Sunday, December 22, 2013

Cubitan Maut

Bagaimana rasanya saat dada anda (laki-laki) dicubit seperti gambardi samping? Saya yakin anda belum pernah merasakannya. Teman saya pernah merasakannya, dan saya yakin itu sangat sakit. Karena ada teman saya yang sampai meneteskan air mata setelah dicubit seperti itu.

Tapi tunggu dulu, muncul pertanyaan, siapa yang mencubit?dan kenapa dia dicubit?

Yang mencubitnya adalah seorang guru kami dan alasannya adalah karena tidak ikut pram*k*, dan dia tidak mencubit dengan senyum seperti gambar diatas. Sampai saat ini sebenarnya saya masih tidak bisa membenarkan apa yang dilakukan guru tersebut, walaupun saya sendiri tidak perna dicubit karena tidak ikut pram*k* itu.

Cerita yang paling saya ingat dari banyak tragedi cubitan maut itu adalah tentang dua orang teman saya yang dicubit. Cerita yang pertama adalah seorang teman saya maju untuk mendapat gilirannya menerima cubitan maut tersebut. Setelah menerima jatahnya dia kembali ke bangkunya dengan wajah yang datar, namun tidak dapat menyembunyikan penderitaannya.

Teman sebangkunya kemudian bertanya, "ndak pape ke boy?" ("tidak apa-apa ke teman?"). Teman saya itu kemudian menjawab, "ndak pape!" (tidak apa-apa!"). Sesaat kemudian dia meletakkan satu tangannya diatas meja, tangan lainnya diatas tangan yang diatas meja, dan jidatnya diletakkan di atas kedua tangannya tadi, sedangkan wajahnya menghadap ke lantai.

Kami yang berada di bangku-bangku lain memperhatikan, tidak lama kemudian lantai dibawah wajah yang barusan dapat jatah  itu terbentuk lingkaran-lingkaran kecil dengan diameter seperti kelereng. Bagi yang pernah merasakan cubitan maut itu mungkin akan berkata, "dia pantas meneteskan air matanya". :P

Kejadian kedua, seorang teman maju kedepan untuk menerima jatah karena tidak ikut pram*k*. Seperti orang-orang sebelumnya, guru tersebut menanyakan "kenapa tidak ikut pram*k* dul?". Jawaban yang kemudian dikeluarkan teman saya tersebut sungguh tergolong berani, "saya menghadiri acara ulang tahun teman pak".

Sungguh jawaban yang berani menurut saya, dan kelanjutannya sungguh tragis. Guru tersebut menyanyikan lagu "selamat ulang tahun" sementara dua jarinya menejepit dada teman saya tersebut sambil menggoyang-goyangnya naik turun. Seingat saya, kasus jepitan ini adalah yang paling lama dari kasus jepitan-jepitan lainnya. Karena lagu ulang tahun itu lumayan panjang dinyanyikan.

Saya harap tidak ada lagi korban cubitan maut seperti yang dilakukan guru kami tersebut.

2 comments:

  1. antare nak ngakak dengan miris bacenye da... xD
    *bingung menentukan perasaan, ahaha

    ReplyDelete
  2. tulah din, semoga ndak ade lagi siswa yang mengalami seperti dalam cerita di atas

    ReplyDelete