Tuesday, October 22, 2013

Dari Schleiden ke Olmsted

"Tulisan ini seperti laporan proyek & bukan tesis. Tak ada analisis sama sekali!", tertulis di halaman sampul draft tugas akhir yang saya ambil barusan dari kantor TU departemen tempat studi saya.

Saya hanya bisa tersenyum, namun pikiran terbang secara tanggung. Seperti mimpi saya beberapa malam yang lalu, setelah terbang dengan bebas kemudian turun dengan perasaan syak karena tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk terbang bebas.

Saya pernah mengerjakan penelitian saya sendiri untuk mendapatkan gelar sarjana, mungkin karena enggan untuk mencari judul yang sesuai dengan hati maka saya memutuskan untuk mengikuti sebuah proyek penelitian dosen. Namun sebenarnya ada sebab yang lebih tentang pengambilan judul ini (muka serius). Saya berharap, saya sebagai seorang mahasiswa ingin agar hasil penelitian yang saya kerjakan bisa dimanfaatkan dalam dunia nyata. Bukan sekedar tugas akhir yang benar-benar berakhir di gudang penyimpanan perpustakaan kampus menunggu masanya untuk di timbang oleh pengumpul kertas bekas.

Penelitian tersebut termasuk dalam lingkup "fisiologi tanaman", sesuatu yang bahkan sampai saat ini masih  kedengaran asing bagi saya meskipun pernah 2 tahun bergelut dengannya. Tanaman yang menjadi objek penelitian adalah anggrek ekor tikus yang sudah langka di habitatnya. Diharapkan dari penelitian ini anggrek tersebut dapat diselamatkan dari kepunahan di habitatnya (walaupun sebenarnya sudah ada upaya perbanyakan yang berhasil di tempat lain).

Fokus dari penelitian tersebut adalah tentang simbiosis anggrek tersebut dengan jamur (mikoriza) dalam masa perkecambahannya. Berbeda dengan tumbuhan lain yang memiliki biji yang dilengkapi dengan cadangan makanan (kotiledon), anggrek tidak punya. Karena itu perkecambahan anggrek di alam bebas harus dibantu dengan jamur sebagai pemasok kebutuhan energi untuk terjadinya perkecambahan, keuntungan bagi jamur, ada berbagai macam zat metabolit sekunder yang bisa diserap dari anggrek. Pertanyaannya, mikoriza jenis apa yang sesuai sebagai pasangan anggrek tersebut?

Untuk menguji kesesuaian tersebut diperlukan banyak sekali individu anggrek, setiap individu tersebut akan di pasangkan di pelaminan mereka masing-masing berupa sebuah botol selai dengan agar-agar sebagai tempat duduknya. Seingat saya, minimal dibutukan 135 individu anakan anggrek untuk melakukan percobaan itu. Satu anggrek ekor tikus dewasa di kota Pontianak saat itu mencapai harga IDR300K. Untungnya sudah ada yang membiakkannya secara kultur jaringan di pulau seberang, sehingga kami bisa mendapatkan anakannya seharga sekitar IDR12K perindividu. Namun untuk sampai 135 tanaman tentu akan sangat mahal, karena itu anakan-anakan tersebut kami (saya dan teman-teman satu tim peneliti) kulturkan lagi sehingga bisa mendapatkan jumlah tanaman yang sesuai dengan umur dan perlakuan yang sama.

Kultur Jaringan, salah satu terobosan dunia bioteknologi yang revolusioner. Dari sepucuk tunas muda suatu tanaman, dapat dihasilkan ribuan, bahkan jutaan individu baru dengan sifat yang sama dalam waktu singkat. Untungnya kultur jaringan pada hewan atau manusia (kloning) tidak sesukses seperti tumbuhan. Kultur jaringan adalah sebuah teknologi yang dilatarbelakangi teori "totipotensi sel" yang dikemukakan pertama kali oleh Schleiden (1838). Menurut teori ini, setiap sel tanaman hidup mempunyai informasi genetik dan perangkat fisiologis yang lengkap untuk dapat tumbuh dan berkembang menjadi tanaman utuh, jika kondisinya sesuai.

Setelah beberapa bulan mengerjakan kultur jaringan anggrek, akhirnya kami mendapatkan jumlah yang cukup untuk di aplikasikan dengan spora jamur. Spora jamur yang di pesan dari jawa dan telah di sortir beberapa minggu dari kertas saring siap. Pada hari yang ditentukan, spora-spora jamur tersebut dimasukkan kedalam botol selai dimana anggrek telah menunggu untuk di infeksi.

Apa daya, beberapa hari kemudian botol-botol selai berisi agar-agar dan anggrek itu telah di kuasai berbagai macama mikroorganisme yang sangat tidak bersahabat, permukaan media agar yang sebelumnya bening menjadi merah muda, di botol lainnya ada yang menjadi hitam dan ada yang putih karena ditumbuhi jamur asing. Puluhan tunas anggrek hasil kultur jaringan berbulan-bulan yang lalu menjadi korban, membusuk dalam beberapa hari. Inokulasi spora jamur mikoriza GAGAL TOTAL.

Karena aplikasi dalam kondisi in-vitro gagal, pembimbing saya dan rekannya sebagai empunya proyek penelitian memutuskan untuk mengaplikasikan jamur pada anggrek dengan media berbeda, diluar laboratorium. Percobaan kemudian di lakukan di dalam rumah kaca dengan sabut kelapa sebagai media anggrek, spora dalam air botol film di teteskan ke akar anggrek. Dua bulan kemudian anggrek dipanen untuk dilakukan uji spektrofotometri, uji yang sangat membekas di ingatan.

Sebagai mahasiswa Biologi yang sudah bergelut dengan jurusan kuliah ini selama hampir lima tahun, saya masih bisa menemukan rangkaian kata yang bise menggambarkan hasil penelitian beserta analisis yang menjelaskan sebagian hal yang terlihat dari data yang didapat. Tentang mikoriza, kultur jaringan, simbiosis anggrek dan mikoriza, tentang pertukaran zat antara kedua organisme tersebut, tentang fenol yang menjadi indikator pertukaran tersebut, dan banyak hal lainnya.

Hari ini, mendapatkan sebuah nasehat bahwa apa yang saya tulis lebih mirip laporan proyek dari pada sebuah tesis. Tetapi saya tetap menyunggingkan senyum, karena memang itulah kenyataannya. Ajaran Frederick Law Olmsted terasa masih begitu jauh dari pemahaman saya tentang sebuah pemandangan yang indah, bagaimana merencanakannya, bagaimana mendisainnya, bagaimana?

Tapi bukan berarti saya terpuruk merapat, cerita ini saya buat sebagai prasasti tentang arti senyum saya siang ini saat mengambil draft tesis saya. :)


2 comments: