Monday, November 4, 2013

Kapal Antar Masa

Kulihat tali jangkar kapal saat mataku terbuka, perasaanku mengatakan jangkar itu tidak lagi tersangkut. Kapal ini sedang berlayar, kapal kayu dengan dua tiang layar, mungkin dari abad ke 16 atau 17. Entah sejak kapan dia meninggalkan bandar. Batinku masih berusaha merangkai apa yang sedang terjadi, kenapa aku tiba-tiba bangun di atas sebuah lambung kapal dengan tali jangkarnya tidak dinaikkan keatas. Jika sauh masih menggantung, berarti kapal ini berlayar atas kehendak alam. Karena jika memang nahkoda ingin berlayar, tentu sauh telah tersimpan rapi di geladak.

Aku berdiri untuk melihat sekitar, hanya biru. Hanya laut dan kami diatas kapal besar ini. Sebuah ombak besar menyapa kami dan menaikkan haluan kapal seolah kapal ini sedang mendaki. Aku hanya diam, memandang ke arah nahkoda yang berdiri di belakang kemudi. Aku tidak tahu apakah ini black Pearl atau bukan, tapi yang jelas Jack Sparow sedang berdiri di belakang kemudi kapal dimana aku berdiri. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, sama seperti apa yang kurasakan di  wajahku. Aku merasa tidak dapat mengekspresikan apapun, meskipun rasa takut telah menggulung hatiku.

Kapal Kayu di Jungkat Beach, Kalimantan Barat (Kredit Delyanet Karmoni)
Ombak besar itu lewat hanya untuk membiarkan ombak yang lebih besar lagi datang. Haluan kapal mendaki lebih tinggi tanpa mengalami posisi menunjam ke laut. Dibalik ombak pertama tadi air tidak melereng turun, tetapi datar. Aku memandang kembali ke arah nahkoda, dia sama sekali tidak bergeming memandang jauh ke depan seolah memasrahkan kemana Tuhan akan memerintahkan alam membawa kami.

Ombak ketiga datang, lebih besar, lebih tinggi, lebih mengerikan. Namun tetap tidak ada yang bisa kuekspresikan. Selanjutnya kapal dalam posisi bersisian dengan ombak yang tingginya mungkin dua kali dari tinggi kapal ini. Jika haluan kapal tidak diarahkan memotong ombak kapal ini akan terbalik, namun nahkoda tetap diam. Tangannya tidak juga memegang kemudi kapal. Ternyata haluan kapal bergerak dengan sendirinya, memantang tembok air di depannya, menanjak dan kembali datar.

Setelah ombak kelima yang lebih besar dari sebelum-sebelumnya, langit menjadi hitam. Titik-titik bercahaya memenuhi kubah hitam diatas kami, sebuah pemandangan yang hanya pernah kulihat dari atas puncak gunung. Sesaat kemudian kusadari, bintang-bintang itu tidak hanya diatas kami. Didepan, disamping, dibelakang, dan dibawah. Kami tidak lagi berlayar di atas laut, kami telah berada di lepas bumi. Kapal ini berlayar di luar angkasa, pemandangan yang kulihat mungkin sama dengan yang bisa di lihat awak kapal Enterprise dalam Star Trek.

Bintang-bintang itu hanya sebentar menemani kami, tiba-tiba kapal kembali membelah biru lautan. Di kiri dan kanan aku melihat kapal-kapal dari besi dan digerakkan mesin dengan petikemas bertumpuk diatasnya. Ternyata kami baru saja melakukan perjalanan waktu. Dari abad 16/17 langsung ke abad 21.

Mendekati daratan, kecepatan kapal tidak berkurang. Hingga kemudian haluan kapal menaiki tanah dan bergerak diatasnya, jauh terus ke daratan. Entah dengan kekuatan apa atau darimana, aku mengendalikan arah gerak kapal dengan berdiri diatas haluan. Kapal ini mengikuti arah gerakanku, seolah pikiranku terhubung dengan kehendak kapal kayu ini. Saat badanku miring ke kanan, dia mengarah kekanan, demikian saat tubuhu miring kekiri.

Setelah beberapa menit membelah daratan diatas tanah coklat becek tanpa aspal, kapal berhenti di depan sebuah warung kecil. Sebuah bangunan kecil dari kayu, seperti warung-warung di daerah pedalaman. Kami turun, aku dan seorang awak yang wajahnya mirip dengan awak kapal Black Pearl dengan rongga mata kanannya berisi bola mata palsu. Kami membeli beberapa bibit tanaman kecil dalam polybag, entah tanaman apa aku tak dapat mengingatnya.

Seorang gadis lewat di depan kami, sambil berkata-kata seperti orang kurang waras dia memandang kepada kami. Aku mencoba mendekatinya, daya tarik yang aneh. Meskipun berusaha ramah, aku tidak merasakan dia ingin di dekatku. Sesaat kemudian dia berkata, "Aku berkata-kata seperti itu agar temanmu merasa aku sama dengan dia". Mungkin yang dimaksud gadis itu dengan kata "sama" adalah kurang waras. Tetapi bagaimana seseorang yang kurang waras bisa merasakan ada orang lain yang kurang waras juga. Tapi, mungkin mereka yang waras, sehingga saat ada orang lain terlihat sama, maka dia melihat orang yang sama waras dengan mereka.

Di ujung lorong kulihat Nahkoda sedang berduaan dengan seorang wanita,  dibalik kain putih. Hanya bayangan mereka yang bisa kulihat, ............ Temanku yang kurang waras itu juga bercengkrama dengan gadis yang berpura-pura kurang waras tadi.

Aku hanya berdiri terpaku.

Kredit gambar: Delyanet Karmoni

2 comments:

  1. Terpaku di dunia mimpi yang tidak waras.... hehe ^^

    #ngesak bace ujungnye...

    ReplyDelete
  2. hehehehe... uda tu terpaku karne ngesak gak.... :P

    ReplyDelete