Sunday, September 29, 2013

Hobi Empat Bersaudara


Setiap orang memiliki pilahan masing-masing dalam hidupnya, salah satu pilihan tersebut adalah hobi. Kadang saat saya sendirian, teringat-ingat dengan adik-adik saya yang ada diseberang pulau. Mereka bertiga, sudah dewasa, ketiganya sekarang telah menjadi pegawai negeri sipil. Dari banyak hal yang saya ingat, yang paling sering adalah tentang hoby. Sedikit cerita tentang hoby kami, berhubung ini blog personal yang terbuka untuk umum jadi saya rasa tidak ada masalah. Hehe.

Saya, Petualang, kata saya.
Sewaktu masih kecil, mungkin waktu saya kelas 2 SD, saya pernah diajak Ayah saya untuk pergi keluar kota, mungkin tepatnya bukan diajak, tapi ingin ikut. Kota tujuan kami adalah Singkawang, tujuan dari perjalanan ini adalah mengantarkan buah-buah rambutan dari sungai raya pontianak ke kota singkawang. Saat itu ayah saya berprofesi sebagai pengantar barang dengan menggunakan mobil pick up miliknya. Dalam perjalanan itulah untuk pertama kalinya saya melihat gundukan tanah tinggi yang dikenal sebagai bukit. Begitu katroknya saya dengan bukit hingga saya membujuk ayah saya untuk singgah dan mendaki bukit-bukit tersebut. Namun keinginan tinggal keinginan. Berkali-kali kemudian kami lewat di kawasan perbukitan, berkali-kali itu pula saya hanya memandang. Ada sekali waktu ayah membawa mobilnya masuk ke kawasan pasir panjang (kalau tidak salah) dimana terdapat bukit, saya kemudian mencoba untuk mendaki. Baru beberapa meter berjalan mendaki, rasa takut terbit di benak saya, tidak jelas takut pada apa, saya kemudian langsung turun kembali.

Masuk SMA, untuk pertama kalinya saya kenal dengan istilah Pencinta alam. Dengan semangat tahun 2000 saya menghadari acara perkenalan ekstrakurikuler tersebut. SISPALA, itulah nama ekskur tersebut. Siswa-siswa yang hobinya bertualang, memanjat tebing, mendaki gunung (sayangnya tidak ada gunung di Pontianak), dan sebagainya. Saya pun lumayan aktif di organisasi ini hingga sempat (paling tidak) mendaki satu gunung, walaupun tingginya hanya 700-an meter. Kalau di Jawa di ketinggian 1000 meter mungkin masih ada kampung, bahkan kota, tapi jarang sekali di Kalimantan ada kampung di tempat yang tinggi, kecuali di bagian tengahnya.

Lepas SMA dan masuk kuliah, saya menyambung hobi saya. MAPALA, dulu siswa sekarang mahasiswa. Di organisasi ini kegiatan petualangan saya jauh lebih atraktif dengan intensitas lumayan tinggi (tapi mungkin tidak setinggi teman-teman saya satu angkatan di Mapala). Menjadi gunung yang lebih tinggi, panjat tebing, backpacking, dan sebagainya. Disinilah saya benar-benar berkenalan dengan dunia petualangan. Begitulah.

Kedua, Garciac Febrianto (Dedek), olahragawan


Dedek, begitulah saya memanggilnya, karena dia adik saya yang pertama. Adik saya yang ketiga dan keempat memanggilnya abang. Sejak kecil sangat dekat dengan olahraga, seperti banyak anak kecil lainnya, dia sangat bersemangat dengan sepak bola (kadang dengan layangan). Adik yang satu ini memiliki kemauan yang keras, hampir tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya (termasuk dengan cara merengek... piss :D). Semangat dan kesungguhannya terhadap sepakbola berbuah manis saat dia diajak temannya untuk bermain dalam sebuha kompetisi, bahkan beberapa kali dia ikut kompetisi. Beberapa diantaranya kalau tidak salah dia juga menjadi juara (1, 2 atau 3 saya lupa). Saat tamat SMA, dia memutuskan untuk mengambil jurusan guru olah raga. Sekali lagi konsistensinya terlihat, dan ini tentu saja membuat ibu kami senang (menurut saya), karena ibu kami adalah seorang guru olahraga.

Saat kuliah dia mendalami olahraga bola basket, sepak bola beralih menjadi futsal. Saya juga melihat semangatnya untuk bermain basket, hingga saat ini setelah menjadi guru olah raga, dia juga melatih club basket di sekolahnya.

Ketiga, Nopia Astriana,.....


Kalau saya ditanya tentang hobi atau minatnya, jujur saya tidak bisa menjawabnya. Sepanjang masa kecil kami saya tidak melihat ketertarikannya pada suatu bidang tertentu untuk dijadikan hobi. Mungkin ini adalah salah satu warisan ibu kami, memang ibu kami guru olahraga, tapi saya tidak bisa mengatakan beliau memiliki hobi tertentu. Yang saya tahu, Nopi mulai terlibat kegiatan organisasi saat dia kuliah. Sekarang dia telah menikah dan telah dikarunia dua orang anak yang menggemaskan. Jadi mungkin bisa saya katakan dia adalah seorang ibu rumah tangga, seperti ibu kami juga.

Keempat, Benyamin Ready (Didi), Seniman
Yang saya ingat tentang aktifitas adik saya yang paling bontot ini awalnya adalah saat dia tsanawiyah(smp), kalau tidak salah dia menjadi pengurus osis, ini adalah sebuah kemajuan, kedua abang dan satu kakaknya tidak pernah menjadi pengurus osis (setahu saya). Adik saya ini sangat sibut dengan urusan osisnya, walaupun menjabat staf sekretaris tapi sepertinya dialah kepala bagian sekretaris (maaf kalau Mnto sotoy y di :D). Sepertinya kebutuhan surat menyurat osisnya dia yang mengerjakan. Tidak berhenti di surat-menyurat, setelah dia selesai menjabat sebagai pengurus osis, dia masih dipercaya untuk membimbing adik-adik kelasnya untuk meneruskan kepengurusan osis. Bahkan sampai dia sma (kalau tidak salah) adik-adiknya di tsanawiyah masih mendapatkan warisan ilmu administrasinya.


Saat dia masuk sma, dia mulai mengenal dunia seni, tepatnya seni peran. Dia bergabung dengan ekstrakurikuler teater yang ada di sekolahnya. Keseriusannya dengan dunia barunya ini cukup mengesankan, walaupun kadang menimbulkan sedikit kontroversi (mudah2n betul penggunaan katanya nih) di rumah kami. Kadang dia terlalu sibuk dengan latihan teaternya, berbeda dengan sinetron jaman sekarang, akting di teater membutuhkan keseriusan, penjiwaan dan latihan yang luar biasa oleh aktor/aktris-nya. Namun keseriusan tersebut juga tidak sia-sia, sudah beberapa kali dia mementaskan drama teater di balai budaya di kota kami. Bahkan sebelum menjadi pegawai di imigrasi hingga saat ini, dia sempat tampil sebagai pemeran utama dalam sebuah lakon.

Itulah kami, Petualang, Olahragawan, Ibu rumah tangga, dan Seniman. :D

2 comments: