Monday, September 30, 2013

Penipu Maho

Beberapa hari yang lalu saya mendapat sebuah telpon dari seseorang yang nomornya tidak saya kenal. Karena memang kebiasaan saya yang ramah (cieeeh..), langsung saja telefon itu saya angkat.

"Halo, selamat siang, apa kabar nih?" sapanya langsung.

"Maaf ini siapa?", tanya saya.

"Loh, nomornya nggak di save ya kemaren? Nggak ingat ya? Coba ingat-ingat, dari suaranya?", katanya kemudian.

"Bang Iwan ke ni?" jawab saya dengan perasaan tidak enak karena tidak ngesave nomornya.
Suara yang nelpon ini memang agak mirip dengan bang Iwan yang saya kenal.

"Ape kabar bang?" tanya saya masih lugu.

"Baik, ini, abang mau nyampaikan info, ada lelang barang di Bea cukai!" katanya dengan nada yang kedengaran ramah.

"Posisi abang di mane ni?", tanya saya.

"Abang sekarang di pelabuhan", jawabnya.

"Oh, sejak kapan abang kerja di pelabuhan bang?" tanya saya menyelidik.

"Oh nggak, abang  masih di tempat yang lama." jawabnya lagi.

"Oh, masih di perusahaan konsultan tu bang?", pertanyaan pengecoh lawan. Tidak ada konsultan yang saya kenal bernama Iwan.

"Iya benar, ini.... barang-barang lelangnya banyak. Lebih jelasnya abang sms-kan aja ya, nanti abang telpon lagi", telpon di putus.

Beberapa saat kemudian masuk banyak sms secara bertubi-tubi ke handphone saya. Isinya tentang beragam jenis barang, kondisi, dan harganya. Mulai dari mobil hingga handphone. Dalam hati saya, saya sedang tidak butuh semua, dan saya masih cukup sadar.

Beberapa saat setelah sms bertubi-tubi tersebut, dia mencoba menelpon, tapi tidak saya angkat. Sebuah sms langsung masuk, "Kok nggak diangkat telponnya?". Saya balas, "Maaf bang, saya lagi sibuk, ada tamu, bentar aja ya nelponnya". Antara menyiapkan kata-kata untuk mengerjainya, tapi saya takut dosa karena membual juga.

Sms-nya masuk lagi, "nanti kalau udah nggak sibuk kasih tahu aja ya".

Sore hari dia mencoba menelpon lagi, tapi tidak saya angkat lagi. Ingin sekali mengerjainya lagi, tapi rasanya bukan kebiasaan saya seperti itu. Jadinya saya biarkan saja. Beberapa saat kemudian masuk lagi sms, "Jadi telpon dari abang nggak mau diangkat! Ya sudah kalau gitu!". Hari itu komunikasi putus sampai disitu.

Besoknya, dia mencoba menelpon lagi, beberapa kali. Akhirnya saya sms dia, "Maaf bang, saye lagi sibuk, abang kasih tau jak posisi abang dimane, nti saye kesana langsung liat kondisi mobilnye, saye lagi butuh mobil juga ni. O iy, tolong bilangkan nenek abang, tolong kembalikan uang 20jt yang kemaren dia pinjam, saya mau makai uangnya", wkwkwkkwwkwk.

Dibalas, "Kamu jangan ngarang ya, nenek abang udah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Kurang ajar kamu ya".

"Waduh, ini bukan bang Iwan yang konsultan maho itu ya?", ups... salaaaah... :P.

Dibalas lagi," Iya kenapa memangnya? Kalau kamu nggak berminat ya sudah!".

Saya balas lagi, "Kalau benar, tolong sampaikan ke nenek kamu kembalikan uang saya" , wkwkwkwkwk.

Fin
nb: Sebagian percakapan diatas tidak sama persis dengan aslinya, tapi secara harfiah isinya sangat sesuai, menurut saya.

Hanya dengan sms-sms itu, puas juga rasanya. Walaupun sedikit membual, tapi dia sendiri yang mengiyakan bualan saya. Buat rekan-rekan yang sudah membaca ini, waspadalah dengan modus-modus penipuan semacam ini. Sepertinya semakin banyak orang yang mencari uang dengan jalan yang tidak halal ini.
Kejadian diatas bukan satu-satunya kejadian penipuan yang hampir merugikan saya. Saya juga sering menerima sms-sms mengada-ada dari nomor tidak dikenal, yang saya yakin rekan-rekan juga sering mengalaminya. Tapi ada satu kejadian lain yang membuat saya tersenyum sendiri mengingatnya yaitu Penipuan Berkedok Pelatihan Menulis.

4 comments:

  1. wkwkwkwk.... Sawan penipunye kena tagih 20 juta.... xD

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. cerita ini nyata gan, tapi bang iwan yang konsultan itu "fiktif belaka" :)

      Delete