Sunday, August 11, 2013

Lebaran 2013 - ATM Tertinggal

Seharusnya sekarang lagi ngrejain tesis walaupun sedikit-demi sedikit, tapi rase ade barier yang bikin ndak mood. Ada satu masalah juga, baru beli mouse malah ternyata susah dipakai juga, klik sekali jadi klik dua kali, Stress!

Satu pelajaran lagi yang seharusnya tidak perlu, sebelumnya saya beli terminal USB empat socket, ternyata hanya dua yang bisa dipakai, yang lainnya tidak connect. Waktu beli sebenarnya ada dua pilihan, satu berwarna putih empat socket linear harga 25rb, satunya lagi transparan empat socket, masing-masing sisi satu socket seharga 15 ribu, ini yang saya beli. Waktu saya tanya ke yang jual, dia bilang sama saja, beda model doang. Saya belilah yang murah, ternyata harga tidak bohong. Sekarang karena mau berhemat dengan membeli mouse yang murah malah tidak bisa dipakai juga. Jadi rada males mau ngulik peta yang pastinya lebih cepat kalau pakai mouse yang sehat. Harus beli mouse lagi, yang rada mahalan!

Oke lupakan mouse, sekarang cerita lebaran tahun ini! Lebaran paling luar biasa sepanjang hidup saya sampai saat ini. Untuk pertama kalinya saya berlebaran Idul Fitri jauh dari keluarga, bahkan dari istri saya sendiri. Sebenarnya puasanya juga jauh dari keluarga, tapi ceritanya lebih panjang dan mungkin setiap harinya hanya pengulangan hari-hari sebelumnya, jadi nanti saja ceritanya. Yang jelas, ramadhan kemarin mungkin yang terbaik dari yang sebelum-sebelumnya, karena saya mungkin hampir bisa dikatakan benar-benar berpuasa, tanpa hidangan-hidangan yang wah seperti saat saya ada di tengah-tengah keluarga saya, tidak ada kue-kue, stop pisang, kolak (ada juga beli di dekat rumah, tapi hanya dua kali saya beli), minuman-minuman dan lain sebagainya. Benar-benar puasa yang sederhana.

Kembali ke lebaran, H-2 lebaran karena satu dan lain hal saya diminta menjemput ayah saya di rumah kakek di Jakarta. Saya pun pergi sendiri dan setelah sampai saya langsung pamit untuk membawa beliau ke Bogor. H-1 saya mengajak ayah saya untuk jalan jalan ke kota Bogor, kami pun pergi menggunakan sepeda motor, dengan tujuan kebun raya bogor. Setelah sekitar dua jam berjalan-jalan dan bersantai, hujan lebat mengguyur Kota Bogor, kami berteduh di gerbang masuk KRB menunggu hujan reda. Setelah reda kami langsung pulang ke rumah.

Suhu udara turun dan langsung mempengaruhi ayah saya yang memang berasal dari daerah panas di kota Khatulistiwa, Pontianak. Badannya langsung merasa tidak nyaman, kedinginan dan mungkin masuk angin. Dari sini kami sudah berfikir sebaiknya beliau pulang ke Pontianak mengingat kondisi udara yang sepertinya sangat tidak cocok dengan beliau. Saya mengecek tiket kapal, semua kosong sampai tanggal 15 Agustus, dengan kondisi yang kurang fit seperti saat itu, mungkin riskan juga jika harus pulang meggunakan kapal. Tiket pesawat rasanya tidak terjangkau, adapun yang murah, yaitu pas 1 Syawal pagi pukul 6, tentu saja ini bertepatan dengan shalat Id. Akhirnya saya putuskan untuk melihat perkembangan beliau dan tiket pesawat besok.

Hari lebaran saya shalat di lapangan parkir kampus, sepulang dari shalat saya langsung pulang kerumah. Ayah saya masih kurang nyaman dengan udara yang dingin, dan mencoba menghangatkan badan dengan berjemur di bawah sinar matahari pagi. Hingga siang kondisinya tidak juga membaik, dan membuat saya sendiri khawatir. Beliau akhirnya memutuskan untuk berangkat ke bandara dan mencari tiket di sana, karena untuk mendapatkan tiket di agen-agen perjalanan mungkin sangat sulit karena bertepatan dengan lebaran, semua agen tutup.

Selepas shalat zuhur kira-kita jam 1 kami berangkat minggalkan rumah menuju kota Bogor. Perjalanan menggunakan angkot sekali transit di terminal Laladon, lanjut ke Baranangsiang. Kami turun di depan Botany Square, saya langsung membeli karcis bus Bogor-Soetta (Rp45rb). Lalu saya masuk ke dalam Botany Square untuk menanyakan tiket di counter penjualan tiket resmi Garuda Indonesia, saya berharap mungkin ada tiket tersisa yang dimurahkan karena tidak ada yang membeli. Tapi harapan tinggal harapan. Saya kembali ke ayah saya, kami naik ke atas bus.

Saat baru saja terduduk saya mengecek keberadaan atm, kegusaran langsung menyergap pikiran saya yang sedang gusar juga, tapi yang ini lebih parah. kartu atm saya tidak ada di dompet, saya baru ingat sempat mengeluarkannya saat akan menjemput ayah saya di Jakarta. Akhirnya kami sepakati beliau jalan dulu ke bandara, dan saya pulang dulu ke rumah untuk mengambil ATM. Karena dengan perhitungan singkat saya yakin uang yang kami pegang tidak akan cukup. Mungkin cukup untuk membeli tiket pesawat kalau memang ada, tapi tidak akan cukup untuk saya pulang ke Bogor, atau kalau kami harus lebih lama di bandara menunggu tiket tersedia.

Saya pun pulang kerumah dengan membawa persaan dongkol kepada diri sendiri kenapa bisa sampai seteledor itu. Sampai dirumah kira-kira pukul 16, saya langsung shalat ashar. Segera setelah mengambil yang tertinggal dan mencabut rice cooker saya langsung meninggalkan rumah dan berangkat kembali ke terminal damri, mengulangi perjalanan yang sebelumnya bersama ayah saya.

Sampai di terminal langsung menuju atm center, mengambil uang, lalu belanja di Giant Boqer. Dua roti besar dan satu botol air setengah liter saya rasa cukup untuk persediaan makan di bandara sampai besok. Selesai belanja saya langsung menuju bus damri yang kemudian segera bergerak menuju bandara Soetta.

(ini hanya coretan cerita pribadi, semoga ada pelajaran yang bisa diambil, kalau tidak menarik, jangan teruskan membaca... hehe...nyambung lagi nanti)

0 comments:

Post a Comment