Wednesday, August 14, 2013

Lebaran 2013 - Ngegembel di Soekarno-Hatta

Air mengalir perlahan menuruni permukaan kaca bus yang saya tumpangi, hujan deras mengguyur Jakarta. Seperti biasa, hujan atau tidak didalam bus tetap dingin. Saya sendiri tetap akan  menutup saluran AC yang ada di atas tempat duduk saya. Duduk di belakang keranjang besar tempat penumpang menitipkan tasnya, tidak ada yang bisa saya lakukan. Ingin membaca buku yang sengaja saya bawa juga tidak bisa saya lakukan, karena supir mematikan lampu yang mungkin memang seharusnya dimatikan.

Suasana di Terminal 1 B Bandara Internasional Soekarno - Hatta
Perjalanan menuju Soetta kali ini lebih cepat dari biasanya, karena Jakarta sedang sepi. Jutaan manusia yang mencari nafkah di kawasan yang sempit ini sedang mudik ke berbagai wilayah di Indonesia, saya sendiri tidak mudik. Memutuskan untuk menyelesaikan studi sebelum pulang dan insyaAllah menyambut anak pertama saya.

Memasuki kawasan bandara, bus mengarah masuk ke terminal 3. Tapi bus tidak bisa masuk ke dalam terminal karena ada masalah teknis pada portal masuk, portal tidak mau membuka, mungkin sempat 15 menit menunggu hingga akhirnya terbuka. Saya hanya menyaksikan pemandangan yang biasa saja saat bus melewati terminal ini.
Selanjutnya bus memutar dan kemudian memasuki terminal 1, berhenti di 1A, kemudian saya bertanya dimana terminal untuk pesawat KalStar yang dijawab oleh kondektur bus di terminal 1C. Saat memasuki terminal 1B saya langsung bergerak untuk turun, setelah sempat di beritahu penumpang yang lain bahwa terminal yang saya tanyakan tadi belum sampai. Saya hanya membalas dengan senyuman karena saya ingin tahu terminal Sriwijaya dan menanyakan tiket pesawat. Dan berdasarkan pengamatan saya terhadap lokasi terminal 1B relatif terhadap terminal 1A yang tidak terlalu jauh, saya berkesimpulan terminal 1C tidak akan jauh dari 1B. Setelah tahu lokasi loket Sriwijaya, saya tidak langsung menanyakan tiket, tapi langsung mencari ayah saya. Beliau sedang menunggu di depan pintu yang digunakan pilot dan pramugari Citilink (saya lupa nama komplek pertokoannya).

Beliau mengatakan ada tiket Singa untuk malam ini seharga 1jt lebih. Bagi saya itu lumayan mahal, kemudian saya mengajak ayah saya untuk menanyakan tiket Sriwijaya di loketnya. Kami berjalan dari 1C ke 1B, sesampainya di sana ayah langsung menanyakan tiket untuk malam ini dan besok pagi yang ternyata penuh. Kami kembali lagi ke 1C untuk memikirkan kembali rencana kami besok, mengingat malam ini mau tidak mau kami harus menginap di bandara karena ayah tidak tahan dengan dinginnya AC bus. Matras lapangan yang sengaja saya bawa saya lepaskan dari ikatannya dengan dengan tas saya, lalu membentangkannya untuk tempat tidur beliau.

Saya kemudian menghubungi istri saya yang sedang berada di Pontianak, menceritakan pengalaman saya hari itu. Lebaran 1 Syawal yang lain dari biasanya. Waktu habis di jalan, bukan bersilaturahmi dengan keluarga. Karena masih juga bingung dengan rencana besok, saya minta tolong kepada istri saya untuk mengecek tiket pesawat untuk besok. Dia menyanggupi dan langsung menyalakan laptop, membukan halaman resmi Sriwijaya. Memasukkan tanggal 9 Agustus 2013, dan ternyata masih ada tiket untuk sore jam 15.35. Saya langsung mengkomunikasikannya dengan ayah saya, beliau langsung setuju. Saya pun meminta uang yang beliau pegang untuk membeli tiket dan meminjam KTP beliau. Saya langsung pergi sendiri ke loket penjualan tiket Sriwijaya dan membeli tiketnya. Setelah itu kembali ke tempat ayah saya menunggu.

Saya kemudian mengeluarkan buku yang saya bawa untuk mengisi waktu penantian untuk besok hari. Beberapa orang berlalu-lalang dari dalam pusat pertokoan di belakang kami, hanya sedikit yang mengalihkan pandangannya kepada saya dan ayah saya yang terbaring di atas  matras. Suasana di tempat kami tidak seramai di bagian bawah, saya masih melihat orang-orang berkerumun, mungkin masih menunggu penumpang pesawat malam yang entah dari mana hingga tengah malam. Lewat tengah malam suasana bandara baru sedikit sepi. Beberapa kali saya meninggalkan ayah saya untuk pergi ke toilet dengan hati yang was-was karena khawatir ada yang mengganggu barang-barang kami, walaupun ayah menjadikan tas saya sebagai bantalnya.

Tidak adanya yang menegur kami saya anggap sebagai legitimasi bagi kami untuk menduduki tempat kami saat itu. Di sisi seerang kami duduk beberapa orang yang awalnya saya pikir dari Afrika, tapi setelah melihat gambar-gambar dibajunya dan sedikit bicaranya saya berkesimpulan mereka dari Papua. Tempat mereka kemudian diisi dua orang pria dewasa setelah mereka pergi, dan kemudian diganti lagi beberapa pemuda. Saya tetap di posisi yang sama, membaca. Ngantuk perlahan merayapi kesadaran saya, saya kemudian menawarkan sleepingbag yang terdapat di dalam tas untuk dijadikan selimut. Tas di sodorkan kepada saya, buntalan lembut saya keluarkan dan membukanya. Ayah masuk ke dalam sleepingbag yang dan tidur. Saya sendiri memakai jaket dan menjadikan tas saya sebagai sedikti sandaran, hanya untuk sedikit bersandar dan tidak kedinginan oleh lantai. Kami pun tertidur.

0 comments:

Post a Comment