Monday, December 16, 2013

Kuvet Kenangan

"Yanet pulang dulu ya Jan, Jani ndak pulang ke, dah sore ni?", gadis penggila warna pink itu undur diri dari laboratorium. "Nanggung Net, sedikit lagi, kalau nunggu besok keburu larutannya berubah!", larutan kimia yang telah saya campur mudah teroksidasi, jadi tidak bisa ditinggal.

Selanjutnya saya sendirian di dalam ruang kecil berukuran sekitar 2x4 meter dimana sebuah kotak spektrofotometer seharga sebuah Innova tergeletak di atas meja porselin putih. Berbagai macam alat-alat khas lab Kimia menghuni sudut-sudut meja porselin tersebut.

Larutan yang saya buat adalah campuran hasil ekstraksi dari tanaman anggrek yang dicampur dengan laruntan lainnya. Spesies anggrek tersebut adalah jenis yang hampir hilang dari habitat aslinya karena semakin terkikis oleh ekspansi nafsu manusia.

Azan ashar telah lewat, namun saya belum juga shalat. Larutan selanjutnya masuk kedalam kotak kaca berukuran 1x4 cm ditanganku. Kotak kaca tersebut dibuat dengan memanaskan pasir silikon hingga suhu 2000 derajat Celcius. Terlihat sangat elegan, dan mahal. Kecil, tapi mahal.

Larutan yang tadi kemudian saya buang, selanjutnya dibilas dengan menyiramkan beberapa mili aquadest ke dalamnya. Saat berusaha mengeringkannya, ternyata masih ada bagian dari kotak kaca yang basah. Saya mengayunkannya seperti mengayunkan raket badminton.

Prank... sesuatu terdengar berderai di lantai porselin dibawah kursi yang saya duduki. Saat mengayunkan tangan tadi ternyata tangan saya tanpa sengaja tertahan oleh kursi disebelah kursi yang saya duduki dan melepaskan sesuatu yang tercekat oleh jari-jariku. Sebuah kotak kaca seharga kurang lebih 3,5 jt perpasang.

Tergamam. Rasanya nelangsa, kosong.... hening.... 

2 comments: