Wednesday, November 27, 2013

Pencinta Alam, Katanya!


Banyak orang suka petualangan, mendaki gunung, memanjat tebing, rafting, dan sebagainya. Nenek moyang kita sebenarnya memang petualang semua. Orang-orang yang suka petualangan ini biasa disebut dengan "petualang", menurut saya itu sebutan wah. Ada juga yang bilang pencinta alam, nggak tau mana yang benar ni, pecinta, atau pencinta??? Karena saya masih bingung, maka saya pakai pe-n-cinta.

Kadang orangnya sendiri yang menyebut dirinya "petualang" atau "pe-n-cinta alam", tenang tenang, nggak ada yang salah kok. Terserah masing-masing oranglah menyebut dirinya apa. Terus ada juga yang menyebut dirinya pendaki gunung, pemanjat tebing, penakhluk, dan sebagainya dan sebagainya. Sekali lagi, nggak ada yang salah dengan ini. Nggak pakai tapi. Ada juga yang pakai embel-embel "sejati", nah ini udah kayak rokok ni, atau rokoknya yang kayak dia??? Bagaimana dengan anda? Apakah anda adalah seorang petualang sejati? seorang pendaki sejati? atau pencinta sejati? Pencinta apa ya?

Saya ini, gini-gini, tampang lumayan gini (bukan nyombong, tapi bersyukur), anak mapala lo. Hehe, cuma ada sedikit yang beda sama pikiran saya. Mapala itu memang akronim dari "mahasiswa pe-n-cinta alam", tapi saya agak gimana gitu untuk mengatakan bahwa saya ini seorang pencinta alam. Kalau orang mau bilang seperti itu (saya ini pencinta alam), ya terserah mereka toh (kayak ada yang peduli aja, hehe). Ini bukan cerita nyombong atau sok idealis, tulus dari hati yang paling dalam, saya tidak merasa saya ini seorang pe-n-cinta alam.

Kenapa saya tidak merasa begitu? Karena mencintai itu berat, coba bayangkan seorang laki-laki atau wanita sedang jatuh cinta. Awal cinta bersemi, mereka akan sering sekali saling pandang, atau saling membicarakan. Waktu bertambah, mereka akan selalu ingin bersama, "hampa tanpa dirinya", mungkin gitu kata pujangga. Dan cinta mencapai sejatinya saat ijab kabul telah terucap, saat itulah arti cinta yang sesungguhnya terwujud, Tanggung Jawab. Bersama kata cinta datang tanggung jawab. Kalau kita mencinta alam, maka kita harus bertanggung jawab terhadapnya. Bagaimana caranya? Ya... pikir sendiri saja. Masing-masing orang punya pandangan.

Nah, karena itulah saya tidak merasa diri ini seorang pencinta alam. Kalau boleh saya menyebut diri sendiri, saya adalah seorang yang sedang belajar mencintai alam.

Saya juga nggak mau menyebut diri ini seorang pendaki gunung, kenapa? Mari saya beri contoh, saya sering menjepret satwa dengan kamera istri saya, apakah saya telah menjadi seorang fotografer? Saya menjahit baju saya yang koyak, apakah saya seorang penjahit pakaian? Saya membetulkan jaringan listrik di rumah saya, apakah saya telah menjadi seorang tukang listrik? Ini bagian utamanya, saya mendaki sebuah atau dua buah gunung, apakah saya telah menjadi seorang pendaki gunung?

Kapan saya pantas dikatakan seorang pendaki gunung? Nah, soal yang ini terserah kita sama-sama, masing masing orang kan punya pemikiran sendiri. Cerita ini tentang saya kok, bukan tentang orang lain, jadi saya ceritakan bahwa saya ini bukan seorang pendaki gunung, tapi orang yang senang menjadi gunung. Kalau ada yang bilang saya pendaki gunung, ya itu terserah mereka. Kalau ada yang bilang saya bukan pendaki gunung, ya terserah mereka lagi. Kalau seseorang berkata dia seorang pendaki gunung, ya bener itu, dia sendiri yang bilang. Jadi maksud saya, tulisan ini tidak menjadikan saya seorang hakim tentang siapa sesungguhnya pendaki gunung itu, karena yang dibahas disini saya, bukan pendaki gunungnya.

Kalau ada yang bilang saya keren, ya itu terserah mereka. Tapi saya itu nggak perlu orang lain bilang saya keren, karena saya sudah tahu. :D

0 comments:

Post a Comment