Friday, December 20, 2013

Saya berpikir, maka saya nge-Blog


Otak kita selalu berpikir, bahkan, terkadang saat kita tidur otak kita masih saja ada aliran memori pada jaringan sel saraf yang berjumlah lebih kurang 100 milyar. Aliran-aliran tersebut adalah bentuk dari memori-memori itu.

Setiap hari saat juga kita menerima ransangan dari luar diri kita yang kemudian mengisi ruang-ruang memori kita. Sebagian memori itu ada yang langsung hilang, sebagian lagi tersimpan. Bagi yang senang berpikir dan bertanya, kebanyakan rangsangan-ransangan itu tetap membuat hiruk-pikuk di otak.

Semakin lama kita berpikir semakin banyak memori yang tercipta, karena setiap rangsangan yang masuk akan mencari koneksi dengan memori yang lama dan setiap koneksi tersebut dapat menjadi memori yang baru.

Misalnya, anda sedang berpikir tentang makan (memori: makan), kemudian anda melihat jeruk (ransangan yang kemudian menjadi memori: jeruk). Koneksi kedua memori ini akan membangun memori baru, anda bisa membayangkan anda sedang makan jeruk. Dengan demikian otak anda terus menambah memori baru.

Seperti saya sampaikan diatas, sebagian orang dapat langsung menghapus atau memendam memori yang tidak penting atau tidak menarik sehingga pikirannya tidak terlalu penuh. Tetapi sebagian yang lain mungkin memiliki ketertarikan terhadap banyak hal sehingga memorinya menjadi terlalu penuh.

Orang-orang ini dengan memori terlalu penuh ini biasanya akan berusaha untuk "mengeluarkan" atau menekan dan memendam apa yang tersimpan dalam otaknya. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk ini, misalnya untuk memendamnya orang menjadi banyak makan, menonton tv, mendengarkan musik, jalan-jalan, dsb. Sedangkan untuk mengeluarkannya orang dapat membicarakannya(istilah anak sekarang: curcol), dan ada juga yang menuliskannya, seperti yang sedang anda baca ini.

Karena saat ini saya agak susah berkomunikasi dengan orang lain secara langsung karena satu dan lain hal, maka saya memilih untuk menuliskannya dalam blog ini. Blog ini menjadi tempat memori-memori yang selalu tumbuh di kepala saya.

Dari pada terpendam di dalam otak dan memenuhinya tanpa saya sadari, lebih baik saya tulis. Barangkali suatu saat saya (dan mungkin orang lain) membutuhkannya. Inilah kelebihan menulis dari pada bicara, bicara biasanya hanya menjadi pesan sambil lalu dan langsung terlupakan, sedangkan tulisan dapat menjadi prasasti bagi keberadaan kita dan pikiran kita.

Karena saya punya masalah dengan tulisan tangan yang kurang ramah dengan mata, dan saya kurang lihai dalam menyimpan buku (diary), maka saya memilih blog untuk menjadi prasasti diri dan pemikiran-pemikiran saya.

Demikianlah pemirsa, semoga tidak terkesan narsis, dan semoga bermanfaat.

Sumber gambar: http://profalbrecht.wordpress.com

4 comments:

  1. Nice.
    Suka banget. Banyak kesamaan. Dan aku setuju bahwa karena kita berpikir maka kita menulis ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mbak.... memang kalau nggak dikeluarin terasa jadi sumbat.... jadi dikeluarin biar lancar... :D

      Delete