Thursday, September 12, 2013

Hanif Edelweissar


Ibumu, Ibumu, Ibumu

Semua orang yang merasa dirinya muslim hampir bisa dipastikan pernah mendengar hadits Rasulullah yang menyebut Ibu hingga tiga kali, tapi berapa banyak dari kita yang memahami  makna dari hadits ini? berapa banyak dari kita yang memahami latar belakang dan implikasi dari hadits ini?

Saya sendiri sebagai laki-laki mungkin tidak akan pernah memahami latar belakang hadits ini secara penuh, karena hanya kaum ibu yang tahu persis apa yang dialaminya saat menjadi seorang ibu. Sebelumnya saya utarakan pendapat saya, seorang wanita menjadi ibu setelah jelas bahwa dia mengandung janin, bukan saat setelah melahirkan. Seoran ibu menjadi ibu sejak mengandung hingga dia meninggal dunia, bahkan saat anaknya mendahului dia, dia tetap seorang ibu. Saya katakan tidak dapat memahami secara penuh karena saya mengalami sendiri mendampingi istri saya yang mengandung selama 9 bulan lebih.

Akhir 2012, setelah berulangkali rencana kami tertunda untuk menyapa kabut di puncak Gunung Gede, pada waktunya kami sampai juga disana. Sebelum naik, istri saya sudah telat beberapa hari dari jadwal "bulanannya". Tapi dengan tawakkal kami tetap menjalankan rencana kami, tanggal 30 Desember 2012 saya sampai di Puncak Gede. Sedangkan istri memasak di Surya Kencana berteman Edelweiss dan beberapa teman dari Bapala (kelompok pencinta alam di kota Bogor). Udara yang dingin membuat dia urung ke atas puncak. Jalur Gunung Putri yang kami lewati memang termasuk berat bagi kami berdua yang termasuk pemula untuk gunung diatas 2000 mdpl.

Sepulang dari Gede, istri tidak juga kedatangan tamu bulanannya. Kami memutuskan untuk ke dokter di Bogor, berdasarkan hasil USG, dokter mendapati ada titik kecil di dalam rahim istri saya. Meskipun ada sedikit keraguan, kami tanamkan keyakinan bahwa dia sudah ada. Akhir januari di Pontianak kami kembali cek ke dokter, berdasarkan pengamatannya dengan USG lagi, dokter bisa mengambil kesimpulan seorang janin tengah tumbuh di dalam rahim istri saya. Saya sangat bahagia, dan tentu saja ada yang lebih bahagia, istri saya.

Rencana penelitian kelapangan kami undur, mengingat kondisi jalan yang tidak memungkinkan. Kondisi jalan yang entah sampai kapan akan beres (berdasarkan ingatan saya, mulusnya jalan yang di bangun di pedalaman Kalimantan Barat tidak pernah bertahan lebih dari satu semester). Maret, saya turun sendiri ke lapangan untuk mengambil data penelitian studi S2 saya. Dari perjalanan tersebut saya mendapatkan bukti dari omongan banyak orang tentang rusaknya jalan satu-satunya yang menghubungkan Pontianak dan Sintang. Kerusakan terjadi di wilayah Sanggau hingga Sekadau.

Pulang dari Sintang, saya kembali menemani istri saya. Perutnya mulai membesar, berat badannya sedikit demi sedikit mulai naik. Jika pada awal (sebelum mendapat kepastian dari dokter) kehamilan istri saya, justru saya yang sering mual, pada beberapa bulan setelah di Pontianak dia mulai sering sekali mual. Bahkan sedikit saja ada bau makanan dia merasa mual, tidak perduli makanan apa pun itu. Hal ini membuat dia susah makan, tidak banyak pilihan makanan yang dapat mengenyangkan perutnya. Meskipun demikian dia tetap berusaha untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Apa yang dimakannya akan menjadi makanan bagi calon bayi kami. Jika dia tidak makan, tidak akan ada nutrisi bagi putra kami.
Menurut orang-orang dan artikel-artikel yang kami baca, pada bulan kelima rasa tidak nyaman tersebut akan berhenti. Namun pada bulan keenam rasa tersebut baru mulai berkurang.

Seorang Putra, kami mengetahuinya pada bulan kelima berdasarkan pengamatan dokter. Sebagai orang tua tentu tidak masalah bagi kami, laki atau perempuan, tetapi sebagai seorang laki-laki saya tidak dapat menyangkal kebahagiaan saya untuk mendapatkan seorang putra.

Pada bulan kelima tersebut, perut yang semakin membesar semakin terlihat dan lebih jelas lagi pada bulan keenam. Pergerakan istri saya semakin terbatas karena berat badan yang semakin besar. Pada suatu saat kakinya membesar, cukup besar untuk menimbulkan kekhawatiran kami. Cek up bulanan sebenarnya sudah kami lakukan, tapi melihat kondisi kaki istri saya, kami putuskan untuk membawanya cek up ke bidan. Dari bidan kami ketahui bahwa kondisi ini biasa terjadi pada ibu-ibu hamil, untuk menghindarinya usahakan agar pada saat duduk kaki tidak tergantung. BUlan ke tujuh hingga delapan istri saya tidak kuat untuk berjalan jauh. Bergantung sebentar saja saat duduk mebuat kakinya  membengkak, lebih sering.

Pertengahan juni saya kembali ke Bogor untuk meneruskan tugas penulisan tesis. Untuk pertama kalinya saya merasa sangat berat untuk meninggalkan kota kelahiran saya, sebagian diri saya tinggal di sana. Walau berat, tidak ada pilihan lain karena saya harus menyelesaikan tugas belajar saya. Melalui telpon, sms, dan fb kami selalu terhubung setiap hari. Meskipun rindu jauh lebih besar, paling tidak tidak komunikasi kami sedikit mengisi hati yang sepi.

Hanif Edelweissar, sebuah nama yang pada waktunya kami sepakati untuk menjadi nama putra pertama kami. Hanif, adalah sebutan Allah kepada Ibrahim  'alaihi salam, pada masa Islam berarti Muslim yang lurus. Nama yang akan pada rencana kami akan kami tulis di akta kelahirannya dengan harapan ia akan menjadi seorang muslim yang lurus dalam agama dan hidupnya. Edelweiss adalah bunga yang hanya tumbuh di ketinggian gunung, berasal dari bahasa Jerman. “Edel” yang berarti mulia, dan “Weiss” yang berarti putih. Seperti saya ceritakan diatas, kami sempat mendaki Gunung Gede dimana edelweiss tumbuh dengan subur. Dan saat pendakian itu, Hanif telah ada di rahim ibunya selama satu bulan.

Karena perkiraan lahir telah dekat (28 Agustus 2013), maka saya memutuskan untuk pulang ke Pontianak. 27 Agustus 2013 saya berangkat dan tiba Pontianak, Hanif Edelweissar lahir tanggal 29 Agustus 2013. Berteman Ridwan, dia menunggu kami di depan pintu Firdaus.

2 comments:

  1. ternyata adx udah resmi jadi bunda y da, walau belum pernah gendong dedek... :')

    ReplyDelete