kali memakannya, saya langsung jatuh cinta. Kombinasi ketan hitam dan parutan kelapa setenga muda (lembut) campur gula membuat kelenjar saliva saya bekerja sangat aktif. Banjir di rongga mulut. Apam pinang ketan hitam ini adalah apam pinang yang paling sering saya beli.

Demikianlah cerita saya tentang ketan hitam, kalau anda ingin memasak bubur ketan hitam, silahkan lihat disini, foto diatas saya pinjam dari situ juga.

2 comments:

  1. harus mulai belajar masak ketan hitam nih... *menunduk*

    ReplyDelete
  2. hehe... kita sudah berhasil dinda... :D

    ReplyDelete