Sunday, November 24, 2013

Kopiku

Berdasarkan sebuah penelitian yang mungkin dapat dipercaya, kebiasaan minum kopi memiliki hubungan dengan karakter seseorang. Bagaimana menurut anda? National Geographic Indonesia menjadikan hasil penelitian itu sebagai artikel di versi online mereka.

Dari beberapa jenis kopi yang dipaparkan berhubungan dengan karakter manusia, yang saya ingat hanya satu jenis kopi, yaitu kopi instan. Saya bisa mengingatnya karena sudah beberapa bulan belakangan saya  sering minum kopi instan. Terkait dengan kopi instan, artikel itu menjelaskan bahwa orang yang cenderung pada kopi instan adalah orang yang instan dan cenderung malas.

Tentu saja orangnya malas, yaitu malas membuat kopi secara konvensional. Tetapi apakah bisa kita generalisasikan dengan mengatakan peminum kopi instan adalah pemalas dalam hidupnya? Kalau saya pribadi tidak setuju, ya, saya akui, saya memang sedikit pemalas jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang rajin. Tapi saya cukup rajin kalau dibandingkan dengan teman-teman saya yang malas... hehe... useless comparation.


Secangkir Kopi
Secangkir Kopi
Dulu sebenarnya saya sering minum kopi bubuk, tiap nongkrong dengan teman-teman biasanya hanya saya yang minum kopi. Sementara teman-teman yang lain hanya minum teh es. Namun saat generasi saya mulai keranjingan nongkrong di warung kopi, saya tidak terlalu tertarik. Bahkan saya mulai jarang minum kopi, karena rasanya saya sering masuk angin setelah ngopi. Saya juga suka minum capucino, tapi setelah beberapa lama saya jadi kurang suka karena rasa kopinya hilang di lidah saya. Kurang nendang.

Pindah ke bogor, hobi ngopi kembali lagi. Saya senang memasak kopi, kopi dimasukkan ke dalam air mendidih yang masih berada di atas kompor menyala. Buih-buih hitam akan muncul dalam beberapa detik, kopi yang dimasak seperti ini punya cita rasa yang berbeda di lidah saya. Berbeda dengan kopi yang hanya di campur dengan air dari dalam termos. Bagaimana dengan masuk angin? Untuk menanggulangi masalah ini saya menambahkan bubuk krimer pada kopi saya, tapi saya sendiri tidak tahu ada hubungannya atau tidak. Atau mungkin hanya sugesti.

Suatu hari saya menemukan kopi instan sachet, kopi ini punya embel-embel STMJ. STMJ tau kan? Tidak perlu saya jelaskan. Embel-embel STMJ itu berhasil menarik perhatian saya, setelah mencoba beberapa bungkus, ternyata saya sangat menyukainya. Hampir setiap hari saya minum satu sachet, jarang lebih. Beberapa minggu yang lalu saya merasa agak susah tidur, mungkin karena ada pikiran terkait dengan studi. Walaupun mungkin tidak berhubungan dengan kopi, saya kembali menghindari kopi. Sebagai gantinya, saya banyak minum bandrek. Rasanya cukup nendang, rasa jahe yang panas terasa cukup menghangatkan tubuh saya.

Namun malam ini, saya kembali tergoda minum kopi lagi. Karena itu saya menulis ini.

Ngomongin kopi, Saya jadi teringat dengan kisah Toples mayonaise dan dua cangkir kopi.

0 comments:

Post a Comment