Monday, July 29, 2013

NatGeo, antara Bogor-Jakarta

Berawal dari sebuah pengumuman di fb, saya langsung mendaftar untuk menjadi peserta dalam sebuah acara yang di selenggarakan oleh Natgeo. Pertimbangan saya untuk langsung mendaftar adalah adanya kenang-kenangan untuk 100 pendaftar pertama. Saya menjadi pendaftar yang ke 42. Pengumuman tersebut saya share di salah satu grup yang saya ikuti, ada dua orang dari anggota grup itu yang ikut mendaftar. Dua orang tersebut membuat saya sedikit gembira karena paling tidak ada dua orang yang saya kenal akan ikut acara tersebut. Acara tersebut di langsungkan di Jakarta, sementara saya agak parno untuk pergi sendirian ke Jakarta.

Hari H-1, saya baru ingat kenapa tidak mengajak teman yang lain. Kemudian saya mengajak seorang teman yang tinggal di Tangerang, tapi ternyata dia ada acara keluarga. Lalu mengajak teman sekampung halaman yang juga kuliah di Bogor... sudah ada janji. Akhirnya saya pergi sendiri juga.

Hari H, pagi saya bangun agak malas. Ada rasa bimbang untuk berangkat ke Jakarta hanya untuk mengikuti acara itu, ada rasa enggan kenapa hanya untuk dua buah majalah gratis itu saya harus jauh-jauh ke Jakarta. Sampai jam 9-an saya masih bimbang. Akhirnya saya pikirkan lagi apa yang menjadi tujuan mengikuti acara itu. Mengingat-ingat niat awal yang sepertinya terlupa.

Sejurus kemudian saya ingat, yang saya butuhkan adalah ilmunya. Lalu kapan lagi saya bisa ketemu dengan kru NatGeo Indonesia walaupun hanya bertemu saja tanpa interaksi lebih jauh. Mungkin karena judul hari ini adalah berjalan jauh, saya masih memasukkannya sebagai kegiatan merantau juga. Walaupun sebenarnya tidak jauh-jauh amat. Karena berhubungan dengan Merantau, saya buka bungkus plastik buku Rantau 1 Muara yang telah lama saya beli. Sebenarnya buku itu ingin saya kirim ke Istriku di Pontianak, saya ingin dia duluan yang membacanya.

Terbuka ingatan saya akan sebuah cita-cita perantauan yang telah lama menggenang di kepala saya demi membaca buku bersampul biru tersebut. Ahmad Fuadi memang berhasil mebuat saya terpesona dengan tulisannya, Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan sekarang... Rantau 1 Muara. Rasa tercambuk harga diri saat menyadari bahwa untuk ke Jakarta sendirian pun saya enggan, mungkin saya khawatir. Bagaimana mungkin saya akan merantau lebih jauh jika untuk pergi sejauh 60 km saja saya harus khawatir seperti ini. Akhirnya saya putuskan untuk berangkat, meskipun sendiri.

Secepatnya saya berkemas, pakaian-pakaian kotor yang telah menumpuk bisa menunda beberapa hari lagi. Selesai merapikan diri, saya keluar dari dalam rumah ke teras. Mengunci pintu, lalu memasang sepatu. Seperti biasa, setelah turun dari teras saya akan kembali mengecek apakah pintu sudah dikunci dengan benar. Mungkin ini adalah salah satu bentuk sifat saya yang agak peragu dan pelupa, tapi mungkin akan lebih nyaman kalau kita sebut sebagai kehati-hatian saja.

Dua langkah dari teras saya memandang ke bawah, lem sepatu telah lepas bagian depannya. Beberapa centimeter  lagi akan membuat bagian depan sepatu ini menganga. Seharusnya malam sebelumnya saya membeli lem untuk memperbaikinya, tapi.. kembali lagi.. pelupa. Semoga sepatu ini masih kuat untuk berjalan beberapa ratus meter hari ini, doa saya dalam hati.

Perjalanan dari rumah hingga ke stasiun Bogor memakan waktu 45 menit. Meskipun macet seperti biasa, saya bisa santai didalam angkot. Masuk ke dalam area stasiun saya langsung ke loket untuk membeli tiket kereta tujuan stasiun juanda. "Juanda Pak", ujar saya pada petugas layanan penjualan tiket di dalam ruangannya. Layar komputernya menunjukkan angka Rp. 45oo, saya mengeluarkan uang selembar Rp5rb. Dengan wajah datar dia menerima uang 5rb dariku, mengembalikan Rp.500 bersama sebuah kartu dengan ukuran seperti kartu ATM. Saat itu baru saya merasakan perubahan kebijakan KRL Jabodetabek, saat pertama dan kedua kali saya menggunakan KRL, tarifnya Rp.7rb untuk ke Jakarta Kota. Kali ini kalau tidak salah hanya R5b, sedangkan saya yang ke Juanda hanya Rp. 4500. Lepas dari portal tiket yang dijaga beberapa satpam berhelm putih seperti Provost, saya mencari mushala untuk shalat zuhur. tidak sulit menemukan tempat shalat tersebut.

Sekitar pukul 14 saya sampai distasiun Juanda, waktu satu jam lebih di dalam kereta saya habiskan untuk membaca buku yang baru saya buka bungkusnya tadi pagi. Masih ada satu setengah jam menuju 15.30 saat acaranya akan dimulai. Saya berjalan mencari gedung yang dalam pengertianku adalah gedung kantor berita antara. Cukup lama saya berpegang dengan sangkaanku yang salah itu. Saya bertanya kepada penjual pulsa yang saya beli pulsanya, dia tidak tau. Sejurus kemudian saya melihat sebuah plang namajalan dari kios pulsa tersebut. Jl. Juanda 1, saya ingat sekali kalau jalan tersebut bertolak belakang dengan tempat yang saya tuju dengan stasiun kereta sebagai pembatasnya.

Saya pun bergerak ke jalan dibalik stasiun, di jalan saya bertanya pada seorang pria dimana gedung Antara. Dia bilang saya salah jalur. Namun saya tidak percaya padanya, saya terus saja berjalan sembari mengingat peta yang kulihat di Google Map, dan sambil membayangkan saya memegang smartphone. Berkhayal saya dapat mencari alamat tanpa susah dengan teknologi canggih yang sekarang menjadi bagian keseharian masyarakat modern, tapi bukan saya. Seorang pria dewasa berdiri di depan sebuah gang kecil, saya bertanya padanya. "Disebelah sana", jawabnya tanpa keterangan yang lebih jelas. Seorang pria lainnya datang mengendarai motor dan berhenti tepat di depan oria yang pertama tadi. Dia ikut menjawab, "Ini lurus, belok kanan, ntar ketemu gedung Antara disana", jawabnya terburu-buru karena dia harus mengantar bapak yang pertama tadi. Saya kembali berjalan lurus kedepan, beberapa orang remaja dinasti Chin sedang bercengkrama di ujung jalan.

Keluar dari gang tadi saya ke kanan, bertanya pada seorang penjaga parkir. "Tidak tahu", jawabnya singkat dengan ekspresi yang ramah. Lanjut jalan, saya menghentikan langkah seorang yang berumur,"Maaf pak, gedung Antara disebelah mana ya pak?". "Gedung Antara nggak tau, tapi itu disitu ada jalan Antara", jawabnya. Saya langsung bergerak lagi setelah bapak tadi melanjutkan perjalanannya. Masuk ke dalam jalan Antara, setelah berkali-kali bola-balik, baru saya menemukan gedungnya. Padahal gedung itu sudah kulewati 4 kali, bahkan saya sempat bertanya pada seorang pemuda (20thn) yang berdiri di depan gedung tersebut, dan dia tidak tahu. Setelah saya ada didalam ruang tempat kegiatan saya baru berpikir, saya salah nama gedung. Seharusnya gedung Galeri Foto Jurnalisme, malah saya bilang gedung Antara.

Saya peserta yang pertama datang, bingung untuk menempatkan diri dimana sementara panitia masih sibuk dengan persiapan kegiatannya. Akhirnya saya duduk dengan meminjam satu kursi kantor dibalik meja resepsionis gedung. Kembali larut dalam petualangan Alif dari Danau Maninjau.

Acara molor sekitar 35 menit dari jadwal yang dipublikasikan, moderator dan narasumbernya terlambat datang. Selain dari keterlambatan itu, saya melihat acara ini sangat bagus, cukup membuka wawasan walaupun dengan waktu yang singkat. Beberapa kuis yang diberikan memberikan hadiah yang mungkin nilai intrinsiknya tidak terlalu besar, tapi nilainya sebagai merchandise dari media sekelas National Geographic tentu akan sangat tinggi bagi yang mendapatkannya.

Satu peristiwa yang sungguh konyol terjadi pada saya, saat ingin menjawab satu pertanyaan kuid dari moderator, "Kapan NatGeo Society pertama berdiri?". Padahal saya sudah mengetahuinya dengan sangat yakin, tahun 1888, sayangnya tidak saya ulang-ulang untuk sekedar bersiap menjawab. Saya memang ingin bersiap karena saya ingin mendapatkan satu merchandise dari acara ini. Namun memang kalau sudah Allah SWT punya ketentuan lain, tidak ada yang sulit bagi-Nya. Spontan saya menjawab 1988, beda 1 abad dari jawaban yang sebenarnya, betapa perubahan satu angka menjadi sangat bernilai. Menguaplah harapanku untuk mendapatkan satu tas gantung berisi NatGeo Indonesia dan NatGeo Traveler edisi terbaru. Mungkin ada orang lain dibelakangku yang lebih berhak untuk mendapatkannya.

Saya telah melapangkan dada saat panitia mengumumkan sesuatu, bahwa sebelum peserta berdatangan dan acara dimulai mereka telah menempelkan beberapa stiker yang menjadi penanda dia adalah orang yang beruntung untuk mendapatkan merchandise berupa jaket dan tas pinggang NatGeo. Saya langsung melongok kebawah kursiku, dan Allah telah menanamkan perasaan yakin padsaya. Alhamdulillah, rezekiku setelah berangkat dari Bogor adalah ilmu yang insyaAllah bermanfaat, 1 natgeoindo dan 1 ng.trav ed juni gratis, 1 ngi. ed juli dengan discount 20%, sebuah tas gantung 125 tahun natgeosociety yang didalamnya ada jaket, tas pinggang, dan topi ng. Dalam perjalanan pulang saya masih merutuki diri kenapa tidak bisa menjawabnya, tapi Alhamdulillah saya masih ingat untuk bersyukur bahwa saya mendapatkan rezeki yang jauh lebih besar dari hadiah yang tidak bisa saya dapatkan karena jawaban salah yang sekonyong-konyong keluar dari mulutku.
Cukup banyak pelajaran yang saya dapatkan kemarin,


  1. Berani untuk bepergian, untuk yang satu ini saya berterimakasih kepada penulis buku yang membangkitkan keberanianku untuk melangkah, yang saya baca selama perjalanan, yang saya selesaikan tadi pagi, kurang dari 24 jam saya menyelesaikannya.
  2. Jika Allah SWT berkehendak apa saja bisa terjadi, jawaban yang sudah di kepala dan tinggal diucap, berubah seketika, saya membayangkan bagaimana saat kita sakaratul maut. Jika selama hidup kita tidak membiasakan menjaga lisan, akan sulit bagi kita menjaga lisan saat akan menghadapnya.
  3. Sabar, Allah SWT selalu bersama orang sabar, setelah saya mengikhlaskan jawaban salahku, Allah langsung menjawabnya dengan rezeki yang lain yang jauh lebih besar.
  4. Sedekah adalah mengubah sesuatu yang kita pegang menjadi sesuatu yang kita miliki dengan sebenarnya.


Diatas semua itu adalah kehendak Allah SWT semua kejadian  setiap alam dan manusia.

3 comments:

  1. banyak ibroh perjalanan kali ini y sayang... seruuu :D
    selama niatnya baik, hasilnya juga baik, insyaallah...

    cm sedikit masukan sbg pembaca ni da, ada baiknya disesuaikan kata gantinya, mau aku atau saya. soalnya di awal kan pakai saya, klo tiba2 berubah jd aku jadi berasa orang yg berbeda da... ;)

    ReplyDelete
  2. iya dx, udah di perbaiki... banyak salah ketik juga... :D

    ReplyDelete